Press "Enter" to skip to content

Demi Wujudkan Konsep Smart Farming, Startup Perlu Garap Sektor Hulu Pertanian

Konsep pertanian cerdas (smart farming) diyakini sebagai jawaban dari kebutuhan pangan global. Namun, minimnya minat generasi muda untuk menekuni profesi petani bakal jadi hambatan bagi perkembangan startup smart farming.

Hal itu menjadi bahasan utama para pakar pertanian, peneliti dari lembaga riset, perusahaan multinasional, hingga startup teknologi pertanian dalam acara The Smart & Digitalization Farming Conference Indonesia 2019 yang digelar Rabu, 25 September 2019, di Jakarta.

“Target Indonesia untuk menjadi lumbung pangan dunia pada 2045 bisa terwujud bila ditunjang dengan berkembangnya smart farming,” kata Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Kementerian Pertanian Agung Prabowo. “Namun, kita memang membutuhkan peningkatan kapasitas petani menjadi agropreneur untuk, bisa menunjang penerapan pertanian modern berbasis internet of things (IoT) dengan dukungan dari startup smart farming.”

Pemerintah sangat membutuhkan dan mendorong kehadiran beragam startup sebagai upaya modernisasi pertanian berbasis digital. “Kami sendiri terus melakukan riset untuk menggabungkan platform berbasis IoT dengan alat dan mesin pertanian,” tambah Agung.

Ia mencontohkan pihaknya yang mengembangkan aplikasi Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Smart Mobile. Aplikasi ini memiliki layanan komersial, mulai dari jasa penjualan benih padi, pengolahan tanah, penanaman, irigasi, panen, penggilingan, hingga jual padi (tebas).

“Kami bahkan sudah mengembangkan traktor pertanian dengan remote control hingga hingga drone penyebar benih … Namun itu semua butuh petani yang sudah melek teknologi,” tukas Agung.

Startup jangan hanya jadi pedagang

Minimnya minat generasi muda untuk menjadi petani tidak terlepas dari citra sektor pertanian nasional yang dianggap ketinggalan zaman, serta belum memberi prospek ekonomi menjanjikan. Hal itu tercermin dari Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2018 lalu. Hasil survei menyebut dari sekitar 27 juta petani di Indonesia, 64 persennya berusia di atas 45 tahun.

“Kami merasakan kesulitan untuk menemukan mitra petani yang memang bisa langsung diajak beralih ke smart farming,” papar Chief Operating Officer PT Indonesia Komoditas dan Agrikultura (Inacom.id) Risan Awaludin. “Kita harus benar-benar memahami bahwa selain usia rata-rata yang sudah tua, ada juga keterbatasan wawasan dan latar belakang pendidikan.”

Karena itu, ia mengajak startup di bidang pertanian untuk ikut menggarap sektor hulu, yakni mengajarkan petani agar bisa memanfaatkan teknologi dalam ekstensifikasi lahan hingga pemeliharaan tanaman. Itu semua dibutuhkan karena rata-rata kepemilikan lahan pertanian di Indonesia seluas kurang dari satu hektar, dengan pola tanam yang masih tradisional dan pengolahan lahan konvensional.

“Kami saat ini bermitra dengan 2.400 mitra petani kelapa dengan total lahan sekitar 500.000 hektar di Indonesia. Dari jumlah tersebut, petani milenial (20-35 tahun) hanya sekitar 20 persen saja, itu pun tidak berniat terus menekuni profesi itu,” paparnya.

Kemunculan startup smart farming akan membuat petani muda merasakan sektor pertanian sebagai sektor yang tidak ketinggalan zaman, sehingga profesi petani pun bisa dibanggakan. “Jangan sampai startup hanya dianggap sekadar menjadi penyalur barang dan jasa dengan ‘menggelar lapak’ di dunia digital.”

Dorong petani punya email dan rekening bank

Petani Padi Sawah | Photo

 

Konsep smart farming yang memanfaatkan teknologi, seperti big datamachine learning, dan IoT demi meningkatkan kualitas maupun kuantitas produksi, akan memunculkan kebutuhan terhadap para wirausaha pertanian. “Oleh sebab itu, menjadi tugas pemerintah maupun startup smart farming untuk mengakselerasi para petani muda menjadi agropreneur,” ujar Chief Technology Officer Dattabot & HARA Imron Zuhri.

Menurutnya, semua peralatan pertanian, dari sumber daya sampai produk pertanian, pada akhirnya akan berbasis dan dikontrol oleh teknologi digital. Beberapa hal yang harus dimiliki oleh petani untuk menapaki tahap awal menjadi agropreneur adalah mempunyai email sebagai alat untuk mendaftar pada layanan dan produk pertanian digital.

“Mereka juga harus menguasai dasar-dasar penggunaan perangkat digital seperti gadget (gawai) yang terhubung dengan aplikasi alat pertanian, internet untuk berhubungan dengan pihak terkait, serta segera membuka rekening bank untuk transaksi online.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Demi Wujudkan Konsep Smart Farming, Startup Perlu Garap Sektor Hulu Pertanian appeared first on Tech in Asia Indonesia.