Press "Enter" to skip to content

Fintech Jadi Tumpuan untuk Tingkatkan Inklusi Keuangan di Asia Tenggara

Di tengah perkembangan pesat industri fintech Asia Tenggara, sebagian besar masyarakatnya masih belum punya akses ke berbagai layanan keuangan. Dari sekitar 400 juta orang dewasa di kawasan ini, baru 104 juta (38,4 persen) saja saja yang benar-benar telah memiliki akses ke beragam layanan perbankan.

“Dengan dukungan teknologi dan basis data yang kuat, layanan digital bisa membantu perluasan akses, menambah kenyamanan, memangkas biaya, serta meningkatkan inklusi keuangan layanan keuangan bagi seluruh penduduk Asia Tenggara,” tulis hasil riset bertajuk Fulfilling its Promise – The Future of Southeast Asia’s Digital Financial Services dalam laporan e-Conomy SEA 2019 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company.

Hasil riset yang dilakukan di enam negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Vietnam itu menunjukkan 98 juta orang dewasa di kawasan ini masih berstatus underbanked, alias belum memiliki akses terhadap seluruh layanan perbankan. Sementara 198 juta orang lainnya malah sama sekali belum tersentuh layanan perbankan (unbanked).

Total potensi pembayaran digital di kawasan ini bahkan diperkirakan melampaui US$1 triliun (Rp14 kuadriliun) pada 2025. Layanan dompet elektronik bakal tumbuh lima kali lipat di atas US$114 miliar (Rp1,6 kuadriliun), sementara nilai pinjaman digital diprediksi mencapai US$110 miliar (Rp 1,5 kuadriliun).

Fintech bantu literasi keuangan

Lebih lanjut, riset tersebut menyebutkan lima layanan jasa keuangan digital yang punya potensi besar melakukan transformasi di sektor layanan keuangan. Kelima layanan tersebut meliputi:

  • Pembayaran,
  • Pengiriman uang,
  • Pinjaman,
  • Investasi, dan
  • Asuransi.

Sektor pinjaman diyakini bakal menjadi kontributor utama, dengan pinjaman untuk konsumsi dan kredit UMKM menjadi ujung tombaknya.

Menanggapi perkembangan layanan keuangan digital di Indonesia, Eko Pratomo selaku co-founder startup fintech Halofina mengatakan, “Hadirnya fintech dapat menjadi solusi untuk literasi keuangan dengan edukasi yang semakin kreatif dan menjangkau luas geografi seluruh Indonesia. Ini karena fintech memanfaatkan instrumen-instrumen keuangan yang lebih mudah.”

Menurutnya, Indonesia memiliki dua masalah besar yaitu rendahnya literasi keuangan yang berkaitan dengan kemampuan dan pengetahuan mengelola uang, serta inklusi keuangan untuk sejumlah instrumen-instrumen finansial.

“Di Indonesia, inklusi keuangan di perbankan cukup tinggi. Jumlah orang yang menggunakan instrumen perbankan bisa mencapai enam puluh persen. Seharusnya literasi dan inklusi keuangan dapat berbanding lurus,” papar Eko.

Menurut estimasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dari target pencapaian inklusi keuangan sebesar 75 persen tahun ini, kenyataannya baru akan mencapai 65 persen. Penyebabnya, meski sudah ada sekitar 65 persen penduduk Indonesia yang terhubung internet, belum seluruhnya terkoneksi dengan layanan keuangan.

Masih banyak pekerjaan rumah untuk Indonesia

Data Inklusi Keuangan Asia Tenggara e-Conomy 2019 | Infografik

Sumber: Laporan e-Conomy SEA 2019 dari Google, Temasek, dan Bain & Company

Hasil riset dari Google dkk. memiliki perbedaan dari estimasi yang dikeluarkan OJK. Berdasarkan data dari Google, porsi masyarakat unbanked di Indonesia mencapai separuh dari total populasi orang dewasanya. Ini berbeda dari perkiraan OJK yang ada di angka 35 persen.

Negara dengan porsi jumlah penduduk dalam kategori banked terbanyak adalah Singapura dengan angka 60 persen dari populasi 5 juta orang dewasa. Indonesia berada di posisi keempat setelah Malaysia dan Thailand dengan 42 juta orang (23 persen) dari total populasi penduduk dewasa 181 juta.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

 

This post Fintech Jadi Tumpuan untuk Tingkatkan Inklusi Keuangan di Asia Tenggara appeared first on Tech in Asia Indonesia.