Press "Enter" to skip to content

Bagaimana OVO Melesat hingga Bisa Menantang VC lewat Inovasi Perusahaan

Saat Lippo Grup meluncurkan e-commerce Matahari Mall di 2015 lalu hanya untuk gagal dalam waktu singkat, beberapa orang berpikir hal tersebut bisa saja terjadi kembali. Namun, salah satu keluarga konglomerasi paling kuat di Indonesia ini ternyata berhasil lewat aplikasi pembayarannya, OVO.

Dipelopori oleh pewaris Lippo yang berusia 33 tahun, John Riady, OVO berubah dari nol menjadi dompet elektronik terkemuka di Indonesia dalam waktu tiga tahun.

Data internal Bank Indonesia menyebut, mereka berhasil meraup 37 persen pasar dari total nilai transaksi pembayaran digital di Indonesia. Cukup tinggi jika dibandingkan dengan saingan terdekat mereka GoPay yang hanya 17 persen.

Bagaimana konglomerat ini membalikkan keadaan?

Di Matahari Mall, Lippo ingin mempertahankan kendali, sehingga menolak tawaran investasi dari luar yang cukup besar. Tetapi di OVO, mereka mengambil pendekatan berbeda: mereka dengan mudah menyerahkan sebagian besar bisnis e-wallet ke Grab dan Tokopedia, kata sumber yang mengetahui situasi tersebut kepada Tech in Asia.

OVO mendapat lonjakan besar pengguna ketika diintegrasikan ke dalam Grab, tambah sang sumber. Lippo memvalidasi pendekatan baru mereka yang bersedia melakukan apa pun demi memenuhi kebutuhan pelanggan – bahkan jika itu berarti mengurangi persentase kepemilikan mereka dari produk yang semakin membesar tersebut.

Sumber foto: KrAsia

Perbedaan lain dari Matahari Mall adalah bagaimana keluarga Riady memilih untuk bekerja sama dengan pihak eksternal, Boston Consulting Group Digital Ventures (BCGDV), untuk mengembangkan ide, prototipe, dan strategi go-to-market untuk OVO.

BCGDV adalah cabang perusahaan konsultan manajemen yang relatif baru. Didirikan pada 2014 sebagai entitas terpisah dengan struktur kemitraannya sendiri, ia merupakan persilangan antara konsultasi tradisional dan pengembangan usaha.

Alih-alih hanya memberikan panduan, BCGDV menyingsingkan lengan baju dengan terlibat langsung dalam penciptaan produk. Dan pada akhirnya, tim mereka tidak hanya menjadi konsultan perusahaan, tetapi juga desainer produk, programmer, ilmuwan data, ahli perekrutan, dan spesialis lainnya.

Model BCGDV menghadirkan alternatif bagi perusahaan besar yang ingin berinovasi dari dalam. Secara tradisional, korporasi semacam itu telah menempuh satu dari beberapa jalan: memulai atau berinvestasi di perusahaan modal ventura, menciptakan semacam program akselerator startup, atau membangun produk sendiri.

BCGDV menangani ruang lingkup penuh peluncuran startup, termasuk:

  • Proses pembentukan ide,
  • Riset pengguna,
  • Membangun prototipe,
  • Pemasaran, dan
  • Perekrutan.

Semua tergantung pada apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh kliennya. Sebagai gantinya, perusahaan membebankan biaya manajemen atau dapat berinvestasi bersama.

Perekrutan adalah bagian yang sangat penting

BCGDV membantu menempatkan tim pendiri untuk mengambil alih proyek sebelum menyerahkannya kepada klien. Biasanya, perekrutan semacam itu datang dari luar mitra perusahaan. Itu karena kemungkinan menemukan pengusaha dengan keterampilan dan mentalitas yang tepat akan lebih tinggi jika datang dari luar. Dalam kasus OVO, CEO Jason Thompson diambil dari Grab. Ia sebelumnya adalah kepala bagian pembayaran di Grab.

CEO Jason Thompson / Tech In Asia

BCG bukan satu-satunya perusahaan konsultan yang mengembangkan usaha. McKinsey & Company juga memulai Leap sekitar lima tahun lalu. Mereka menggabungkan tim desainer, engineer, dan banyak lagi multidisipliner. Namun, McKinsey tidak mau menanggapi langsung pertanyaan tentang proyek-proyeknya.

Karena itu, ketika datang untuk mencari teritori baru di Asia, BCGDV tampaknya memiliki keunggulan. Salah satu mitranya adalah Hanno Stegmann, mantan CEO Asia Pacific Internet Group, perusahaan patungan startup milik Rocket Internet.

Meski ia menolak berkomentar tentang OVO atau kemitraan tertentu, Steggman memberi tahu Tech in Asia kalau BCGDV saat ini sedang mengerjakan beberapa proyek dengan perusahaan-perusahaan terkenal di seluruh Asia Tenggara.

Baru-baru ini mereka melakukan pekerjaan yang berbasis di Singapura pada sebuah “startup teknologi perjalanan rahasia” untuk pencarian dan pemesanan kegiatan, didukung oleh “salah satu brand travel global terbesar,” yang akan merilis bisnisnya di awal 2020.

Tahun lalu, pengembang usaha itu meluncurkan hampir 30 usaha di seluruh dunia, dengan sekitar 5 hingga 10 di Asia Tenggara saja. Salah satunya adalah Boost, e-wallet populer yang terkait dengan perusahaan telekomunikasi Malaysia Celcom.

BCGDV memiliki tim di seantero Australia, Cina, dan Jepang, dengan pusat inkubasi di Singapura sebagai pos terdepan.

Ketika ditanya tentang rekam jejak perusahaan, Stegmann berkata BCGDV selalu diharapkan memiliki tingkat keberhasilan berkali-kali lipat daripada kebanyakan VC. Dengan kata lain, jika sebagian besar startup yang didukung VC akan gagal karena tingginya risiko, BCGDV melihat sebagian besar proyeknya bakal berhasil.

Itu karena klien korporasi mereka sudah besar, seperti Lippo Group telah memiliki keunggulan sumber daya yang signifikan dibanding startup yang didirikan secara independen. Sebagai contoh, sudah menjadi rahasia umum kalau keberhasilan pertama OVO merupakan pembayaran biaya parkir di properti Lippo. (Lippo adalah salah satu pengembang real estat besar di Indonesia).

Konglomerat juga memiliki hubungan dengan berbagai pengecer melalui Lippo Malls, memfasilitasi adopsi mereka terhadap e-wallet. Namun, tidak semuanya kemudian menjadi mudah, karena korporasi harus berurusan dengan birokrasi dan perang wilayah.

Ada beberapa pertanyaan yang mengganggu tentang bagaimana keberlanjutan OVO sebagai sebuah bisnis, dan sejauh mana subsidi pemasaran telah meningkatkan pangsa pasarnya (OVO tidak menanggapi pertanyaan Tech in Asia).

Meski demikian, kegagalan total jarang terjadi. “Sejauh ini, kami sangat yakin bahwa [prediksi tingkat keberhasilan terbalik] berubah menjadi kenyataan, dengan sebagian besar usaha yang dilakukan dengan baik dan sedikit yang ditutup,” tambah Stegmann.

Dia mengakui kalau sebenarnya sulit untuk membuat perbandingan yang setara antara VC dan BCGDV.

Kami tidak bisa memberikan nomor pengembalian portofolio seperti dalam pendanaan. Terkadang kami memiliki ekuitas, terkadang tidak.

Hanno Stegmann,
Mitra BCGDV

Tetapi perusahaan VC yang berbicara dengan Tech in Asia tidak melihat relevansi memudarnya peran mereka dalam waktu dekat. “Mitra terbatas korporasi bekerja dengan VC untuk mendapatkan akses ke arus transaksi dan intelijen pasar,” terang Kuo-Yi Lim, Managing Partner di Monk’s Hill Ventures.

Salah satu kantor BCGDV / kredit Foto BCGDV

Sementara BCG unggul dalam memberikan keahlian tentang industri tertentu. VC memiliki akses ke ladang ide startup yang luas. Investor lain yang meminta anonimitas mengatakan, beberapa korporasi dihadapkan pada pilihan biner: berinvestasi dalam startup atau membangun usaha sendiri.

Itu karena beberapa startup skeptis terhadap konglomerat yang melakukan keduanya. Karena mereka mungkin akhirnya menggunakan intelijen yang dikumpulkan untuk meluncurkan layanan kompetitor.

Sejarah dipenuhi dengan tuduhan semacam itu. Menurut Super Pumped, sebuah buku tentang sejarah startup, Pendiri Uber, Travis Kalanick, ketakutan ketika mengetahui kalau Google, salah satu investor besar di perusahaannya akan memperkenalkan layanan transportasi online dengan menggunakan mobil autopilot.

Amazon mendapat sorotan ketika meluncurkan produk yang mirip dengan salah satu perusahaan portofolionya.

Pada akhirnya, sementara VC akan terus memiliki peran penting dalam lanskap startup, kehadiran BCGDV juga dapat berarti bahwa lebih sedikit korporasi akan berbelanja secara royal pada inisiatif yang boros.

“Program akselerator perusahaan tidak benar-benar membesarkan bisnis. Itu lebih mirip proyek CSR di mana kamu melakukan sesuatu, tetapi tidak ada yang benar-benar berhasil,” kata Stegmann.


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Bagaimana OVO Melesat hingga Bisa Menantang VC lewat Inovasi Perusahaan appeared first on Tech in Asia.

The post Bagaimana OVO Melesat hingga Bisa Menantang VC lewat Inovasi Perusahaan appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: