Press "Enter" to skip to content

IATA Akuisisi Startup Transportasi On-demand Anterin

PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA) telah menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi mayoritas saham PT Anterin Digital Nusantara (Anterin). Proses akuisisi startup layanan transportasi on-demand itu diperkirakan selesai pada akhir Februari mendatang.

Sayangnya mereka tidak mempublikasikan nilai transaksi yang disepakati. Wakil Presiden Direktur Indonesia Transport & Infrastructure Wishnu Handoyono menyatakan, keputusan ini sejalan dengan strategi IATA untuk memasuki industri transportasi on-demand yang sejauh ini didominasi Grab dan Gojek. 

Lewat aksi korporasi ini, mereka berniat mengembangkan lini bisnis Anterin yang lain, seperti pengantaran makanan, layanan taksi, serta rental mobil hingga helikopter.

IATA memilih Anterin karena visinya. Anterin dibentuk untuk mengubah konsep operasional platform ride-hailing yang saat ini tersedia di pasar.

Wishnu Handoyono,
Wakil Presiden Direktur Indonesia Transport & Infrastructure

Berbeda dengan platform lain, Anterin tidak membebani potongan komisi pada setiap transaksinya. Sebagai pengganti, mereka menerapkan sistem biaya langganan bulanan yang dianggap lebih menguntungkan bagi pengemudi.

Co-founder dan Chief Technology Officer Anterin Rachmat Efendi menyatakan, Anterin memang memiliki pendekatan berbeda dalam pengembangan bisnis. Perusahaan tak menggunakan strategi bakar uang untuk meningkatkan traffiknya.

Kebijakan tarifnya pun berbeda dengan Grab dan Gojek. Platform Anterin menggunakan sistem lelang yang memungkinkan pengemudi dan pengguna untuk menentukan tarif sendiri tanpa menggunakan standar tarif yang ditentukan perusahaan.

“Kami memiliki sistem yang berbeda. Mitra pengemudi dapat menentukan harga mereka sendiri. Pelanggan juga memiliki preferensinya sendiri, berdasarkan harga, kendaran atau pengemudi,” ujarnya seperti dikutip dari KrAsia.

Anterin adalah startup ride hailing yang didirikan oleh Imron Hamzah dan Rachmat Efendi pada 2016. Sejak beroperasi pada 2018, perusahaan belum pernah melakukan penggalangan dana dari investor. Tak hanya memiliki layanan transportasi online, mereka juga memiliki layanan pengiriman barang.

Dibandingkan pesaingnya seperti Grab dan Gojek, skala bisnis Anterin memang belum terlalu besar. Saat ini, mereka memiliki lebih dari 300.000 pengemudi terdaftar dan 530.000 pelanggan, serta beroperasi di 51 kota di Indonesia.

Sementara IATA merupakan perusahaan penerbangan yang berdiri sejak 1968 di Indonesia. Mereka tercatat di Bursa Efek Indonesia (IDX) pada 2006. Pemegang saham utama IATA adalah konsorsium Oxley Capital Investment sebesar 10 persen dan PT Global Transport Services yang terafiliasi dengan MNC Group sebesar 8,68 persen. Sisa sahamnya dimiliki oleh publik.

IATA sejauh ini terkenal sebagai menyediakan berbagai layanan aviasi seperti penyewaan helikopter, jet, hingga pesawat turbo propeller yang banyak digunakan oleh perusahaaan besar seperti perusahaan minyak dan gas.

Mereka berencana untuk mengeksplor kemungkinan kerja sama dengan perusahaan lain seperti perkebunan, pertambangan, serta instansi pemerintah di masa mendatang.

Aksi merger dan akuisisi (M&A) ini turut mewarnai ketatnya persaingan startup di industri ride-hailing. Regulasi pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan mengenai penetapan tarif nyatanya tak menyurutkan niat para pemain baru di sektor tersebut.

Selain Gojek dan Grab, terdapat sejumlah startup ride hailing yang saat ini juga beropreasi di Indonesia. Mereka antara lain Bonceng, Cyberjek, Be-Jek, Mang-Jek dan Bitcar. Ada juga pemain asing yang baru mencoba peruntungannya seperti Fastgo asal Vietnam.


(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post IATA Akuisisi Startup Transportasi On-demand Anterin appeared first on Tech in Asia.

The post IATA Akuisisi Startup Transportasi On-demand Anterin appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: