Press "Enter" to skip to content

Bagaimana Startup Ini Bangkit Setelah Diterpa Isu Negatif

Akhir 2015 lalu, Hitesh Chawla dan startup miliknya yang berusia tiga tahun jadi sorotan global. Sayangnya sorotan ini jauh dari positif. Media besar seperti Wired dan The Atlantic mencap startup yang ia dirikan “mengerikan” dan “mengusik”, karena bisa mengakses mikrofon pada smartphone tanpa disadari pengguna.

Produk buatannya, Silverpush, dibuat agar developer aplikasi dan brand bisa mendengar iklan yang ditonton orang-orang di televisi. Dari informasi tersebut, pengguna smartphone akan disodorkan iklan mengenai produk terkait melalui fitur push notification.

“Kami tidak mengantisipasi ini,” Chawla menceritakan. “Karena sebenarnya tidak ada alasan untuk menjadikan ini sebuah kontroversi.”

Saat ditanya Tech in Asia terkait kejadian ini, Chawla mengatakan layanannya tidak melakukan hal yang salah. Produknya hanya menggunakan mikrofon smartphone untuk mendeteksi frekuensi iklan televisi yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia. Ia mengatakan bahwa produknya sama sekali tidak mengirimkan suara ke server Silverpush.

Ia juga menambahkan bahwa Silverpush hanya menangkap suara ultrasonik yang berada jauh di atas frekuensi suara manusia. Artinya, percakapan manusia tidak akan pernah terekam.

Tapi pada akhirnya Silverpush tetap mendapatkan respons yang sangat buruk, bahkan sampai layak diberikan satu bagian sendiri dalam artikel ini.

Menuai kontroversi

Kontroversi Silverpush berawal di 2016, ketika teknologi yang digunakan yaitu suar audio (audio beacons) untuk pertama kalinya diperiksa pihak berwenang. Pada Maret tahun itu (empat bulan setelah Chawla menuai kritik pertamanya), badan pengawas di Amerika Serikat bernama Federal Trade Commission (FTC) mengeluarkan surat peringatan untuk 12 developer yang menggunakan audio beacon di 15 aplikasi Android.

FTC sepertinya menemukan Silverpush karena startup tersebut punya badan hukum Amerika Serikat, meskipun sebenarnya bermarkas di Gurgaon, India.

“Aplikasi ini bisa mendengarkan suara di latar saat sedang diletakkan di atas meja, serta mengumpulkan informasi mengenai para pengguna tanpa sepengetahuan mereka,” ujar Jessica Rich selaku Direktur Bureau of Consumer Protection FTC. “Perusahaan seharusnya memberi tahu informasi apa saja yang mereka kumpulkan, bagaimana caranya, dan ke mana informasi tersebut akan disebarkan.”

Kebetulan di tahun yang sama, Facebook juga berada di tengah kontroversi karena sistem login pihak ketiga buatannya memberikan informasi pengguna ke developer lain. Ditambah dengan kontroversi Silverpush, tahun itu banyak orang jadi sadar bahwa data mereka bisa disalahgunakan dengan sangat mudah di internet.

Jika penjabaran Edward Snowden terkait pengawasan yang dilakukan negara membuat banyak orang terkejut, skandal Facebook dan Silverpush membuat masalah privasi online jadi fokus baru. Masyarakat kemudian sadar bahwa masalahnya ada di smartphone yang mereka genggam, tepatnya di aplikasi yang selama ini mereka percaya.

Terjun bebas dan kembali ke nol

Kontroversi tersebut berdampak besar ke Silverpush. Mereka kehilangan semua klien di seluruh dunia.

Setelah kejadian di awal 2016 itu, Chawla memutuskan untuk meninggalkan teknologi audio beacon Silverpush dan berusaha untuk menghindari kontroversi. Tapi tanpa produk yang bisa ditawarkan, klien pun ikut meninggalkan Silverpush.

Chawla akhirnya memutuskan untuk membuat layanan baru di sektor yang sama, teknologi pemasaran, karena ia paham akan potensinya.

Selama kontroversi berlangsung, ia beruntung hanya kehilangan 2 anggota tim (dari total 25 orang). Dua orang tersebut adalah seorang tenaga pemasaran yang memang tidak lagi diperlukan, serta co-founder yang lebih memilih menjual pengetahuannya tentang teknologi itu ketimbang membangun dari nol.

“Kami punya cara yang berbeda dalam menanggapi kontroversi ini,” Chawla menjawab terkait co-founder yang mundur. “Saya rasa pengunduran dirinya adalah kehilangan terbesar untuk perusahaan ini.”

Mulai dari nol, Chawla meminta tim software engineer untuk membuat sebuah layanan baru menggunakan pendapatan yang mereka peroleh sebelum kontroversi. Lalu di akhir 2016, berkat hubungan yang dibangun dengan perusahaan iklan dan developer lain, ia kembali menemukan klien untuk layanan barunya.

Layanan yang ia buat menggunakan teknologi dan metode yang berbeda. Dengan produk baru itu, startup miliknya bisa membantu perusahaan memahami dan mendapatkan data iklan yang dilihat oleh para pengguna smartphone.

Sekarang, Silverpush sudah bermitra dengan perusahaan-perusahaan besar di tiga belas negara. Perusahaan tersebut antara lain Unilever, Universal Pictures, Dyson, Pepsi, Nissan, dan KFC. Tapi ia menolak untuk membuka informasi finansial atau statistik lainnya.

Tantangan menangani kehumasan

Chawla mengaku bahwa ia dan perusahaannya tidak menangani kontroversi Silverpush dengan baik. Ini tentunya berimbas pada krisis humas yang berkepanjangan untuk perusahaannya.

“Kami awalnya mengabaikan artikel [dari media],” ujarnya mengenang reaksi awal ketika studi dari Center for Democracy and Technology Amerika Serikat muncul dan menjadi awal kontroversi. “Kami tidak tahu bahwa artikel itu akan viral.”

Ia menambahkan bahwa “saat itu India sedang di tengah musim festival, jadi tim kami juga sedang dalam liburan atau mood liburan. Karena itu kami tidak menganggapnya serius.”

Saat media India mulai meliput berita yang sama beberapa hari kemudian, Chawla sadar akan pertanda buruk yang akan menimpanya. Saat itu ia baru sadar harus mengatakan atau melakukan sesuatu lebih awal.

Tapi ia sudah terlanjur tidak melakukan apa-apa selama seminggu lebih. “Itu adalah kesalahan besar.

“Jika kami meminta bantuan sejak awal, perkaranya tidak akan seburuk itu,” kata Chawla menjelaskan. Berbeda dengan perusahaan teknologi lain seperti Facebook yang mungkin lebih siap, Silverpush tidak punya sumber daya yang menangani humas ataupun krisis.

“Kami mencoba menjustifikasi” teknologi yang digunakan, tapi itu tidak berhasil. “Sulit menjelaskannya ke orang-orang.”

Dengan lancar tapi tetap hati-hati dan apatis, Chawla mengaku bahwa ia belajar “banyak hal” dari pengalamannya menjadi sorotan negatif. “Pertama, selalu punya orang yang bisa membantumu dalam urusan humas. Tapi selain itu, kenali juga orang yang mengerti urusan hukum dan bisa memberikanmu nasihat atau konsultasi.”

Dua orang tersebut “penting dimiliki atau paling tidak dikenali ketika kamu ingin membangun sebuah perusahaan,” tambahnya.

Chawla mengaku bahwa ia baru mencari konsultasi hukum saat FTC merilis surat peringatan. Untungnya, badan pengawas tersebut tidak mengambil tindakan apa-apa setelah merilis peringatan tersebut.

“Pelajaran kedua, meski mungkin sudah terlambat, adalah tidak membuat produk yang bergantung pada suatu hal lain,” ia menjelaskan. “Dalam kasus ini, saya harus bergantung pada Android untuk selalu mengizinkan produk seperti Silverpush” untuk mengakses mikrofon smartphone pengguna.

“Bisnis saya saat itu memang berisiko. Meski bisa jadi perusahaan besar, kami pada akhrinya punya produk yang sangat bergantung pada kondisi perusahaan lain,” ujarnya menyinggung Google sebagai perusahaan lain tersebut. “Saat mereka tiba-tiba mundur, kamu dan perusahaanmu tidak punya apa-apa lagi.”

Investor pun takut dan ragu

Kasus Silverpush ini menimbulkan keraguan apakah para investor telah menelaah perusahaan yang masuk dalam portofolio masing-masing. Bahkan jika berbadan hukum pun, apakah perusahaan tersebut terlihat mencurigakan dan bisa menuai kontroversi di masa depan?

kisah-silverpush
Sumber: 123RF

Chawla mendapatkan investasi awal dari 500 Startups dan M&S Partners, sebelum akhirnya terjebak kontroversi. Tech in Asia sudah menghubungi 500 Startups mengenai investasi tersebut, tapi hingga saat ini belum mendapatkan balasan.

Kedua investor tersebut mungkin tidak punya masalah melihat Silverpush. Tapi beberapa calon investor lain sempat memperingatkan Chawla mengenai risiko yang diembannya begitu Android mengubah kebijakan mereka. Ketidakpastian itulah yang membuat banyak investor ragu berinvestasi ke startup ini.

Silverpush sendiri baru mendapatkan pendanaan sebesar US$5 juta di bulan Februari tahun lalu.

Pindah ke streaming

Jadi, apa yang dilakukan Silverpush sekarang? Apakah bisnis dan produk mereka jadi jauh berbeda daripada audio beacon yang rawan kontroversi terkait privasi pengguna seperti dulu?

Jawabannya adalah tidak juga. Produk baru Silverpush tetap tertanam di aplikasi para pengguna (tentu saja atas persetujuan mereka). Kamu mungkin tidak sadar bahwa teknologi mereka ada di salah satu aplikasi yang kamu gunakan. Tapi tenang saja, Chawla mengatakan kali ini produknya sangat transparan dan legal.

“Produk kami mampu mendeteksi atau menyamakan konten secara visual. Kali ini kami sama sekali tidak berurusan dengan audio.”

Ia menjelaskan bagaimana produknya memindai streaming video untuk memperlihatkan iklan yang relevan ke smartphone pengguna. Lalu, karena sadar akan masalah privasi, ia juga mengatakan bahwa pemindaian video ini tidak dilakukan di smartphone pengguna, melainkan di koleksi konten yang disediakan oleh klien dan disimpan di server Silverpush.

“Kami sama sekali tidak mengambil data pengguna,” Chawla menjelaskan. “Kami juga tidak mengambil tangkapan layar [dari smartphone pengguna],” lanjutnya ketika ditanya mengenai cara Silverpush mencari tahu apa yang sedang ditonton oleh pemakai ponsel.

Ia menekankan bahwa sistemnya sudah tahu apa yang harus dilakukan, mulai dari koleksi konten apa yang tersedia, sampai iklan apa yang harus diperlihatkan berdasarkan video dilihat pemakai ponsel. Tentu saja itu jika kamu menonton video yang ada dalam koleksi tersebut.

“Misalnya kamu menonton sebuah video di YouTube dan di video tersebut ada seseorang yang minum kopi. Dari situ kami akan menampilkan iklan Starbucks. Jadi secara teknis kami melihat dan mendeteksi apa yang ada dalam sebuah video dan menggunakan informasi tersebut untuk memperlihatkan iklan.”

Dalam contoh di atas, iklan kopi tersebut akan muncul di bagian bawah video mengikuti API YouTube.

Klien juga bisa menggunakan layanan Silverpush “untuk acara besar di mana iklan TV dan digital saling tumpang tindih,” Chawla menjelaskan. Misalnnya, sebuah iklan bir muncul di situs atau aplikasi yang kamu buka di smartphone, tapi iklan bir itu juga muncul di TV saat siaran bola.

Dalam kasus ini, Silverpush tidak melakukan pemindaian audio maupun visual, tapi langsung memperlihatkan iklan sama ke semua orang yang sedang menggunakan internet pada jam tertentu.

Apakah mereka menonton pertandingannya atau tidak bukanlah faktor yang jadi perhitungan. Tapi pada akhirnya cara ini masuk akal karena saat ini banyak orang yang bermain dengan smartphone mereka saat menonton televisi

Chawla juga optimistis terhadap posisinya di industri teknologi iklan. Perpindahan tren ke streaming online membuat data mengenai iklan apa yang ditonton oleh pengguna jadi lebih mudah diperoleh. Selain itu, mendapatkan konteks gambar dari pengguna internet juga lebih mudah dibandingkan TV.

Silverpush sekarang sudah bisa mendapatkan profit serta memiliki pegawai di Asia Tenggara dan Dubai. Selain di Asia, startup ini juga cukup aktif di tiga negara di Afrika berkat mitra lokal di negara-negara tersebut.

Chawla saat ini mengincar pasar Amerika Serikat dan sudah mulai merekrut pegawai di sana. Ia ingin membangun pangsa pasar di Amerika secepat mungkin, serta menghubungi investor saat ia punya angka pencapaian yang layak diperlihatkan satu tahun kemudian.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Yasser Paragian sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Bagaimana Startup Ini Bangkit Setelah Diterpa Isu Negatif appeared first on Tech in Asia.

The post Bagaimana Startup Ini Bangkit Setelah Diterpa Isu Negatif appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: