Press "Enter" to skip to content

Kondisi Iklim Investasi Startup di Indonesia dan Potensi Bubble Burst yang Menyertai

Ada banyak momentum berharga di dunia startup sepanjang tahun 2019 lalu. Selain susunan kabinet baru Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin yang memberikan angin segar bagi industri digital Indonesia. Sejumlah tokoh startup ikut pula bergabung dalam pemerintahan.

Nadiem Makariem rela menanggalkan posisinya sebagai CEO di Gojek untuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Belva Devara selaku CEO RuangGuru dan Andi Taufan, CEO Amartha menjadi staf khusus presiden mewakili anak muda.

Salah satu unikorn Indonesia juga berganti kepemimpinan. CEO Bukalapak Achmad Zaky mundur dan digantikan oleh Rachmat Kaimuddin, seorang bankir dari Bank Bukopin.

Perubahan pemerintahan dan kondusifnya politik di tanah air berkolerasi dengan pendanaan startup. Arus investasi yang mengalir masih cukup deras. Berdasarkan riset Startup Report 2019 yang dipublikasikan oleh Daily Social, total investasi tercatat sebanyak US$2,8 miliar atau setara Rp40,2 triliun dari 59 pendanaan yang diumumkan nominalnya.

Angka tersebut belum menggambarkan investasi secara menyeluruh, mengingat terdapat 44 pendanaan startup yang tidak diumumkan nilainya. Hal ini menegaskan angka final keseluruhan investasi bisa jauh lebih besar dari yang tertera.

Catatan di atas menggambarkan, iklim investasi di Tanah Air masih cukup menggairahkan. Sayangnya, hal yang berbeda terjadi di Amerika Serikat. Gagalnya langkah WeWork melakukan IPO (Initial public offering) membuat beberapa investor mulai mempertanyakan valuasi tinggi para unikorn teknologi. Tidak terkecuali yang berada di Asia Tenggara.  

Fenomena itu memunculkan kekhawatiran mengenai risiko pecahnya gelembung ekonomi (bubble burst) di dunia startup Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Investor hati-hati demi terhindar bubble

Pendanaan Startup uang Vertex Ventures

Meski laporan dari Bain & Company, Temasek, dan Google menyebut Indonesia dan Vietnam punya potensi ekonomi digital paling besar di Asia Tenggara. Bahkan digambarkan memiliki nilai ekonomi digital mencapai angka US$130 miliar (sekitar Rp1,8 kuadriliun) pada 2025 mendatang. Potensi bubble tetap ada di startup Indonesia.

Karena itu sejumlah investor cenderung selektif dan hati-hati dalam menginvestasikan dananya. Meski beberapa yang lain masih cukup optimistis dalam membelanjakan anggaran. Eng Seet selaku VP Investment Openspace Ventures dan Raditya Pramana selaku Partner of Venturra Discovery punya pandangan yang sama.

Eng Seet menilai tahun ini umumnya investor optimistis akan iklim investasi startup tetap positif. Namun, memetik pelajaran dari kasus WeWork dan Uber di Amerika Serikat, investor akan lebih hati-hati dan selektif dalam memilih model bisnis startup untuk diinvestasikan.

Pasar Indonesia masih positif, hanya tinggal bagaimana mengevaluasi peluangnya sebaik mungkin.

Eng Seet,
VP Investment Openspace Ventures

Sementara itu, Raditya menyatakan sentimen publik yang positif terhadap perusahaan teknologi turut mendorong meningkatnya antusiasme perusahaan teknologi di Amerika Serikat untuk melakukan IPO. Pada perjalanannya memang rencana tersebut tak selalu berjalan mulus. Hal itu bisa memicu koreksi terhadap valuasi startup dan pendanaan dalam setahun-dua tahun mendatang.

“Sekarang adalah saat yang tepat untuk para pendiri startup membangun fondasi yang kuat dan menggalang dana lebih besar untuk persiapan beberapa tahun mendatang,” ujarnya.

Venturra Discovery yang dibentuk sekitar setahun lalu merupakan anak usaha Venturra Capital yang khusus mendanai pendanaan tahap awal (seeds funding) untuk startup di Asia Tenggara. Pada setiap kesepakatan, pihaknya biasa mengucurkan dana senilai US$200 ribu hingga US$500 ribu (sekitar Rp2,8 hingga Rp7 miliar).

Optimis dengan iklim investasi di Indonesia

startup pasca pendanaan | feature

Jika WeWork dianggap bisa memicu koreksi, Willson Cuaca selaku Managing Partner East Ventures menilai, dampak gagalnya IPO WeWork tidak akan berpengaruh terhadap iklim investasi di Indonesia.

Dia melihat potensi di Indonesia masih sangat besar, dan pembangunan infrastruktur digital yang dilakukan oleh pemerintah selama beberapa tahun terakhir juga akan mulai terasa dampak positifnya di tahun-tahun mendatang.

Ia menyebut dari segi pendanaan, jumlah investasi yang tersedia juga semakin besar. East Ventures contohnya. Mereka baru-baru ini menutup pendanaan tahap awal (seed fund) senilai US$75 juta (sekitar Rp1 triliun) pada Agustus 2019.

Sementara EV Growth pada akhir tahun lalu juga menutup pendanaan US$250 juta (sekitar Rp3,4 triliun), di mana 50% dari pendanaan tersebut telah diinvestasikan.

Willson menyebut jumlah dana investasi berpotensi terus bertambah seiring dengan penggalangan dana yang dikelola. Pihaknya bahkan memproyeksikan dana kelolaan mencapai US$325 juta (setara Rp4,4 triliun) bakal tersedia untuk startup di Indonesia selama beberapa tahun mendatang.

“Kita tidak takut correction, karena potensi Indonesia masih besar dan digital economy itu masih belum mainstream. Kalau dari EV, [investasi startup] masih sangat bullish tahun ini,” ungkapnya.

Associate Director Risk Advisory Delloitte Erwin Louise menjelaskan, iklim investasi sangat dipengaruhi oleh dua faktor. Internal maupun faktor eksternal.

  • Dari faktor internal, komitmen pemerintah untuk mempermudah investasi dan mendukung pengembangan ekonomi digital menjadi sinyalemen bagus bagi para investor. Regulasi yang kondusif juga menjadi salah satu indikator penentu.
  • Sementara dari faktor eksternal, perang dagang Amerika Serikat dan Cina bisa menjadi salah satu faktor penghambat investasi.

Strategi bakar uang jadi pemicu bubble burst

pendanaan | featured image

Erwin Louise mengatakan, tidak perlu mengkhawatirkan dampak WeWork. Risiko bubble burst dalam dunia digital sebetulnya terdapat pada aksi bakar uang yang kerap dilakukan oleh para pelaku startup, mulai dari e-commerce, hingga fintech.

Promosi dan pemasaran besar-besaran yang biasanya berbentuk cashback, diskon, voucher hingga gratis ongkos kirim tersebut memang efektif dalam meningkatkan traffik pengguna. Namun di lain sisi juga akan membebani arus kas perusahaan.

Erwin melihat tahun 2020 ini tren bakar uang akan mulai bergeser. Ini melanjutkan gejala yang telah terlihat sejak tahun lalu. Perusahaan teknologi kata Erwin tengah mengurangi porsi bakar uang dan mulai memutar otak menggantinya dengan inovasi lain bagi pelanggan.

Tahun lalu sejumlah e-commerce seperti Bukalapak dan Tokopedia memang telah menyatakan komitmennya untuk meraih profitabilitas dalam waktu dekat. Bahkan, mereka juga telah mengungkapkan keinginannya untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) ke publik.  

“Strategi yang mereka pakai harus melakukan monitoring sampai berapa dalam menginvestasikan marketing expense-nya. Pada satu titik, bakar uang ini harus stop, karena bukan business model yang sehat dan akan membebani perusahaan ke depannya,” kata Erwin.

Ia juga menyatakan, upaya mengurangi bakar uang itu setidaknya dapat mengantisipasi risiko bubble burst yang mungkin terjadi. Namun pada akhirnya, kendali mengenai hal tersebut tak hanya berada di tangan manajemen perusahaan, tetapi juga di tangan para investor atau pemegang saham perusahaan teknologi tersebut.

“Bakar uang sepertinya belum akan berhenti total tahun ini, karena mereka juga tidak mau volume penjualannya turun sangat drastis. Sambil mengurangi, mereka akan cari inovasi bisnis lain. Jadi pada saat mereka stop bakar uang, inovasinya sudah jalan,” ujarnya.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Kondisi Iklim Investasi Startup di Indonesia dan Potensi Bubble Burst yang Menyertai appeared first on Tech in Asia.

The post Kondisi Iklim Investasi Startup di Indonesia dan Potensi Bubble Burst yang Menyertai appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: