Press "Enter" to skip to content

Cara Tokopedia Tingkatkan Kualitas Tenaga Kerja dengan Kompetisi DevCamp

Pada September 2019, Tokopedia mengumumkan pemenang dari kompetisi hackathon DevCamp 2019 yang mereka selenggarakan. Program DevCamp tahun ini diikuti oleh 39 peserta dari berbagai universitas di Indonesia, serta berlangsung selama 6 hari.

Empat hari pertama dihabiskan peserta untuk mengikuti basic training dan intensive tech training. Di hari kelima, peserta diuji untuk menghadirkan inovasi teknologi lewat sesi hackathon yang berlangsung 20 jam. Dan di hari terakhir para peserta diminta mempresentasikan hasil produk masing-masing di hadapan juri, yang terdiri dari tim business, technology, dan product Tokopedia.

Program ini diselenggarakan sebagai bentuk partisipasi aktif Tokopedia dalam mendorong kelahiran engineer muda yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan industri hari ini. “Tokopedia sebagai perusahaan teknologi Indonesia percaya bahwa talenta merupakan investasi terbesar,” jelas Aswin Tanu Utomo selaku VP of Engineering Tokopedia.

Jamak dilakukan perusahaan teknologi dalam negeri

Beberapa perusahaan teknologi di Indonesia memang sudah ikut berpartisipasi aktif dalam membantu pertumbuhan tenaga kerja digital berkualitas di Indonesia. Gojek contohnya, mereka menginisiasi program GoAcademy sebagai wadah untuk berbagi ilmu kepada calon engineer muda di Indonesia.

Pada gelaran DevCamp 2019 ini, pemenang kompetisi hackathon DevCamp 2019 adalah grup yang terdiri dari Dion Saputra (Institut Teknologi Bandung), Ridwan Afwan Karim Fauzi (Universitas Gadjah Mada), dan Azzam Jihad Ulhaq (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Mereka menciptakan produk dengan dukungan augmented reality bernama Artpedia, yang berfungsi mempertemukan seniman dengan para kolektor karya seni.

Talenta muda butuh ekosistem untuk berkembang

Pertama kali digelar pada 2018, DevCamp berhasil menarik lebih dari 1.600 pendaftar dari kalangan mahasiswa, yang kemudian diseleksi secara ketat hingga terpilih 39 peserta. Selama enam hari masa pelatihan dan kompetisi, peserta dibagi dalam 13 grup dengan masing-masing anggota 3 orang, yang dimentori oleh 13 Engineering Manager dari Tokopedia.

Dalam proses penjurian, produk yang telah dikembangkan oleh 13 grup tersebut dinilai berdasarkan tiga poin utama. Yaitu inovasi teknologi dan kegunaan produk, pengaplikasiannya dalam bisnis dan desain, serta kualitas produk secara keseluruhan,

“Melalui poin-poin penilaian tersebut, kami ingin mengasah kemampuan teknis serta kreativitas mereka dalam menghadirkan sebuah produk yang mudah digunakan, dan memberikan nilai tambah kepada pengguna,” jelas Aswin.

Dalam program ini, peserta tidak hanya dituntut untuk mengasah skill pemrograman masing-masing. Mereka juga dilatih untuk membaca kebutuhan pasar, memecahkan masalah, dan juga berkomunikasi.

Tokopedia Devcamp 2019

Ridwan Afwan Karim Fauzi, Dion Saputra, dan Azzam Jihad Ulhaq, pemenang kompetisi hackathon DevCamp 2019

Hal tersebut diamini oleh Azzam Jihad Ulhaq, pemenang kompetisi DevCamp 2019 yang berasal dari Institut Teknologi Sepuluh November. Lewat acara ini ia menyadari pentingnya komunikasi dan kolaborasi bagi seorang engineer.

“Kami bertiga belum mengenal satu sama lain sebelum kompetisi DevCamp, sehingga (saat hackathon) kami berusaha mempertahankan ide masing-masing. Pada akhirnya, berkat saran dan kritik dari mentor dari Tokopedia, kami melihat plus-minus dari masing-masing ide.”

Sementara rekan satu grup Azzam yang berasal dari Institut Teknologi Bandung,  Dion Saputra, mengaku mendapat banyak pembelajaran meskipun rangkaian acara hanya berlangsung beberapa hari. Di antaranya adalah pelatihan teknikal untuk front-end, back-end, Android, dan iOS. Selain itu, program sharing session bersama VP Tokopedia dan peserta dari tahun sebelumnya juga membuka wawasannya.

“Seluruh peserta DevCamp 2019 juga akan mendapatkan program magang selama tiga bulan, dan tiga grup pemenang hackathon akan dimentori langsung oleh Head of Engineering Tokopedia.” terang Aswin.

Aktif tumbuhkan minat di bidang STEM

Lonjakan kebutuhan tenaga kerja digital di Indonesia pada dasarnya dipicu oleh perusahaan teknologi di Indonesia yang terus mengembangkan bisnis mereka. Belum lagi di saat yang sama, startup teknologi juga masih terus bermunculan di berbagai kota.

Sebagai salah satu pemain besar, Tokopedia menyadari bahwa kelangkaan tenaga kerja yang berkualitas bisa mengganggu momentum positif yang sedang terjadi. Itu sebabnya, mereka tidak bisa bersikap pasif dan hanya menunggu talenta-talenta potensial bermunculan.

Aswin T. Utomo | tokopedia

Aswin T. Utomo, VP of Engineering Tokopedia

“Rangkaian DevCamp digelar Tokopedia sebagai bentuk dukungan kepada inisiatif Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemendikbud) untuk meningkatkan minat mahasiswa di bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM),” terang Aswin.

Jika minat dan rasa ingin tahu mahasiswa di bidang STEM terus meningkat, Aswin meyakini Tokopedia dan perusahaan teknologi lainnya akan merasakan imbas positifnya. Tidak hanya secara  kuantitas saja, peningkatan juga akan terasa dalam hal kualitas.

Apalagi kini beberapa perusahaan teknologi di Indonesia, termasuk Tokopedia, sedang bertransformasi menjadi super ecosystem. Sebuah infrastruktur digital menyeluruh yang bisa mempermudah masyarakat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.

“Kolaborasi menjadi kata kunci dalam transformasi ini, maka kami terus bekerja sama dengan para mitra strategis, salah satunya mahasiswa dan mahasiswi yang punya minat di bidang IT,” lanjutnya.

Tidak hanya lewat program DevCamp

tokopedia devcamp | artpedia

Artpedia, produk yang dikembangkan oleh grup pemenang DevCamp 2019

Upaya pengembangan talenta muda Indonesia yang diinisiasi Tokopedia tidak hanya sebatas program DevCamp dan kompetisi hackathon saja. Mereka juga menyelenggarakan program Tokopedia Scholarship, sebuah beasiswa yang ditujukan bagi mahasiswa tahun ketiga jurusan teknik dan data di lebih dari 20 universitas negeri dan swasta di Indonesia.

Tokopedia juga rutin menyelenggarakan Tech a Break, sebuah talkshow bulanan seputar teknologi yang dibuka untuk umum dan bebas biaya. Program Tech a Break ini menghadirkan pembicara dengan keahlian dan pengalaman di bidang teknologi, baik dari dari dalam maupun luar negeri.

Sementara untuk mereka yang menginginkan pemahaman yang lebih teknis dan mendalam, Tokopedia juga menggelar pelatihan dan hands-on workshop di berbagai kota. Seperti di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Bali.

Upaya ini disambut positif oleh Ridwan Karim Fauzi dari Universitas Gadjah Mada yang juga anggota dari grup Artpedia. Ia menyatakan, “Sebagai mahasiswa, pelatihan dan transfer knowledge langsung dari para pelaku industri seperti Tokopedia akan memperkaya pengetahuan kami.”

Selain menjalankan berbagai inisiatif di atas, Aswin menyatakan Tokopedia juga kerap memanggil pulang para diaspora yang berada di luar negeri. Aswin berharap, pengalaman dan wawasan yang dimiliki para diaspora selama berada di luar negeri bisa digunakan untuk mengembangkan teknologi di Indonesia, dan memberi dampak tak hanya bagi perusahaan, namun masyarakat Indonesia pada umumnya.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Cara Tokopedia Tingkatkan Kualitas Tenaga Kerja dengan Kompetisi DevCamp appeared first on Tech in Asia.

The post Cara Tokopedia Tingkatkan Kualitas Tenaga Kerja dengan Kompetisi DevCamp appeared first on Tech in Asia Indonesia.