Press "Enter" to skip to content

Halofina – Aplikasi Perencana Keuangan Pribadi dengan Chatbot

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan di Indonesia saat ini hanya 29,66 persen, terendah dibandingkan tiga tetangga di ASEAN yakni Singapura 96 persen, Malaysia 81 persen dan Thailand 78 persen.

Artinya masih banyak orang Indonesia yang belum memahami cara mengelola keuangan masing-masing. Sehingga tidak heran jika banyak yang terjebak dalam investasi ‘bodong’ yang diperkirakan menimbulkan kerugian hingga Rp105 triliun dalam 10 tahun terakhir.

Ancaman ini pun menghantui kelompok milenial yang jumlahnya diperkirakan bakal mencapai 94 juta orang pada 2020 mendatang, atau 35 persen dari total populasi nasional.

Para penggerak perekonomian nasional masa depan Indonesia ini cenderung konsumtif. Banyak yang belum memiliki kemampuan manajemen keuangan yang membuat sekitar 69 persen dari generasi ini tidak memiliki strategi investasi.

Ceruk itulah yang digarap oleh Halofina.id. Sebuah startup asal Bandung yang mulai beroperasi pada 2017 lalu. Startup tersebut menawarkan asistensi bagi generasi milenial yang ingin mulai menata alokasi keuangan mereka.

Caranya dengan berinvestasi saham, reksa dana, obligasi ritel, emas, dan lainnya. Sasarannya merupakan nasabah berusia 25-35 tahun dan berpenghasilan sekitar Rp 7 juta per bulan serta tinggal di kota-kota besar.

Andalkan Robo Advisor

Nama Halofina diambil dari akronim ‘Halo Finansial’, yang bermakna membuka literasi bagi kelompok milenial agar mampu mengola keuangan pribadinya. Serta bisa ‘melek’ terhadap potensi pendapatan dari investasi di sektor keuangan.

Halofina adalah robo advisor guna membantu masyarakat yang ingin berinvestasi dan meningkatkan pengetahuan mengenai literasi keuangan.

Adjie Wicaksana,
CEO and Founder Halofina

Ketika ditemui Tech in Asia di Indonesia Fintech Forum (IFF) 2019 pada Rabu 4 September 2019, Adjie menjelaskan apa itu robo advisor. Teknologi yang menjelma dalam wujud robot mitra bicara interaktif (chatbot) itulah yang berperan melakukan asistensi virtual secara personal. 

Di ranah digital, produk chatbot memang tengah berkembang di Indonesia. Halofina menjamin aplikasi perencana keuangan pribadi mereka itu telah mengikuti standardisasi global dan didukung pakar di industri keuangan.

Rekomendasi cerdas dari robo advisor ditunjang algoritme yang dibangun oleh pakar keuangan, bersama tim produk dan teknis yang akan memberikan rekomendasi cerdas. Rekomendasi itu pun didasarkan pada preferensi keuangan (syariah/konvensional), profil risiko, kondisi keuangan, dan tujuan keuangan dari pengguna masing-masing.

“Saat pertama kali mengakses Halofina, pengguna diarahkan untuk melakukan serangkaian personal assessment yang ditujukan agar sistem mempelajari karakter pengguna dan memberikan rekomendasi terbaik sesuai kondisi inheren mereka.”

Dalam rangka upaya meningkatkan literasi keuangan, mereka juga memberikan akses kepada pengguna untuk berkonsultasi dengan penasihat keuangan dan manajer investasi. Semua layanan tersebut telah terangkum dalam aplikasi mobile yang tersedia gratis.

“Kami hanya akan mendapatkan keuntungan melalui sistem commission fee dan subscription fee dari fitur edukasi dan konsultasi keuangan daring (online) di aplikasi,” kata Adjie. 

Mereka juga akan meraup keuntungan dari layanan khusus yang diberikan kepada beberapa klien entitas bisnis. Harapannya, Halofina bisa menjadi wadah bagi masyarakat agar dapat berkontribusi dalam perkembangan keuangan Indonesia melalui investasi berbasis tujuan (goal-based investing).

Mengembangkan fitur konsultasi berbayar

Jumlah pengguna terdaftar Halofina saat ini mencapai 9.000 orang, dengan 1.068 di antaranya merupakan investor aktif. Mereka tersebar di Indonesia -mayoritas di Jakarta dan Bandung- serta beberapa dari luar negeri dengan rata-rata usia 27 tahun.

Sejak soft launching akhir Maret 2019 hingga kini, nilai transaksi Halofina telah manyentuh angka Rp730 miliar. 

Mereka menargetkan dalam 1 tahun ke depan terjadi pengembangan produk termasuk Halofina Syariah dan mampu menggaet pengguna jasa advisory hingga 500.000 orang.

Dalam waktu dekat, mereka berencana membuat produk premium atas layanannya. Beberapa fitur tambahan yang akan ditawarkan adalah konsultasi dengan ahli finansial (financial expert) lewat obrolan (chat) di platform Halofina.

“Kami menamakan layanan itu Finaconsult, targetnya kita rilis pada Oktober 2019,” tutur Adjie. 

Masih mencari pendanaan hingga US$1 Juta

(Kiri-Kanan) Adjie Wicaksana dan Eko P. Pratomo, Founder dan Co-Founder Halofina (Foto: Dailysocial)

Selain Adjie Wicaksana yang seorang alumnus Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB), Halofina juga dikelola Eko P. Pratomo sebagai Co-Founder & Senior Advisor. 

Eko adalah praktisi yang malang melintang lebih dari 20 tahun di industri keuangan dan investasi reksa dana. Ia sempat mendapatkan penghargaan sebagai “Indonesia’s Asset Manager CEO of the Year 2008” dari Asia Asset Management. 

Saat ini Eko dan Adjie menggawangi Halofina bersama 48 staf lainnya. Keduanya sepakat untuk menjalankan bisnis yang berdampak sosial, terutama untuk mendorong tingkat literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. 

Meski di tahun awal pendirian Halofina lebih fokus memberikan literasi keuangan baik secara online maupun offline seperti workshop dan training di sejumlah perusahaan, namun konsep untuk menjadi fintech telah direncanakan sejak awal berdiri.

Hingga pada akhirnya di 2018, Halofina mulai mendalami dunia fintech dan fokus pada Personal Finance Management (PFM) 

Proses pendanaan Halofina di awali dengan dana dari Eko dan Adjie (bootstrap) sampai akhir 2018. Setelah itu Halofina meraih pendanaan tahap pre-seed dari 3 venture capital (VC) yaitu Plug & Play Indonesia, Rekanext dan Radhika Jaya. 

“Tahun ini, Halofina sedang berproses untuk mendapatkan dana pre-series A dengan target US$1 juta (sekitar Rp14 miliar),” ujar Adjie.

Untuk itu, selain serius bernegosiasi dengan VC, pihaknya pun menyasar kerja sama dengan berbagai fintech, bank, fund manager serta lembaga keuangan lain untuk memperkuat layanan. Mereka juga terus memperkuat komponen artificial intelligence pada platform Halofina. 

Rajin ikut kompetisi

Adjie Wicaksana, CEO and Founder Halofina saat mengikuti Wirausaha Muda Mandiri 2018.

Ketika ditemui Tech in Asia di IFF 2019 lalu, Halofina menjadi kampiun pitching competition yang digelar Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gajah Mada (Kafegama) tersebut. Kompetisi ini diikuti seratus startup P2P lending dari seluruh Indonesia. 

Setelah melewati beragam seleksi yang dilakukan tim juri antara lain, Wakil Ketua dewan Komisioner OJK, Nurhaida, CEO PT Mandiri Capital Indonesia, Eddi Danusaputro, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indoensia (AFPI) Adrian Gunadi serta Direktur Bisnis Konsumer BNI, Anggoro Eko Cahyo, Halofina terpilih sebagai peserta terbaik. 

Juri memilih delapan startup finalis terbaik. Selain Halofina, keluar sebagai runner-up adalah Crowde.co dan Portofolio.co.id yang didaulat menjadi pemenang ketiga.

Pada kompetisi ini, Halofina meraih suntikan modal (capital injection) senilai Rp100 juta. Sebelumnya, mereka juga jadi pemenang pertama Wirausaha Muda Mandiri 2018 untuk kateogori fintech dan mendapat dana segar Rp200 juta. Serta finalist Swiss Innovation Challenge Asia Indonesia 2019.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Halofina – Aplikasi Perencana Keuangan Pribadi dengan Chatbot appeared first on Tech in Asia Indonesia.