Press "Enter" to skip to content

Cara Menerapkan Strategi Influencer Marketing untuk Model Bisnis B2C dan B2B

Influencer marketing merupakan salah satu strategi pemasaran yang banyak digunakan oleh perusahaan teknologi untuk menjual produk dan bisnis mereka. Tujuannya sebagai pendengung untuk mencari perhatian banyak orang.

Istilah influencer atau biasa juga disebut buzzer merujuk pada individu yang memiliki jumlah pengikut (follower) banyak di sosial media. Dengan jumlah follower ribuan hingga jutaan tersebut, influencer menjadi salah satu kanal pemasaran yang cukup potensial.

Sudah banyak perusahaan startup yang menerapkan startegi ini untuk pemasaran. Salah satunya tim marketing Halodoc dan Zilingo. Halodoc bahkan mengalokasikan dana khusus sebesar sepuluh persen untuk influencer, dan tujuh persen dari Zilingo.

Lalu seperti apa metode dan cara menerapkan influencer marketing di perusahaan startup? Dan apakah strategi ini bisa diterapkan di semua model bisnis yang ada?

Mulai dengan membuat objektif yang jelas

Sarah Humaira selaku Head of B2C Marketing Zilingo menempatkan influencer sebagai perpanjangan tangan brand mereka. Khususnya pada ranah bisnis business-to-consumer (B2C) yang menjadi model bisnis dasar Zilingo.

Influencer membantu kami membangun awareness dan kepercayaan di mata audience.

Sarah Humaira,
Head of B2C Marketing Zilingo

Yang terpenting kata Sarah, perusahaan harus memiliki objektif yang jelas sebelum mengadopsi influencer marketing di strategi pemasaran mereka. Karena dari objektif tersebut baru bisa dijabarkan influencer seperti apa yang dibutuhkan, bagaimana pendekatan kreatifnya, hingga konten apa yang akan digunakan.

“Konten yang diangkat dan influencer yang dipilih harus mewakili value yang dibawa oleh brand. Karena dua hal ini punya peran besar dalam membangun brand voice di mata konsumen.”

Sarah Humaira, Head of B2C Marketing Zilingo

Sebagai salah satu pemain awal di industri health-tech, Halodoc juga menyadari bahwa kegiatan promosi mereka tidak bisa hanya berorientasi pada pemasaran produk saja.

Felicia Kawilarang selaku VP Marketing Halodoc menegaskan, mereka juga dituntut melakukan edukasi ke masyarakat. Agar mereka yakin bahwa industri health-tech yang tengah berkembang saat ini bisa dipercaya dan diandalkan publik.

“Dengan objektif yang jelas, maka format yang kerap kami gunakan belakangan ini adalah video. Mulai dari IGTV, IG Story, atau YouTube. Karena memang lebih deskriptif, jadi bisa memudahkan proses edukasi,” jelas Felica.

Bagaimana memilih influencer yang sesuai

Salah satu hal krusial saat menjalankan influencer marketing adalah memilih orang yang tepat. Individu yang mampu menyampaikan konten dengan baik dan tepat sasaran. Di ranah digital marketing, influencer ini dikategorikan menjadi beberapa bagian.

Prasetya Aditya Imansyah selaku Business Development Associate GetCraft membaginya dalam empat kategori:

  • Nano-influencer, merupakan ketagori untuk individu dengan jumlah follower 2.000 hingga 9.999 akun.
  • Micro-influencer, mereka yang memiliki jumlah follower mulai dari 10.000 hingga 99.999 akun.
  • Macro-influencer, kategori dengan jumlah follower di sosial media sebanyak 100.000 hingga 999.999 akun, dan
  • Mega-influencer, untuk individu dengan jumlah follower di atas 1 juta akun.

Zilingo kata Sarah telah bekerja sama dengan influencer dengan berbagai skala tersebut. Mulai dari mega-influencer seperti Pevita Pearce dan Afgan, hingga ratusan micro-influencer dari berbagai daerah. Ia menjelaskan peruntukan masing-masing kategori:

  • Influencer pada kategori mega efektif digunakan untuk memperkenalkan brand ke pasar yang luas. Sementara,
  • Nano dan micro-influencer bisa digunakan untuk membangun kepercayaan dan mendorong minat beli konsumen.

Felicia Kawilarang, VP Marketing Halodoc

Sementara Halodoc memilih hanya fokus di ranah nano dan micro-influencer dalam kampanye pemasaran mereka. Felicia menilai, nano dan micro-influencer punya autentisitas yang lebih baik di mata follower, sehingga relatif lebih dipercaya oleh audience.

“(Jumlah follower mereka) memang lebih kecil, tapi lebih targeted. Selain itu juga lebih cost-efficient untuk kami,” jelas Felicia.

Dengan fokus pada akurasi pemasaran, memahami siapa demografi konsumen yang disasar menjadi sangat penting. Perusahaan harus paham betul siapa yang menjadi sasaran, apa kebutuhan mereka, dan siapa saja influencer yang menjadi point-of-reference.

Sebagai contoh, Felicia menyatakan dua demografi utama dari konsumen Halodoc. Ibu dengan anak balita yang sulit pergi ke dokter, dan juga kalangan mahasiswa yang kuliah di luar kota.

Dari kedua demografi tersebut tim pemasaran Halodoc kemudian melakukan profiling manual. Tujuannya untuk mengkurasi influencer mana saja yang kerap dijadikan referensi oleh kedua demografi tersebut.

Gunakan metrik pengukuran yang relevan

Banyak pihak yang ragu menerapkan influencer marketing karena mereka kesulitan menghitung return of investment (ROI) yang bisa mereka raih. Sarah menyatakan, bahwa ROI setiap kasus akan berbeda, semua bergantung ke apa objektif awal yang ingin dicapai perusahaan.

Menurutnya, angka reach dan engagament rate merupakan metrik dasar yang kerap digunakan banyak orang. Namun ia menyatakan Zilingo pun kerap menambahkan beberapa metrik lain yang lebih relevan dengan objektif di setiap kampanye.

“Contohnya saat kita sedang gelar kampanye untuk new user, metrik yang kita gunakan adalah click-rate maupun angka new sign-up. Sementara untuk kampanye sales-conversion, kita bagikan unique link ke para influencer untuk tahu conversion-rate mereka bagaimana,” jelas Sarah.

Kesuksesan influencer marketing tidak hanya selalu diukur secara kuantitas saja. Felicia juga menegaskan, afinitas atau keterikatan influencer dengan follower-nya juga merupakan hal yang vital dalam menyukseskan sebuah kampanye.

“Yang terpenting, jangan hilangkan unique voice dari influencer-nya. Tidak perlu beri arahan terlalu detil. Cukup sampaikan objektif dan kontennya, lalu percayakan ke influencer. Mereka yang paling tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan audience-nya.”

Cara lain dari Moka untuk segmen B2B

Dari ranah bisnis business-to-business (B2B), Moka menyampaikan strategi yang berbeda. Hilman Desfakhrian Putra selaku Head of Content Marketing Moka melihat strategi influencer marketing yang berbasis reach dan engagement di media sosial bukanlah hal yang efektif untuk ranah B2B.

Hal itu mengacu pada pengalaman Moka di tahun 2018 lalu yang pernah mencoba bekerja sama dengan beberapa macro-influencer. 

Hilman Desfakhrian Putra, Head of Content Marketing Moka

Di tahun 2019 Moka kemudian beralih strategi. Ketimbang menggaet influencer di media sosial, mereka memilih masuk dan menjalin relasi dengan komunitas pebisnis dan wirausaha yang ada di Indonesia. Kemudian mengajak tokoh-tokoh berpengaruh di komunitas tersebut untuk menggunakan Moka lalu berbagi kisah bisnis ke pebisnis lainnya.

“Di kalangan pelaku bisnis, mereka lebih percaya dengan rekan atau kolega bisnisnya dibanding influencer di media sosial.”

Hilman menjelaskan, bahwa tim data Moka rutin menganalisa performa bisnis merchant yang menggunakan produk mereka. Fungsinya untuk mencari merchant dengan performa bisnis terbaik atau terunik yang akan dikategorikan sebagai power user.

Power user inilah yang kemudian akan diajak Moka untuk berbagi tip dan pengalaman ke merchant lainnya. Sekaligus kemudahan yang mereka rasakan selama menggunakan sistem point-of-sale Moka.

“Jadi budget untuk influencer marketing kami nyaris nol. Sistemnya partnership scheme, jadi kami bertukar value. Kami berikan eksposur untuk sharing, mereka berikan kami konten,” tutup Hilman.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Cara Menerapkan Strategi Influencer Marketing untuk Model Bisnis B2C dan B2B appeared first on Tech in Asia.

The post Cara Menerapkan Strategi Influencer Marketing untuk Model Bisnis B2C dan B2B appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: