Press "Enter" to skip to content

Banjir Kali Lamong Meluas Rendam 4 Kecamatan di Gresik

Sedikitnya Tercatat ada tujuh desa di Kecamatan Balongpanggang tergenang banjir. Ketinggian genangan air berkisar antara 20-100 cm.

Kepala BPBD Gresik, Tarso Sagito menyebutkan, hingga Rabu sor, Kali Lamong statusnya masih siaga hijau. Ini dikarenakan sejumlah wilayah hulu Kali Lamong di Mojokerto Utara dan Gresik Selatan diguyur hujan lebat.

“Dengan durasi lama sehingga kondisi ini menyebabkan peningkatan Kali Lamong cukup signifikan. “Rabu pagi pukul 04.00, Kali Lamong mulai meluap dan menggenangi jalan lingkungan maupun persawahan di Desa Ngampel, Wotansari, dan Sekarputih Kecamatan Balongpanggang,” kata Tarso.

Di Desa Ngampel, kata dia Tarso, jalan lingkungan tergenang air setinggi 50 Cm sepanjang 300 meter. Areal persawahan juga tergenang. Hal yang sama terjadi juga di Desa Wotansari di Desa Sekarputih

Dikatakan, sedangkan dua desa masuk wilayah Benjeng diantaranya Desa Deliksumber dan Sedapurklagen. Sementara Kecamatan Cerme yakni Desa Dungus, dan Morowudi. Meski banjir, warga memilih bertahan di rumah.

“Sebab, warga masih merasa aman karena ketinggian air yang masuk ke rumah hanya 20 Cm. Kondisi tersebut sangat berbeda di jalan poros dimana, ketinggian air rata-rata mencapai 30 hingga 100 cm,” ujar Agus Setiawan, petugas patroli BPBD Gresik.

Untuk mengantisipasi banjir lebih parah, BPBD Gresik mendata rumah warga yang tergenang air. Mereka juga melakukan patroli keliling dengan menggunakan sekoci sambil membawa bantuan makanan untuk mensuplai warga yang terdampak banjir.

Terisah, Kapten Zainudin, Komandan Koramil Balongpanggang mengatakan, luapan Kali lamong Desa berdampak cukup besar di Desa Wotansari. Ketinggian air mencapai 60 cm hingga 1 meter. “Warga membutuhkan obat- obatan karena banyak yang terserang penyakit,” ujar Kapten Zainudin.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), Gunawan Setiaji mengaku, pihaknya telah berupaya maksimal lakukan penangan Kali Lamong agar tak kembali meluap. Baik dengan normalisasi skala kecil anak Kali Lamong maupun pengerukan dengan alat berat.

“DPUTR tak bisa normalisasi total karena terkendala dana dan lahan berada di sekitar bibir Kali Lamong,” kata Gunawan Setijadi. (yud/ris)

(sb/yud/jay/JPR)



Source

Gus Fik
Follow me

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: