Press "Enter" to skip to content

Denny JA : Tak ada yang baru di bawah matahari

Bagaimanakah Pilpres 2019 itu berujung? Akankah hasil KPU sama dengan Quick Count? Akan adakah People Power di jalan? Kolom Denny JA yang ditulis Begawan Survei Opini Publik Indonesia, Denny JA, ini bisa menjadi wacana untuk menambah referensi Anda.
Merenungkan pertanyaan di atas, saya justru teringat sebuah pepatah. “Tak ada yang baru di bawah matahari. Nothing New Under The Sun. Pepatah ini salah satu kearifan paling tua dalam sejarah yang masih relevan.

Kutipan tersebut berasal dari Eccesiastes,
satu dari 24 buku Tanakh, kitab yang dianggap suci. Diduga kalimat itu pertama kali dituliskan di tahun 200-450 sebelum masehi.

Semua yang kini terjadi, polanya, ujungnya, semua kemungkinannya sudah bisa diduga. Apa yang kini terjadi, pernah terjadi sebelumnya, pernah berulang sebelumnya lagi, pernah terlaksana sebelumnya lagi.

Hanya dengan ketekunan membaca masa silam, apa yang mungkin terjadi ke depan, dapat kita duga. Mengapa demikian? Karena tak ada yang baru di bawah matahari!

***

Kearifan itulah yang saya ingat. Di japri, banyak yang bertanya: Bro, apa yang akan terjadi setelah ini dan itu? Mungkinkah setelah ini, tokoh A, partai B akan begini atau begitu?

Jokowi versus Prabowo pernah bertarung sebelumnya pada pemilu presiden 2014. Dari pola dan arah pilpres 2014, kita mengamati hadirnya lima babak drama.

Lima babak drama tahun 2014 agaknya akan terulang kembali pada 2019. Yang sudah terjadi saya sebut saja: Yang Pasti. Yang belum terjadi dan nampaknya akan terjadi, saya sebut saja: Yang Hampir. Tapi yang belum terjadi dan bisa terjadi atau tidak, saya sebut saja: Yang Mungkin.

Maka inilah lima babak drama pilpres 2019. Lima babak itu terdiri dari satu babak yang pasti, dua babak yang hampir, dan satu babak yang mungkin terjadi.

***

Kita mulai dengan drama babak pertama Pilpres yang pasti karena sudah terjadi!

Tahun 2014, hari pertama pencoblosan pilpres diwarnai oleh Prabowo sujud syukur kemenangan. Sorai sorai koalisi Prabowo gegap gempita. Perjuangan sudah dituntaskan. Menang! Prabowo Presiden! Itulah suasananya.

Padahal saat itu, Quick Count Lembaga Survei yang lebih senior dan kredibel menyatakan Prabowo kalah. Tapi LSI Denny JA dan lembaga quick count lain diabaikan.

Bahkan hari selanjutnya, ruang publik semakin diwarnai oleh perayaan kemenangan kubu Prabowo. Aneka angka kemenangan, sumber data, berhamburan.

Publik di luar kubu Prabowo kadang tak bisa memastikan. Dari mereka yang merayakan kemenangan itu, yang mana yang berpura-pura? Yang mana yang asli memang merasa menang?

Drama babak pertama ini terulang kembali tahun 2019. Pun di hari pertama, Prabowo kembali sujud syukur. Di tahun 2014, Prabowo bersyukur karena memang ada quick count di TVOne yang menyatakan ia menang.

Tapi di 2019, semua quick count di semua TV menyatakan Prabowo kalah! Kok masih sujud syukur merasa menang? Jawabnya: kini ada Real Count!

Ada input dari kalangan internal yang menyatakan Prabowo menang. Tak tanggung-tanggung: menangnya 62 persen!

Tak ada yang baru di bawah matahari. Drama babak pertama persis berulang. Ibarat lagu, yang beda hanya aransemen ala kadarnya.

***

Drama babak kedua. Di tahun 2014, akhirnya resmi KPU mengumumkan. Jokowi-JK menang. Bahkan menang di angka yang sangat mirip dengan umumnya Quick Count lembaga survei kredibel. Selisih hasil resmi KPU dengan LSI Denny JA, sebagai misal, hanya 0,22 persen saja.

Apa yang terjadi? Dalam drama babak kedua di tahun 2014: Kubu Prabowo membawa hasil KPU ini kepada MK. Satu tuduhan: telah terjadi kecurangan pemilu secara MST. Apa itu MST? Ialah kecurangan yang masif, sistematis dan terstruktur.

Bagaimana dengan Pilpres 2019? Hampir pasti, drama babak kedua ini akan terulang kembali. Data resmi KPU sudah menunjukkan pola yang tetap. Jokowi kembali menang di angka 55 persen. Kembali persis sama, hanya beda koma, dengan Quick Count LSI Denny JA.

Sudah terdengar gelagat awal drama babak kedua: kembali muncul tuduhan pemilu ini curang MST (masif, sistematis dan terstuktur). Besar kemungkinan kembali hasil KPU digugat ke Mahkamah Konstitusi.

Di tahun 2014, tuduhan kecurangan itu tak terbukti. Dan tentu, tak bisa membalikkan selisih kemenangan Jokowi sebanyak 5,4 juta suara.

Sementara selisih kemenangan Jokowi di tahun 2019, menurut Quick Count LSI di atas 15- 16 juta suara. Tiga kali lipat lebih banyak. Wow!! Kini selisih kemenangan Jokowi tiga kali lipat lebih banyak!

Besar kemungkinan, drama babak kedua berakhir sama. Selisih 5,4 juta suara saja di tahun 2014 susah dibalikkan. Apalagi selisih 16 juta suara!

Agaknya di tahun 2019 ini MK pun membuat putusan yang menolak gugatan. Persis seperti tahun 2014. MK menyatakan hasil yang sama dengan KPU: Jokowi-Ma’ruf sah menang dan menjadi presiden RI selanjutnya. Tak ada yang baru di bawah matahari!

***

Bagaimana babak ketiga drama Pilpres akan terjadi? Di tahun 2014, setelah putusan MK, terjadi sedikit keriuhan. Namun terjadi arus politik yang bisa diduga.

Satu persatu partai politik dan tokoh meninggalkan Prabowo. Satu persatu pula partai politik dan tokoh bergabung dengan Jokowi.

Situasi berbalik. Koalisi Prabowo yang tadinya dominan di parlemen, menyusut. Parlemen berbalik dan dikuasai partai yang bergabung dengan koalisi Jokowi.

Kita pun teringat, pepatah itu. Jika kau kalah dalam politik praktis, bersiaplah kesepian. Yang dulu militan berdiri di sampingmu, pelan pelan menyampaikan salam “good-bye.” Yang dulu mengaku saudara dan keluarga, pelan pelan menghilang dengan aneka alasan.

Bagaimana dengan Pilpres 2019? Drama babak ketiga hampir pasti terulang kembali. PAN dan Demokrat di kubu Prabowo sudah mulai menggeliat. Pernyatan publik tokoh utama dua partai ini sudah pula terdengar.

Akankah akhirnya PAN dan Demokrat di tahun 2019 pergi dari Prabowo, sebagaimana Golkar dan lain di tahun 2014 juga pergi dari Prabowo? So, sungguh tak ada yang baru di bawah matahari.

***

Datanglah drama babak keempat. Di tahun 2014, lembaga survei yang menyatakan Jokowi menang menjadi bulan-bulanan. Quick Count dituduh hasil rekayasa.

Bahkan saya, Denny JA, dilaporkan Fadli Zon ke polisi karena dianggap memberikan info yang salah soal kemenangan Jokowi.

Selesai KPU mengumumkan pemenang, selesai MK mengesahkan siapa yang menang, LSI Denny JA mengalami situasi berbalik. Aneka penghargaan internasional yang tak terduga datang.

Tahun 2014, akun twitter @DennyJA_World dinobatkan menjadi the second golden tweet tingkat dunia. Hingga kini tweet Denny JA soal Jokowi masuk dalam 20 tweet yang paling banyak di RT dalam sejarah dunia.

TIME Magazine, majalah yang dianggap paling berpengaruh dan kredibel di dunia pun merespons. TIME memilih 30 tokoh paling berpengaruh di dunia internet.

Saya pun, Denny JA, terpilih dalam list dunia itu. Terpilih bersama Presiden AS, Obama, PM India, Modi, Presiden Argentina Cristina, selebriti dunia Justin Bieber dan sebagainya.

Seorang rekan berbisik pada saya: Tuhan tidak tidur. Tuhan akan membalas siapapun dengan caraNya sendiri, kepada mereka yang berjuang, dan ikhlas dengan hujatan.

Bagaimana dengan Pilpres 2019? Drama itu kembali terulang. Saya dan teman teman lembaga survei kembali dihujat. Kembali pula dilaporkan pada polisi, KPU. Kembali pula saya dianggap penjahat yang mengutak-ngatik angka.

Selesai KPU dan MK nanti, akankah situasi berbalik? Kembali saya dibanjiri penghargaan internasional? Ini yang saya belum tahu.

Sudah mulai terdengar selintingan berita. LSI Denny JA dianggap sampai pada puncak. Ini pencapaian yang bahkan tak pernah didaki konsultan politik manapun dalam sejarah pemilu dunia.

Dialah konsultan politik yang ikut memenangkan presiden empat kali berturut-turut. Yaitu konsultan politik yang ikut memenangkan 100 persen semua pemilu presiden di era reformasi di negaranya.

Perlu saya berikan dulu disclaimer. Bahwa peran utama yang memenangkan Pilpres adalah capres dan cawapresnya sendiri. Lalu tim suksesnya. Lalu partai koalisi. Peran saya hanya mengisi ruang yang kosong saja.

Soal drama babak keempat ini, soal penghargaan internasional itu, bagi saya itu tak terlalu penting. Bukan itu tujuan utama.

Jikapun kembali berulang, itu hanya bonus. Ibarat kita sukses bekerja, kemudian seseorang menghadiahkan puisi.

***

Bagaimana dengan drama babak terakhir, babak kelima pemilu presiden? Di tahun 2014, semua berakhir indah. Hasil pemilu akhirnya diterima.

Publik Indonesia kembali seperti sedia kala. Keamanan terjaga. Derap pembangunan berdetak. Orang banyak kembali asyik ke kantor. Sebagian kembali asyik berkarya menulis novel, bermain sinetron dan menggubah puisi.

Tapi, di tahun 2014, Gerindra dan Prabowo memilih posisi di luar pemerintahan.

Drama babak kelima ini, sebagian belum pasti. Memang soal semua akan berakhir indah, itu bisa dipastikan terjadi. Polri dan TNI sangatlah solid. Kekuatan keamanan tak akan berkompromi. Media dan civil society juga tak akan membiarkan negara porak poranda.

Yang belum pasti adalah posisi Gerindra dan Prabowo. Apakah mereka tetap memilih di luar pemerintahan jika kalah? Ataukah Gerindra dan Prabowo ikut bergabung juga dengan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf?

Misalnya, akan ada kader Gerindra yang menjadi menteri? Dan Prabowo sendiri dihormati dalam satu posisi pemerintahan? Ini yang kita belum tahu.

Tapi benarlah pepatah itu. Tak ada yang baru di bawah matahari. Lima drama pilpres 2014 besar kemungkinan berulang di tahun 2019. Jikapun ada yang baru, perbedaannya, kata orang melayu, sikit-sikit saja. Karenanya, yuk baca Kolom Denny JA selanjutnya. DennyJa

Gus Fik
Follow me

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: