Press "Enter" to skip to content

Kisah di Balik Startup Gulung Tikar: Bubar karena Konflik para Co-founder

Kegagalan dalam berbisnis adalah hal biasa, apalagi bagi suatu startup yang baru dirintis. Namun, apa jadinya bila kegagalan itu menimpa sebuah startup yang pernah dipandang banyak pihak akan menjelma menjadi besar?

Adam (bukan nama sebenarnya), mantan co-founder dari suatu startup, berbagi kisah kegagalan hingga pelajaran yang ia dapatkan dari bisnis sebelumnya kepada Tech in Asia. Atas permintaan narasumber, kami tidak mengungkap nama startup yang pernah ia bangun.

“Sebenarnya apa yang kurang dari startup kami? Kami dianggap pionir karena produk yang kita kelola sudah sangat spesifik dengan pasar dalam negeri,” kenang Adam. ”Karena menggarap sektor yang sangat populis, kita juga mendapat support dari pasar, pemerintah daerah, instansi terkait, hingga media.”

Pun dukungan pendanaan dari berbagai perusahaan modal ventura sudah ia dapatkan, serta berpotensi membesar. Ia bahkan mengaku startup yang didirikannya pernah mendapatkan tawaran untuk diakuisisi.

Terpaan sederet masalah

Meski telah mendapat beragam dukungan, startup Adam tak kunjung mencapai potensi terbesarnya. Ia merinci beberapa masalah yang dihadapi perusahaannya. Masalah-masalah tersebut tidak tertangani dengan baik, bahkan akhirnya justru membuat usahanya terpaksa harus gulung tikar.

  • Pasar mulai stagnan. Setelah beberapa tahun menggarap pasar usaha akar rumput, bisnisnya mengalami stagnasi akibat pertumbuhan jumlah mitra berjalan lamban. Tim akuisisi yang dibentuk perusahaan tidak mampu menambah mitra secara signifikan.

    Setelah beroperasi cukup lama, perusahaan hanya mampu merangkul sekitar 5.000 mitra, atau hanya 0,18 persen dari total potensi pasar sasaran yang ia sebut mencapai 4,4 juta di seluruh Indonesia.
  • Hubungan kemitraan tak terjalin erat. Perusahaan tidak mampu menciptakan hubungan kemitraan yang kuat dan menumbuhkan loyalitas dari mitra. Produk yang diciptakan perusahaan tidak menjadi solusi utama bagi mitra, dan hanya menjadi opsi sampingan
  • Praktik lama yang sudah mengakar. Perusahaan sulit bersaing dengan para pedagang perantara (makelar) yang masih banyak menerapkan sistem ‘ijon’ kepada mitra bisnisnya.

    Para makelar memberi modal di awal kepada mitra sebagai ikatan bisnis eksklusif. Banyak juga para mitra yang dimanfaatkan makelar sebagai mata-mata untuk memantau gerak bisnis startup.
  • Popularitas dan janji yang tidak tuntas. Bisnis yang melesat cepat ternyata dimanfaatkan pihak-pihak lain untuk mendompleng ketenaran. Kedekatan dengan sejumlah pihak tidak serta-merta memuluskan jalan bagi pertumbuhan perusahaan.

    Sanjungan dan penghargaan tidak berbanding lurus dengan realisasi janji dari pihak-pihak terkait. Belum lagi adanya mitra titipan dari sejumlah oknum yang sejatinya hanya berperan sebagai makelar saja.

Tim tidak kompak

Di antara beragam kendala yang dihadapinya, Adam mengaku faktor utama yang ia pernah hadapi adalah perbedaan visi dengan sesama pendiri (co-founder). Titik nadir ketidakselarasan itu muncul beberapa tahun setelah perusahaan berdiri.

“Kita bahkan sudah ditawari untuk diakuisisi … Buat saya itu adalah kesempatan besar, karena kita bisa lebih berkembang dengan dukungan platform dan tim yang sudah lebih mapan,” ujar Adam. Sementara sang rekan memandang sebaliknya. Menurutnya itu adalah cara untuk mematikan mereka sebagai pesaing.

“Namun saya melihatnya lebih karena ia merasa posisinya terancam … sementara saya tetap jadi CEO karena memimpin anak usaha. Itu hal wajar, karena dengan akuisisi itu maka sistem kita akan dilebur.”

Hal itu pun berdampak pada munculnya friksi yang semakin tajam setelah adanya dua kubu dalam perusahaan yang masing-masing menginduk pada salah satu co-founder. Akibatnya, dalam waktu hanya dua bulan, terjadi kekacauan pada perusahaan. “Sampai kita tidak bisa lagi bertransaksi dengan merchant.”

Sang rekan bahkan meminta modal awal saat mereka bootstrapping dikembalikan, beserta hitungan pembagian keuntungan dan aset perusahaan. Ditambah lagi dengan tidak boleh dipergunakannya nama dan logo perusahaan yang memang berasal dari usulannya. “Itu artinya perusahaan harus bubar, karena kami mendirikan bersama. Saya tidak punya pilihan.”

Tech in Asia sudah berupaya menghubungi dan meminta tanggapan dari sang co-founder. Hingga artikel ini dipublikasikan, kami belum menerima respons.

Stressed | Photo 1

Empat pelajaran yang bisa dipetik

Berkaca dari kegagalan tersebut Adam mengaku mendapat pengalaman berharga untuk tidak kembali mengulang kesalahan yang sama. Menurutnya setidaknya ada empat pelajaran yang ia petik:

  • Komposisi tim beragam dengan struktur terbuka. “Kita harus mempersiapkan tim yang beragam dengan keahlian yang berbeda. Ini penting, karena bila startup hanya terdiri dari divisi yang didasari oleh kompetensi para founder, akan banyak masalah yang tidak tertangani karena memang di luar keahlian,” ujar Adam.

    Pengelompokan tim dengan menginduk pada sosok pendiri sangat rawan menimbulkan friksi, karena masing-masing akan menjadikan tim itu layaknya prajurit yang hanya patuh pada garis komando vertikal.
  • Pembagian posisi dan kontribusi yang jelas. “Para founder hendaknya mengantisipasi potensi masalah yang akan muncul dalam perkembangan perusahaan. Hal ini terkait dengan posisi dan kontribusi dari masing-masing founder harus jelas diatur oleh perjanjian hitam di atas putih.”

    Potensi perselisihan antara founder merupakan masalah fatal yang membuat startup akan makin tenggelam dalam keterpurukan. Meski sesama co-founder sudah saling mengenal secara pribadi, bersahabat, atau bersaudara sekalipun, pembagian peran hingga hak dan kewajiban masing-masing harus diatur dengan detail dalam akta pendirian perusahaan.

    Termasuk di dalamnya memperkuat posisi tawar dengan investor supaya tidak ada intervensi yang terlalu jauh terhadap manajemen maupun arah kebijakan dan strategi bisnis perusahaan.
  • Proyeksi kebutuhan pendanaan yang terukur. Founder harus mampu menghitung kebutuhan pendanaan secara terukur. Kucuran investasi yang jauh di atas kebutuhan perusahaan justru akan menjadi jebakan yang akan membuat manajemen terlena.”

    Misalnya, dana yang berlebih membuat hitungan anggaran untuk operasional perusahaan maupun pembiayaan untuk mengeksekusi strategi perusahaan cenderung longgar.

    “Manajemen kurang peka terhadap prinsip efisiensi dan jadi permisif terhadap pemborosan. Kami baru sadar ketika laporan keuangan tahunan menunjukkan neraca perusahaan defisit karena besarnya inefisiensi di saat kinerja perusahaan semakin menurun.”
  • Optimalkan kemampuan organik. Tim marketing organik yang kuat adalah salah satu fondasi kesuksesan startup. Janji dari berbagai pihak untuk membantu promosi bisa menjadi jebakan yang membuat kita overconfident (percaya diri berlebihan) terhadap popularitas dari platform yang kita miliki.”

    Ia mengaku sempat terlena dengan beragam penghargaan, pujian hingga janji dukungan dari beragam pihak, hingga ekspos yang gencar di media. Namun janji-janji tersebut banyak yang tidak terealisasi.

    Bahkan ada kalanya kedekatan dengan pihak-pihak seperti itu hanya akan membuat founder terjebak dalam rutinitas seremonial dibanding fokus mencari peluang membesarkan pasar dan mengembangkan produk/layanan.

    Lobbying itu penting, namun kita harus bisa mengenali mana yang memang bakal berimbas terhadap pertumbuhan usaha atau hanya sekadar membuat founder jemawa saja, merasa sebagai entrepreneur sukses dengan akses ke pusat-pusat bisnis dan kekuasaan.”

Takkan berhenti dan mati 

Meski telah mengalami hal pahit, Adam mengaku tidak kapok untuk kembali membangun startup. Namun ia mengaku tengah berkonsentrasi untuk mencari solusi penyelesaian kewajiban perusahaan setelah usahanya kolaps. Mulai dari pengembalian investasi, bayar utang-utang kepada mitra, hingga membagi aset dengan co-founder.

“Saya juga tengah menginkubasi startup lagi, mudah-mudahan tidak akan gagal lagi karena kali ini konsepnya jauh lebih matang, terencana dan terukur. Yang pasti saya takkan berhenti dan membiarkan semangat saya mati.”

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Kisah di Balik Startup Gulung Tikar: Bubar karena Konflik para Co-founder appeared first on Tech in Asia Indonesia.