Press "Enter" to skip to content

Asal Mula Tradisi Belajar Alquran di Pesisir Gresik-Lamongan

Tradisi belajar Alquran di Gresik dan Lamongan berlangsung sejak abad ke-11.

REPUBLIKA.CO.ID, Islamisasi kawasan pesisir Pulau Jawa, terutama di Gresik dan Lamongan, Jawa Timur, telah berhasil menancapkan nilai-nilai keislaman dalam sendi kehidupan masyarakat. Pesisir utara menjadi gerbang utama dalam penyebaran kebudayaan masa awal masuknya Islam. Pada abad ke-11, di Gresik misalnya telah terdapat berbagai komunitas beragama Islam, yang kebanyakan adalah kaum Arab Hadrami.

Menurut Muhammad Barir, dalam bukunya yang berjudul Tradisi Al-Qur’an di Pesisir: Jaringan Kiai dalam Transmisi Tradisi Al-Qur’an di Gerbang Islam Tanah Jawa, menjelaskan kaum Hadrami, sebutan untuk orang Hadramaut, Yaman Selatan itu membawa tradisi mereka ke Nusantara, termasuk agama mereka. Alquran yang menjadi pedoman utama mereka ikut terbawa ke dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Komunitas Muslim itu terus membangun relasi terbatas di area pesisir, sehingga Islam pun menyebar. Pendidikan Alquran saat itu menjadi kewajiban pertama setelah syahadat, karena untuk melaksanakan shalat dibutuhkan bacaan Alquran yang baik.

Karena itu, buku ‘Tradisi Alquran di Pesisir’ ini menjelaskan bagaimana tradisi Alquran terbangun sebelum akhirnya tradisi ini diterima dan diteruskan, khususnya oleh masyarakat pesisir Jawa.

Penulis buku ini, mengungkapkan mata rantai ulama dan jaringan keilmuan mereka, khususnya dalam bidang Alquran dan ilmu pengetahuannya.

Alquran tersebut diajarkan melalui Langgar atau mushala dan juga diajarkan di pesantren. Masyarakat Jawa saat biasanya ngaji selepas senja setelah shalat Maghrib. Munculnya mega merah menandakan bahwa waktu belajar telah tiba.

Anak muda desa keluar dari pintu rumah mereka sembari membawa Alquran yang dipeluk tepat di dadanya. Mereka berangkat ngaji ke langgar-langgar desa yang sederhana untuk mempelajari Alquran yang ditulis dalam bahasa Arab.

Dalam metode pengajarannya, seorang guru ngaji membaca potongan huruf hijaiyah di hadapan muridnya. Sang murid kemudian mengikuti ucapan gurunya, tidak hanya sekadar suara, tetapi nada, ritme, dan bagaimana gerak bibir tempat huruf itu keluar sebagaimana semestinya.

Sebagaimana ngaji langgaran pada umumnya yang digambarkan Aboebakar Atjeh dalam buku Sedjarah Alquran, guru ngaji pada masa lalu melakukan pengajaran dengan sederhana. Tidak terdapat sistem khusus dan jadwal pasti.

Waktu yang dijadikan patokan untuk diingat adalah waktu-waktu yang menunjukkan saat shalat seperti bakda ashar dan bakda maghrib, pagi atau sore hari. Mereka biasanya belajar mengaji kurang lebih dua jam. Metode pengajaran Alquran di langgar mirip seperti sorogan yang biasa dikenal dalam pemebelajaran kitab kuning di pesantren.

Namun, sang guru ngaji tidak menarik biaya dalam proses pembelajaran Alquran itu. Ustaz langgaran itu mengajar secara ikhlas. Terkadang ada juga masyarakat yang membawa barang kebutuhan rumah tangga dan hasil tani untuk diberikan kepada guru ngaji yang mengajari anaknya.

Langgar menjadi awal pengajaran Alquran di Jawa. Selain mengaji di langgar, masyarakat pesisir utara juga mempelajari Alquran melalui pesantren. Tradisi Ngaji ala pesantren lebih bersifat kedekatan dan kekuargaan. Sifatnya lebih fleksibel dan tidak terlalu formal. Dalam buku ini, penulis banyak mengungkapkan tradisi pengajaran Alquran di pesantren.

Buku ini menelusuri terjadinya proses tansmisi dan transformasi tradisi Alquran di Gresik dan Lamongan yang bekembang pesat sejak abad 18 hingga abad ke-19. Perkembangan itu seiring dengan lahirnya pesantren-pesantren penting, khususnya Pesantren Sampurnan (dekarang dinamakan Qamaruddin) pada 1775 M dan Pesantren Kranji yang bediri pada 1898 M.

Kedua pesantren tersebut menjadi barometer peradaban Islam di pesisir. Hal ini bisa dilihat dari fakta sejarah mengenai kiprah dan peran sentral ulama yang lahir dari dari kedua pesantren tersebut dalam perkembangan Islam di Gresik dan Lamongan.

Dalam perkembangannya, Alquran tidak hanya menjadi kitab suci yang dipelajari dan dibaca, tetapi juga berhasil menciptakan masyarakat Alquran di pesisir itara. “Masyarakat ini menyertakan Alquran dalam kehidupan sehari-hari dan membuat Alquran sesuatu yang hidup,” kata Muhammad Barir.

Selanjutnya, masyarakat pesisir banyak yang mengekspresikan Alquran melalui ekspresi kelembagaan, artefak, seni, karya tulis, dan ritual. Ekspresi-ekspresi itulah yang ditangkap penulis dalam buku ini.

Hinggga kini, Gresik dan Lamongan kental dengan suasana Islami. Hal itu tak lepas dari peran pesantren dan langgar sebagai tempat belajar mengaji masyarakat pesisir. Susana Islami itu kemudian mempengaruhi perilaku masyarakat muslim di pesisir Gresik dan Lamongan.

Source

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: