Press "Enter" to skip to content

Berdialog dengan Susi Susanti, Presiden Jokowi Dengarkan Cerita Saat Berjuang Harumkan Nama Bangsa

Presiden berbincang dengan Susi Susanti dalam acara Perayaan Imlek Nasional “Bersatu Untuk Indonesia Maju” di ICE BSD, Tangerang, Kamis (30/1). (Foto: Humas/Anggun)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendengarkan cerita dari mantan pemain bulutangkis peraih medali emas, Susi Susanti, saat berjuang mengharumkan nama bangsa di kancah kompetisi internasional seperti olimpiade.

“Saya mau tanya Mbak Susi. Dulu saat pertama meraih emas di Olimpiade, apa sih yang dipersiapkan dan waktu dapat emas itu rasanya seperti apa? tanya Presiden kepada Susi Susanti dalam acara Perayaan Imlek Nasional “Bersatu Untuk Indonesia Maju” di ICE BSD, Tangerang, Kamis (30/1).

Dalam kesempatan itu, Susi Susanti menjawab bahwa dirinya berlatih antara 8 sampai 9 jam dan adanya dukungan dari Ketua PBSI saat itu, Try Sutrisno. Ia juga menyampaikan perasaan keharuan dan kebanggaan sebagai anak bangsa bisa memberikan yang terbaik saat mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan bendera Merah Putih berkibar.

Lebih lanjut, Presiden juga menyampaikan bahwa di dunia olahraga utamanya bulu tangkis ada beberapa nama yang mengharumkan nama bangsa seperti Susi Susanti, Alan Budikusuma, Kevin Sanjaya, Markus, Candra Wijaya, Butet, Jojo (Jonathan Cristie, red) dan masih banyak lagi.

Kepala Negara juga menyampaikan salah satu contoh yang dapat ditiru adalah kemampuan keturunan Tionghoa dalam berbisnis. “Rata-rata memang jago di dagang, jago di bisnis, baik itu di industri manufaktur, di industri jasa, dan lain-lainnya, karena memang kita harus mengakui keturunan Tionghoa adalah pekerja keras, itu bisa kita lihat,” ujar Presiden.

Ibu Kota Baru

Soal Ibu Kota baru, Presiden menyampaikan bahwa telah memutuskan untuk memindahkan ibu kota. Sekarang ini, sambung Presiden, masih dalam proses, mendetailkan lagi perencanaannya dan membuat Undang-Undangnya, dalam proses semuanya.

“Kita harapkan nanti bulan Juni sudah selesai. Dan perlu saya sampaikan bahwa kita tidak ingin memindahkan hanya lokasinya saja, bukan itu. Juga bukan memindahkan gedungnya, gedung Istana atau gedung Kementerian ke Kalimantan, juga bukan itu. Yang ingin kita pindahkan adalah sebuah budaya baru, budaya kerja yang baru, budaya cepat yang tadi saya sampaikan,” tutur Presiden.

Kultur kerja yang cepat, lanjut Presiden, yakni dengan membangun sistem yang baru sehingga sebelum orang-orang pindah ke sana sudah diinstal sebuah sistem sehingga kecepatan itu dimiliki, sehingga bisa memenangkan persaingan maupun memenangkan kompetisi dengan negara-negara yang lain.

“Inilah keinginan kita dan di ibu kota baru nanti juga perlu saya sampaikan memang kita ingin masuk ke sebuah ibu kota yang pro pada lingkungan, ramah lingkungan. Akan banyak nanti orang berjalan kaki, akan banyak nanti di sana orang naik sepeda. Kendaraan pun sudah kita rancang agar di sana nanti mobil yang ada atau sepeda motor yang ada adalah kendaraan listrik dan kendaraan yang otonom tanpa supir, tanpa awak,” pungkas Presiden Jokowi.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Menko PMK Muhadjir Effendy, Mensesneg Pratikno, Menag Fachrul Razi, dan Mendikbud Nadim Makarim. (RF/EN)

%d blogger menyukai ini: