Press "Enter" to skip to content

Capssion – Startup Pemasaran Influencer Buatan Mantan Eksekutif Lazada

Setelah Alibaba mengakuisisi Lazada—perusahaan e-commerce yang dibangun oleh Rocket Internet—pada 2016 silam, salah satu arahan bisnis yang dikeluarkan pemilik baru adalah mengetes perdagangan lintas negara.

Matthieu Coti, Thibault Couperie Eiffel, dan Koussey Goupil—yang termasuk dalam jajaran eksekutif Lazada pada saat itu—mengunjungi kampus Alibaba di Hangzhou dengan satu tujuan: membantu beragam merek dari Cina di Tmall menjangkau para konsumen di Asia Tenggara.

Pada kesempatan itu pula mereka menemukan industri pemasaran e-commerce berbasis influencer yang ada di Cina. Taobao bahkan punya tool internal di mana para pedagang dapat menyewa influencer untuk mempromosikan produk masing-masing.

“Jauh lebih sulit bagi kami menemukan solusi serupa di Asia Tenggara. Kawasan ini adalah pasar yang terpecah-pecah, dengan data dan solusi berbasis produk yang masih minim,” ungkap Coti kepada Tech in Asia. Ia juga menambahkan bahwa sejumlah pengelola merek bahkan kesulitan mengidentifikasi influencer yang sesuai kebutuhan.

Melihat adanya kesempatan, trio ini keluar dari Lazada dan mendirikan Capssion yang berkantor pusat di Singapura. Mereka tidak hanya menjalankan ide di negara maju pada negara-negara berkembang ala Rocket Internet, tapi juga melakukan eksperimen dengan model bisnis baru yang diciptakan khusus untuk Asia Tenggara.

Capssion Instagram | Screenshot

Data influencer di media sosial. Sumber: Capssion

Manfaat dari layanan Capssion

Di Capssion, para pengelola produk kecantikan dan fesyen dapat dengan mudah menghubungi influencer guna memberikan ulasan di media sosial. Sebagai gantinya, influencer dapat menyimpan barang-barang tersebut secara gratis. Praktik ini berbeda dengan apa yang berjalan di Cina.

Para influencer di Taobao dibayar dengan uang. Budaya di Cina lebih bersifat transaksional daripada Asia Tenggara.

Mathieu Coti,
Co-founder Capssion

Capssion akan menangani semua latar belakang transaksi. Mereka memiliki solusi internal untuk menyimpan stok barang dan mengirimkannya ke para influencer. Pada dasarnya, mereka merupakan platform e-commerce untuk influencer.

Setelah produk dikirim, Capssion melakukan tabulasi konten yang telah dipublikasikan oleh para influencer, serta memonitor bagaimana kinerjanya. Data ini dapat diakses oleh pengelola merek melalui dasbor Capssion masing-masing.

Coti belum mendeteksi adanya kompetitor langsung di Asia Tenggara. “Pasar ini masih dikuasai oleh agensi pemasaran,” jelasnya.

Sejak diluncurkan pada Agustus 2018, Capssion telah mencatat 2.500 influencer aktif di platform mereka per bulan. Mereka melayani dua jenis merek: brand besar dan yang disebut Coti sebagai “pemain indie”.

Harga untuk klien besar bervariasi sesuai kebutuhan dan dimulai pada angka sekitar US$2.000 (sekitar Rp29 juta) per bulan. Brand yang lebih kecil dapat membeli paket seharga US$250 (sekitar Rp3,6 juta) per bulan.

Capssion telah memiliki empat puluh brand yang membayar untuk menggunakan jasanya di seluruh Asia Tenggara.

Perusahaan perawatan kulit milik Unilever, AHC, dari Korea Selatan dan OhMostWanted yang akan hadir di Malaysia adalah beberapa nama populer dalam daftar klien Capssion.

Coti mengatakan dana yang mereka gunakan untuk menjalankan bisnis tiap bulan (burn rate) sangatlah rendah, sementara perusahaan mengandalkan referensi dan liputan media sebagai upaya pemasaran daripada saluran berbayar.

“Tapi saya tidak mengatakan kalau kita tidak akan melakukannya. Mungkin dalam satu tahun, kami akan melakukan pemasaran berbayar karena kami ingin tumbuh lebih pesat.”

Coti enggan memberi tanggapan ketika ditanya besaran penghasilan Capssion saat ini.

Membuat industri jadi profesional

Para influencer tidak diharuskan membayar ketika menggunakan platform. “Misi kami adalah untuk mengembangkan mereka agar dapat memberikan pelayanan secara profesional,” jelas Coti.

Untuk mencapainya, Capssion menyediakan sejumlah tool bermanfaat bagi para influencer untuk melakukan pekerjaan dan membangun kredibilitas masing-masing, yang dibangun berdasarkan ulasan jujur.

Analitik data sosial di Asia Tenggara. Sumber foto: Flickr

“Para influencer bebas memberikan pandangan mereka tentang kelebihan dan kekurangan produk. Meski brand menyediakan pedoman, para influencer tidak dipaksa untuk menjalankan semuanya, karena pada akhirnya kami ingin agar konten menjadi autentik,” jelas Coti.

“Banyak penelitian menunjukkan bagaimana saat ini kepercayaan seseorang akan rekomendasi sosial menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Ada minimal dua puluh keputusan yang harus diambil sehari-hari, jadi kamu butuh orang lain untuk membimbing kamu.”

Tentang potensi kemunculan ulasan negatif, Coti berpendapat bahwa para pengelola merek juga menyambut hal tersebut. “Ulasan autentik juga merupakan saluran bagi brand indie mengumpulkan masukan pelanggan, untuk membantu meningkatkan produk mereka atau membuat produk baru. Proses ini disebut co-creating.”

Para influencer memainkan peranan yang lebih besar dalam strategi pemasaran. Para pengelola merek menyadari bahwa akun media sosial mereka sendiri menghasilkan traffic terbatas. Tool pemblokir iklan juga menjadi hal yang umum sehingga membatasi efektivitas iklan berbayar.

Keuntungan bagi pemilik merek

Para klien Capssion mendapat manfaat dari proses otomatisasi. Mereka mempunyai sekumpulan influencer yang bisa dihubungi kapan pun dan untuk skala sebesar apa pun. Mereka juga dapat langsung mengecek performa konten.

“Rata-rata, suatu brand membutuhkan waktu 25 jam untuk membangun ikatan dengan 10 hingga 15 influencer. Di Capssion, kamu menghabiskan 3 hingga 4 jam, dan kamu mendapatkan hasil 2 kali lebih banyak.”

Para influencer yang menggunakan platform akan dicek lagi untuk memastikan mereka mendapat ROI yang baik. “Kami melihat pengalaman mereka, performa konten, berapa banyak konten yang mereka publikasikan dibandingkan dengan jumlah pengikut. Kami juga memastikan tidak ada penipuan dalam hal jumlah pengikut,” ungkap Coti. Sejauh ini, Capssion mengaku telah memiliki 10.000 influencer yang memenuhi syarat.

Bagaimana perusahaan membangun basis influencer yang luas? Jawabannya terletak pada gamification. Selama proses onboarding, para influencer menerima satu set token di e-wallet Capssion masing-masing. Token tersebut bisa mereka gunakan untuk memesan barang dari sejumlah brand.

Mereka mendapatkan kembali token ketika memasang foto atau video produk di akun media sosial masing-masing. Semakin banyak konten yang mereka publikasikan, makin banyak juga token yang mereka dapatkan.

Startup ini juga punya program rujukan di mana influencer yang merekomendasikan influencer lain mendapat timbal balik berupa token.

Mengelola risiko

Ada risiko yang mesti diwaspadai, seperti klaim pencemaran nama baik terhadap suatu brand dan kegagalan dalam penyajian konten. Menurut Coti, di sinilah teknologi Capssion memainkan peranan eksklusif.

“Kami punya mekanisme yang bisa mendeteksi jika influencer yang menerima barang tidak mengunggah konten. Mereka mendapat semacam penalti-tidak akan bisa memesan produk sebanyak sebelumnya. Ini terjadi secara otomatis.”

Namun, proses pengecekan apa saja yang ada di dalam foto dan videolah yang sebenarnya rumit. Saat ini, Capssion masih melakukan proses ini secara manual. Suatu pendekatan yang sulit untuk diukur.

Coti menjelaskan bagaimana pengalamannya di Lazada bermanfaat dalam bidang ini. “Di Lazada, terlebih lagi saat ini ketika sudah diakuisisi Alibaba, kami melakukan penyaringan dengan AI untuk memastikan konten tidak mengandung unsur senjata atau pornografi.

“Ini tentu saja sudah masuk dalam rencana Capssion. Salah satu co-founder kami adalah orang yang menjalankan hal ini di Lazada,” ujarnya, mengacu pada Eiffel.

Lazada Ilustrasi

Sumber foto: Lazada

Pendanaan dari jaringan Lazada

Coti mengakui prestasi yang diraih timnya tidak lepas dari pengaruh pengalaman mereka di Lazada, yang menurutnya adalah, “Sekolah hebat yang menyediakan semua tool yang dibutuhkan oleh para pengusaha.”

Dia merasa bahwa pengalaman selama di perusahaan e-commerce tersebut memudahkan langkah mereka memasuki dunia startup. Ia mencatat kalau klien menjadi lebih percaya berurusan dengan mereka karena DNA Lazada tersebut. Selain itu, mantan rekan kerja mereka juga sangat bersedia memberikan dukungan finansial.

Pada Desember lalu, Capssion berhasil mengumpulkan US$100.000 (sekitar Rp1.4 miliar) dari Co-founder dan Chief Marketing Officer Charles Debonneuil dan CEO Lazada Malaysia Hans-Peter Ressel, serta pakar perangkat lunak Antoine Lortie.

Meski demikian, tim Coti tidak terbebas dari kesalahan yang biasanya dilakukan oleh para founder startup.

Sebelumnya, Capssion meluncurkan fitur yang memungkinkan brand melakukan penyaringan konten sebelum dipublikasikan. Fitur ini tidak cocok dengan influencer.

“Aturannya adalah kami tidak akan meluncurkan suatu fitur yang tidak akan digunakan,” ujar Coti. “Semua hal yang kami pikirkan mesti melalui proses validasi dari brand dan influencer.”

Ke depannya, Capssion akan fokus mengedukasi ekosistem retail tentang influencer marketing dan bagaimana memanfaatkannya.

Coti mengaku “Masih ada banyak hal yang harus dilakukan.” Tapi ia merasa semua kerja keras tersebut sepadan. “Kita berbicara tentang pasar yang bernilai sekitar US$3,4 miliar (sekitar Rp49 kuadriliun) dalam hal pengeluaran untuk iklan media di wilayah ini. E-commerce juga sedang tumbuh pesat. Kesempatan hanya semakin besar.”

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Capssion – Startup Pemasaran Influencer Buatan Mantan Eksekutif Lazada appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: