Press "Enter" to skip to content

Jaga Konsistensi dan Sinergi Kebijakan untuk Kawal Rupiah

JAKARTA—Rupiah dalam beberapa pekan terakhir cenderung menguat. Sejak Januari 2019 hingga  awal Juni rupiah telah menguat sekitar 2%, sementara di periode yang sama tahun lalu rupiah justru melemah di kisaran 5%.

Tenaga Ahli Utama Kedeputian III Bidang Ekonomi Kantor Staf Presiden, Tri Yanuarti menyatakan bahwa penguatan rupiah tersebut dipengaruhi oleh kondisi global dan domestik. Dari sisi global, saat ini investor tengah mengantisipasi terjadinya penurunan Fed Fund Rate (FFR) seiring menguatnya indikasi pelemahan ekonomi Amerika Serikat (AS). Investor kembali mencari alternatif investasi ke negara-negara yang memiliki prospek pertumbuhan ekonomi baik, termasuk Indonesia. Sementara itu, dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi yang baik, surplus neraca perdagangan, dan kenaikan rating utang Indonesia oleh S&P menunjukkan kondisi fundamental perekonomian yang baik. “Di kondisi sekarang, prospek Indonesia cukup bagus. Wajar apabila investor asing mengalirkan dananya ke Indonesia,” ujarnya.

S&P dalam laporannya menunjukkan bahwa secara rata-rata dalam 10 tahun terakhir, pendapatan riil per kapita Indonesia tumbuh meyakinkan sebesar 4,1%, jauh lebih tinggi daripada negara peers yang tercatat rata-rata sebesar 2,2%. Ini menunjukkan dinamika ekonomi Indonesia yang konstruktif di tengah lingkungan eksternal yang penuh tantangan dalam beberapa tahun terakhir.

Ke depan, berbagai faktor risiko diperkirakan masih akan membayangi pergerakan nilai tukar rupiah. Ketidakpastian global masih tinggi, terutama terkait dengan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, faktor geopolitik di Timur Tengah, dan dampak sanksi AS terhadap Iran. Artinya, menjaga kinerja ekonomi Indonesia tetap baik perlu dipertahankan. Selain itu, konsistensi pemerintah dalam melanjutkan reformasi struktural serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter juga penting untuk mengawal pergerakan rupiah.

Mengawal Rupiah

tri2Menurut Tri, kebijakan nilai tukar berbeda pengaruhnya dengan kebijakan perdagangan. Kebijakan perdagangan memiliki target sehingga dapat diarahkan untuk mendorong sektor tertentu. Sebaliknya, nilai tukar memiliki spektrum pengaruh yang luas. Penguatan atau pelemahan rupiah akan dirasakan oleh semua pihak baik eksportir maupun importir. “Kita tidak bisa membuat Rupiah terlalu kuat, maupun terlalu lemah. Yang terpenting adalah menjaga stabilitas nilai tukar. Level nilai Rupiah disesuaikan dengan faktor fundamentalnya,” ujarnya.

Untuk memanfaatkan momentum, ada beberapa strategi yang perlu terus dilakukan. Menurut Tri, berbagai kebijakan yang sudah digulirkan sejak tahun lalu untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan penting untuk terus dipertahankan. Misalkan, kebijakan untuk mengurangi tekanan impor melalui B20 yang saat ini sudah mulai terlihat efeknya. Selain itu, reformasi struktural yang juga sudah mulai berjalan perlu untuk dilanjutkan. Tri juga meyakini bahwa optimisme dukungan pemerintah akan berlanjut di periode selanjutnya.

Sementara itu, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mendorong kestabilan nilai Rupiah.

Pertama, upaya dari sisi riil dengan memperbaiki defisit transaksi berjalan dan struktural, terutama peningkatan investasi. Iklim investasi perlu untuk terus didorong dengan memperbaiki ease of doing business (EODB). Selain itu, antisipasi dampak perang dagang juga perlu untuk dilakukan karena Tiongkok akan melakukan pengalihan dan mencari pasar baru.

David Sumual, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) juga mengamini bahwa sumber alternatif pendapatan yang lebih berkelanjutan perlu untuk ditingkatkan, misalnya melalui sektor jasa atau soft industry. Kebijakan yang akan dilakukan ke depan untuk mendorong pembangunan sumber daya manusia sudah tepat.

Kedua, melalui pendalaman pasar, terutama untuk mengurangi peran hot money. Dalam beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan untuk meningkatkan pendalaman pasar, seperti Domestic Non Delivery Forward (DNDF), lindung nilai (hedging), dan perbaikan pasar swap. Selain itu, pengembangan pasar keuangan juga dilakukan dengan menyediakan alternatif investasi masyarakat melalu penerbitan Surat Utang Negara (SUN).

Terakhir, mendorong sinergi kebijakan. Pengalaman tahun 2018 menunjukkan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas makroekonomi telah berhasil menyelamatkan Indonesia dari turbulensi akibat tekanan global. Oleh karena itu, sinergi kebijakan antar otoritas yang telah terjalin dengan baik perlu terus dipertahankan dalam menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi ke depan.

Go to Source
Author: editor 3

Gus Fik
Follow me
%d blogger menyukai ini: