Press "Enter" to skip to content

Deputi III KSP Ajak Pengusaha Bantu Reformasi Ekonomi

JAKARTA – “Situasi global tak pasti. Namun yang sudah pasti adalah, hanya perusahaan dan negara yang efisien, produktif, fleksibel, dan kuat fundamentalnya saja yang bisa mengatasi situasi yang tak menentu,” ungkap Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Denni Puspa Purbasari saat menjadi narasumber di C-Suite Power Breakfast yang diadakan oleh Nielsen, Kamis, 25 Juli 2019.

Di depan lebih dari 70 CEO dan pengusaha dari sektor FMCG dan Media di Indonesia, Denni memaparkan tentang kondisi ekonomi global terkini, prospek ekonomi Indonesia di semester II tahun 2019, dan target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020-2024. Hadir dalam acara itu juga Managing Director Nielsen Indonesia, Agus Nurudin, dan GM Product and Analytics Telkomsel, Bram Olivio Moeis.

Dalam paparannya yang diberi judul ‘2019 and Beyond: Reforms for Results’, Denni menyampaikan IMF kembali mengoreksi estimasi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2019 menjadi 3,2%. Turunnya pertumbuhan ini menyebabkan perdagangan dunia dan harga komoditas ekspor Indonesia menurun. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan lebih rendah dari target APBN menjadi 5,2%. Namun kondisi ini akan membaik di tahun 2020.dp5

Mantan Asisten Staf Khusus Wakil Presiden Boediono ini menjelaskan, semenjak Pemilu usai, Presiden Jokowi telah melakukan banyak pertemuan dengan perwakilan dunia usaha. Fokus Presiden Jokowi adalah bagaimana menaikkan ekspor dan investasi. “Karena hanya lewat ekspor dan investasi yang lebih tinggi sajalah, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat dicapai,“ cetus Denni.

Secara lebih terperinci, Presiden Jokowi menjabarkannya melalui pidato ‘Visi Indonesia’ di Sentul, 14 Juli 2019. Presiden Jokowi memaparkan lima poin fokus pemerintahan ke depan, yaitu infrastruktur, SDM, investasi, reformasi birokrasi, dan APBN tepat sasaran.

“Kelimanya adalah solusi dari masalah yang dihadapi pengusaha, mulai dari perizinan, perpajakan, ketenagakerjaan, hingga regulasi yang tak pasti,” terang jebolan University of Illinois at Urbana-Champaign ini.dp3

Denni mengajak para pengusaha untuk mendukung agenda reformasi stuktural yang diusung Presiden. Karena reformasi seringkali menyebabkan kerugian jangka pendek untuk manfaat jangka panjang. “Ini tidak populer secara politik. Tapi ini rasional atau tidak, pengusaha tahu. Karena itu bersuaralah, dan mendukung. Proteksi tidak dapat menjamin kelangsungan hidup dalam jangka panjang,” terangnya.

Denni juga menjelaskan bahwa ketika target pertumbuhan ekonomi untuk lima tahun mendatang antara 5,4-6% per tahun, maka tak terhindarkan, ketika ekonomi dunia tidak pasti, APBN akan berperan dalam menggerakkan investasi. “Artinya, defisit akan melebar. Utang akan naik,” tandasnya.

Pengusaha diharapkan dapat membantu menjelaskan ke publik bahwa berutang adalah suatu hal yang wajar selama penggunaannya untuk hal-hal yang produktif. “Saya berharap para pengusaha membantu pemerintah mengedukasi masyarakat terkait hal ini,” jelas akademisi Universitas Gadjah Mada ini.p2d

Menjawab pertanyaan peserta mengenai kebijakan pemerintah terkait digital economy, Denni mengatakan pemerintah mendukung digital economy melalui pembangunan infrastruktur, light touch regulation, SDM, mendatangkan investor startups, dan harnessing sektor analog dengan digital.

Going digital adalah keniscayaan. Pada 2040 nanti, digital akan jauh lebih besar daripada analog. Perusahaan harus berinvestasi dengan teknologi digital,” pungkasnya sebagai penutup dialog.dp4

Go to Source
Author: editor 3

Gus Fik
Follow me