Press "Enter" to skip to content

Debat Penyelidikan Rusia Mungkin Berlanjut Hingga Pemilu 2020

Tingkat dukungan terhadap Presiden Donald Trump, berdasarkan hasil jajak pendapat terbaru Gallup meningkat menjadi 46 persen, tertinggi sejak masa awal kepresidenanya. Sejumlah pendukung Partai Republik mengatakan, ini saat yang tepat bagi presiden untuk membuka babak baru setelah penyelidikan Rusia yang dipimpin jaksa khusus Robert Mueller. Namun tampaknya, baik Trump maupun para pengecamnya dari Partai Demokrat tidak tergesa melupakan isu tersebut.

Dalam kampanyenya di Florida, Presiden Trump mengingatkan para pendukungnya mengenai laporan hasil penyelidikan Mueller.

“Ngomong-ngomong, kalian tahu apa yang baru terjadi? Tidak ada kolusi. Tidak ada pelanggaran. Tidak ada apa-apa! Mereka ingin melakukan apa yang sedang mereka lakukan, yang terlihat sangat bodoh. Mungkin saya keliru memahami, tapi saya kira ini akan membuat kita menang pada tahun 2020, karena orang-orang kini paham,” jelasnya.

Presiden AS Donald Trump saat berkampanye di Panama City Beach, Florida, 8 Mei 2019.

Presiden AS Donald Trump saat berkampanye di Panama City Beach, Florida, 8 Mei 2019.

Laporan itu menyimpulkan tidak ada bukti konspirasi antara kubu kampanye Trump dan Rusia untuk mempengaruhi pemilu 2016.

Mueller tidak mencapai kesimpulan mengenai isu pelanggaran hukum, namun ia — secara pasti – juga tidak membebaskan presiden dari tuduhan.

Sejumlah tokoh Partai Republik, termasuk pemimpin mayoritas Senat Mitch McConnell, mengatakan, kini saatnya melupakan isu itu.

“Sudah berakhir. Maksud saya, saya bisa memahami mengapa teman-teman di kubu seberang merasa kecewa. Mereka telah berusaha selama dua tahun mencari cara untuk membatalkan hasil pemilu 2016,” kata McConnell.

Fraksi Demokrat di Kongres bersumpah untuk terus menekan dengan melangsungkan sidang dengar keterangan dan penyelidikan.

Mereka juga menyebut Jaksa Agung William Barr menghina Kongres karena menolak menyerahkan versi lengkap laporan Mueller.

Anggota DPR dari Partai Demokrat, Jerry Nadler, mengatakan, “Mereka menghalangi rakyat Amerika melihat semua informasi itu, dan ini tidak bisa dibiarkan.”

Meski demikian, fraksi Demokrat tidak satu pandangan terkait upaya pemakzulan. Ketua DPR Nancy Pelosi termasuk yang menentangnya.

“Pemakzulan merupakan jalur yang paling memecah belah. Jika Anda mengambil jalur itu, Anda harus memiliki prospek menang.”

David Abraham, pakar politik dari Universitas Miami, mengatakan, karena Fraksi Republik mengontrol Senat, usaha pemakzulan oleh fraksi Demokrat akan mengalami kesulitan.

“Prosedur pemakzulan tanpa dukungan fraksi Republik sama sekali akan dengan mudah digambarkan sebagai usaha mengada-ada oleh pihak kalah yang dengki dalam pemilihan presiden”

John Fortier dari lembaga studi Bipartisan Policy Center mengungkapkan, isu penyelidikan Rusia belum akan berakhir dan akan menjadi bagian dari debat kampanye presiden tahun depan.

Menurut pengamat politik dari Universitas George Washington, Matt dallek, meski penyelidikan Rusia menimbulkan kehebohan, tingkat dukungan terhadap Trump, berdasarkan hasil sejumlah jajak pendapat, tetap stabil.

“Tingkat dukungannya sangat rendah, sekitar 44 persen. Ia belum pernah menembus 50 persen. Untuk kali pertama dalam sejarah jajak pendapat, seorang presiden tidak berhasil menembus tingkat dukungan publik 50 persen. Namun fondasi dukungannya juga luar biasa kuat, dan jarang di bawah 36 persen.”

Trump akan terus menyatakan ia tidak melakukan kekeliruan, sementara fraksi Demokrat akan terus melangsungkan sidang pengawasan. Namun, para pemilih AS lah yang kemungkinan akan menjatuhkan keputusan final pada November 2020. [ab/lt]

Source

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: