Press "Enter" to skip to content

Bisnis Jastip Luar Negeri Kena Bea Masuk, Bagaimana Respons Startup Penyedia Platform?

Usaha jasa titipan atau jastip barang dari luar negeri sedang naik daun. Selain karena permintaan yang tinggi, kepraktisan mendapatkan barang dari luar negeri juga menjadi daya pikat.

Beberapa startup pun melirik usaha jastip sebagai layanan utamanya. Namun, di tengah geliat bisnis ini, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi akhir April 2019 lalu mengimbau kepada para pelaku usaha jastip untuk tertib membayar pajak dan bea masuk barang dari luar negeri.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai telah memiliki aturan untuk melaksanakan rencana ini. Pelaku jastip dari luar negeri dapat menggunakan Pemberitahuan Impor Barang Khusus (PIBK) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan no. 203/PMK.04/2017 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Barang yang Dibawa Penumpang dan Awak Pesawat.

Kantor Ditjen Bea Cukai

Kantor Dirjen Bea dan Cukai

Barang yang dibawa dari luar negeri dengan layanan jastip dan ditujukan sebagai kegiatan perniagaan akan dikenai pajak sebesar 25-27 persen dari harga barang, dengan rincian:

  • Pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen,
  • Pajak penghasilan (PPh) 10 persen, dan
  • Bea masuk sebesar 7,5 persen.

Aturan ini digaungkan agar para pelaku bisnis jastip tidak memanfaatkan de minimus value impor untuk membawa barang bukan keperluan pribadi dari luar negeri dengan menghindari kewajiban pajak.

Sebetulnya praktik kepabeanan itu hanya mengenal dua jenis barang, yaitu barang keperluan pribadi dan barang bukan untuk keperluan pribadi.

Deni Surjantoro,
Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Direktorat Jenderal Bea Cukai

Peraturan yang ditetapkan Menteri Keuangan juga memberikan pembebasan bea masuk dan pajak bila total harganya tidak lebih dari US$500 (sekitar Rp7 juta). Namun, jika ditemukan seseorang membawa barang untuk keperluan perniagaan, meski bernilai tidak lebih dari US$500, maka akan tetap dikenakan pajak dan bea masuk.

“Iya dong, masak beli barang dalam negeri aja kena pajak, ini beli dari luar negeri enggak kena. Ya kasihan yang lain dong,” jelas Deni. “Bukan jastipnya yang kita permasalahkan, tapi modus membawa masuk barang luar negeri dengan jumlah yang tidak wajar dengan alasan keperluan pribadi.”

“Praktik seperti ini yang tidak boleh terjadi. Kalau mau berdagang silakan sesuai dengan aturan.”

Ia mencontohkan beberapa waktu yang lalu ada orang yang kedapatan membawa beberapa kardus sepatu merek terkenal. Ketika diperiksa ukuran dari sepatu-sepatu tersebut, ternyata tidak sama. Indikasi seperti inilah yang akan dicurigai sebagai usaha membawa masuk barang impor dengan menghindari pajak.

Dalam menentukan suatu barang yang dibawa merupakan barang niaga atau bukan, Ditjen Bea dan Cukai punya mekanisme dan assessment sendiri. Petugas bea cukai akan melakukan penilaian, pemeriksaan, hingga bekerja sama dengan Ditjen Pajak untuk menilai seseorang membawa barang sebagai keperluan pribadi atau lainnya.

Marketplace jastip dukung aturan bea cukai

Seiring dengan kemajuan teknologi, bisnis jastip juga ikut menjamur. Kini muncul beberapa marketplace yang menghimpun pelaku-pelaku bisnis jastip dalam satu wadah. Sebut saja Hellobly, Gibby, Neetip, hingga Airfrov yang beroperasi pada sejumlah negara di Asia Tenggara.

Penyedia marketplace sekaligus komunitas jastip asal Indonesia Hellobly menyambut baik rencana penertiban barang impor oleh Ditjen Bea dan Cukai. Stevani Brigita selaku Marketing Communication Hellobly mengungkapkan penertiban ini merupakan hal positif untuk mendukung pertumbuhan lapangan pekerjaan baru berupa layanan jastip yang aman dan sesuai dengan regulasi.

Dalam rangka mendukung perkembangan industri jastip, Hellobly baru-baru ini menyelenggarakan seminar Titip Menitip Aman & Nyaman yang bekerja sama dengan Ditjen Bea dan Cukai di Jakarta Timur. Seminar yang diselenggarakan pada 26 April 2019 lalu mempertemukan para pelaku jastip, penitip, dan pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Ditjen Bea dan Cukai.

Seminar yang diselenggarakan Hellobly, 26 April 2019

Seminar yang diselenggarakan Hellobly, 26 April 2019

“Kami mendapat banyak feedback dari rekan-rekan pelaku jastip, banyak yang masih belum paham atau mengerti seputar regulasi bea masuk. Maka dari itu di acara tersebut kami membantu memfasilitasi mempertemukan para pelaku usaha jastip tersebut,” jelas Stevani.

 

Melalui seminar yang bekerja sama dengan Ditjen Bea dan Cukai, Hellobly berharap agar pemerintah tidak semata-mata melihat industri jastip yang tidak memenuhi kewajiban pajak sebagai kerugian negara, namun bisa juga bekerja sama agar dapat memberikan pembinaan sehingga tercipta sektor usaha yang sehat.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Bisnis Jastip Luar Negeri Kena Bea Masuk, Bagaimana Respons Startup Penyedia Platform? appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: