Press "Enter" to skip to content

Dampak E-commerce di Indonesia: Logistik Tumbuh, Ritel Bertransformasi

Menurut Bank Indonesia, laju pertumbuhan sektor e-commerce di dalam negeri belum menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Bank sentral menyebutkan transaksi belanja online di dalam negeri pada 2019 mencapai Rp13 triliun setiap bulan, atau Rp140 triliun per tahun.

Google dalam laporan e-Conomy SEA 2018 memperkirakan ekonomi digital Indonesia akan mencapai US$100 miliar (sekitar Rp1,4 kuadriliun) pada tahun 2025. Angka tersebut bakal membuat Indonesia menjadi negara dengan pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Perkembangan pesat e-commerce tidak hanya mengubah pola belanja para konsumen saja, namun juga berimbas pada beberapa bidang industri lainnya. Momentum positif yang diciptakan oleh e-commerce itu dimanfaatkan oleh bidang lain untuk melahirkan berbagai inovasi baru agar bisa beradaptasi dengan kebutuhan konsumen yang terus berubah secara dinamis.

Industri logistik mulai berbenah

dampak e-commerce | picture 1

Salah satu bidang yang terkena imbas dari perkembangan industri e-commerce di Indonesia adalah bidang logistik. Dengan semakin banyak orang yang kini beralih ke belanja online, permintaan pengiriman paket juga meningkat drastis.

“Sekarang orang mau cepat. Global Consumer Insight Survey dari PwC menunjukkan 41 persen dari mereka (pelanggan) rela membayar lebih untuk same day delivery,” ucap Fajrin Rasyid selaku Presiden Bukalapak.

Tahun ini, Zaldi Ilham Mashita selaku Chairman Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) mengungkapkan bahwa sektor logistik di Indonesia tumbuh sebesar dua belas persen. Meski angka tersebut positif, angka tersebut masih lebih kecil dibanding pertumbuhan industri e-commerce yang menurut Bank Indonesia bisa mencapai hingga 150 persen.

E-commerce berkembang sangat pesat, tapi pertumbuhan logistik sama sekali tidak sebanding dan itu menjadi constraint bagi penjual (online).

Zaldi Ilham Mashita,
Chairman Asosiasi Logistik Indonesia

Zaldi menyatakan bukan hal mudah untuk perusahaan logistik mengimbangi pertumbuhan e-commerce. Para pemain logistik harus memutar otak setiap kali ada pertambahan volume pengiriman secara signifikan. Mereka harus mencari berbagai alternatif jalur, baik darat, laut, maupun udara, agar paket bisa terkirim tepat waktu.

Di tahun 2018 lalu saja, e-commerce mengambil porsi delapan persen dari industri retail tanah air. Angka ini diperkirakan akan meningkat hingga delapan belas persen pada 2023.

McKinsey juga merilis sebuah laporan yang memprediksi ada 1,6 miliar paket yang dikirim di Indonesia pada tahun 2022 nanti. Angka tersebut akan mencetak rekor baru, dan tentunya akibat dari perkembangan e-commerce di Indonesia.

Layanan fintech terus bermunculan

dampak e-commerce | picture 2

Selain logistik, sektor pembayaran digital juga mengalami kenaikan yang signifikan berkat e-commerce. Bank Indonesia mencatat pada kuartal III 2018, transaksi uang elektronik mengalami peningkatan sebesar tiga ratus persen dibanding tahun sebelumnya.

Menurut Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, hal tersebut didorong oleh preferensi masyarakat yang kian gemar bertransaksi lewat platform e-commerce dan teknologi finansial (fintech).

Kini ada banyak nama yang bermunculan di bidang fintech. Misalnya Kredivo, Akulaku, dan juga Cicil. Selain itu, pembayaran digital seperti DANA, GO-PAY, dan OVO juga semakin diterima oleh banyak kalangan.

Tubagus Aditya selaku Brand Marketing Manager dari Kredivo mengakui bahwa e-commerce berperan besar bagi pertumbuhan perusahaannya. Sejak awal berdiri, bekerja sama dengan e-commerce merupakan strategi distribusi bisnis Kredivo.

Tubagus juga menilai bahwa ruang tumbuh industri fintech di Indonesia masih sangat luas. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan pesat e-commerce belum terimbangi dengan penetrasi kredit di Indonesia. Menurutnya, hari ini hanya sekitar lima persen konsumen Indonesia yang telah memiliki kartu kredit.

Dengan tersedianya pembiayaan kredit secara instan, kami juga membantu meningkatkan nilai rata-rata pembelanjaan di e-commerce.

Tubagus Aditya,
Brand Marketing Manager Kredivo

Masih ada banyak pekerjaan rumah bagi para pelaku fintech untuk mempermudah proses belanja online konsumen Indonesia. Apabila layanan yang dihadirkan berhasil memberikan pengalaman berbelanja online yang mulus dan mudah, masyarakat akan semakin mudah dan sering berbelanja secara online.

Ia menambahkan bahwa data internal Kredivo menunjukkan bahwa kemudahan transaksi dan pembayaran juga mendorong konsumen untuk berbelanja lebih sering.

Lebih lanjut lagi, Indina Andamari selaku Head of Marketing & Alliances Kredivo juga menjelaskan bahwa hubungan antara pelaku fintech dan e-commerce adalah simbiosis mutualisme. Kehadiran mereka memiliki nilai tambah sebagai pendorong transaksi bagi pelaku e-commerce, dengan menyediakan layanan pembiayaan serta mesin transaksi secara real-time.

Kami (Kredivo) bertumbuh bersama e-commerce. Kesuksesan penjualan mereka adalah kesuksesan kami juga.

Indina Andamari,
Head of Marketing & Alliances Kredivo

Pertumbuhan industri fintech mendapat respons dari pemerintah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis Peraturan OJK Nomor 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan sebagai ketentuan yang memayungi pengawasan dan pengaturan industri fintech.

Transformasi industri ritel

dampak e-commerce | picture 3.jpg copy

Perkembangan industri e-commerce juga berdampak pada industri ritel. Meski persentase belanja online di Indonesia masih relatif kecil, namun kehadirannya telah mengusik kedigdayaan toko-toko ritel, khususnya di Indonesia.

Kehadiran e-commerce membuat para pemain ritel harus bertransformasi. Beberapa dari mereka mulai memanfaatkan teknologi dalam kegiatan operasional masing-masing.

Salah satunya adalah Warunk Upnormal, yang beroperasi di bawah payung Citrarasa Prima (CRP Group). Mereka merilis sebuah aplikasi mobile sebagai touch point transaksi pemesanan, sehingga konsumen mereka kini bisa memesan dan membayar makanan dengan memindai kode QR yang tersedia di meja.

Selain Warunk Upnormal,  beberapa gerai kopi juga menerapkan konsep yang sama. Sebut saja Kopi Kenangan atau Fore Coffee. Mereka telah mendapat pendanaan dari sejumlah perusahaan modal ventura dengan nominal yang tidak sedikit. Harapannya, mereka bisa meniru jejak Luckin Coffee di Cina yang sukses menjadi unicorn dan bersaing dengan jaringan ritel kopi raksasa asal Amerika Serikat, Starbucks.

Bukan berarti perkembangan e-commerce lantas disikapi para pelaku ritel dengan beramai-ramai menutup toko fisik masing-masing. Ada strategi lain yang bisa diterapkan oleh para pelaku ritel, sehingga mereka bisa siap menghadapi disrupsi yang hadir di era digital.

“Akan hadir yang namanya omni-channel marketing, O2O (online-to-offline). Jadi konsumen nanti bisa belinya online, ambilnya offline”, jelas Djatmiko Wardoyo dari Erajaya Group. Menurut Djatmiko, strategi ini bisa memperpendek durasi lead time tiap transaksi, dan konsumen mendapat pengalaman belanja yang mulus dan ringkas.

Modernisasi ritel ini tidak hanya terjadi di nama-nama besar saja. Ada juga beberapa startup yang hadir khusus untuk membantu pemain kecil seperti toko kelontong dan warteg. Sebut saja Wahyoo, Warung Pintar, ataupun Mitra Bukalapak.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Dampak E-commerce di Indonesia: Logistik Tumbuh, Ritel Bertransformasi appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: