Press "Enter" to skip to content

Lewat Program SheWorkz, Zilingo Hendak Dirikan Pabrik Mikro bagi Perempuan

Platform e-commerce fesyen Zilingo mengumumkan inisiatif terbarunya bernama SheWorkz. Ini adalah sebuah program manufaktur terdesentralisasi yang memberdayakan perempuan pelaku usaha mikro.

Melalui program ini, Zilingo tak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga menyediakan akses keuangan untuk membantu kelompok perempuan mendirikan “pabrik mikro” (pusat produksi kecil) untuk memproduksi pakaian, serta mendistribusikannya lewat pengelola brand pakaian yang bekerja sama dengan Zilingo.

Menurut Co-Founder dan CEO Zilingo Ankiti Bose, perempuan merupakan kalangan yang kurang terwakili dalam lanskap ekonomi global. Di Asia Selatan dan Tenggara, ia menyebut jumlah perempuan angkatan kerja hanya 31 persen dari keseluruhan tenaga kerja, serta hanya menyumbang 24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Padahal, laporan dari McKinsey Global Institute menyebut bahwa peningkatan kesetaraan gender di tempat kerja dapat menambah US$12 triliun (sekitar Rp170 kuadriliun) terhadap PDB global pada 2025.

Banyak perempuan tersisihkan dari angkatan kerja, dan kita harus melakukan sesuatu karena ini bukan hanya masalah sosial tetapi juga masalah ekonomi.

Ankiti Bose,
Co-Founder dan CEO Zilingo

Bose mengisahkan proses pematangan ide hingga eksekusi program SheWorkz hanya membutuhkan sembilan puluh hari karena kesamaan visi tim. Sejak awal, program ini memang diniatkan untuk diluncurkan pertama kali di Indonesia sebagai pasar terbesar dari Zilingo. Program serupa juga bakal diluncurkan di negara lain, seperti Thailand, Filipina dan India.

Tahapan program SheWorkz

Program SheWorkz terdiri dari empat tahap:

  • Zilingo akan mengidentifikasi kelayakan dan melatih tiga ratus perempuan dari komunitas lokal di Jakarta, Cirebon, dan Tasikmalaya. Mereka bakal mendapatkan pelatihan keterampilan seperti pembuatan batik, desain pola, menjahit, kewirausahaan, hingga literasi keuangan selama dua puluh hari.
  • Para peserta dikelompokkan berdasarkan tingkat keterampilan dan letak geografis untuk membentuk pabrik mikro.
  • Zilingo menghubungkan pabrik mikro dengan pasar global melalui jaringan miliknya untuk dapat menerima pesanan dari pengelola brand. Saat ini terdapat setidaknya 60.000 brand pakaian global yang memasok bahan dari platform Zilingo.

Zilingo menyediakan akses kredit mikro melalui berbagai program Kredit Usaha Rakyat (KUR), Bank Mandiri, BNI, serta BRI. Besaran kredit yang dikucurkan berkisar US$5.000 (Rp70,9 juta) hingga US$10.000 (Rp141,81 juta). Untuk menghindari adanya kredit macet, Zilingo memanfaatkan data transaksi para penjual yang ada di platformnya.

Menurut Bose, program SheWorkz tak hanya sekadar upaya pemberdayaan demi dampak sosial, melainkan lebih dari itu, juga turut menopang bisnis Zilingo dalam memenuhi kebutuhan brand. Hal ini juga sesuai dengan mimpi yang ingin dicapainya untuk membantu para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), juga mengambil peran dalam industri fesyen global.

Jajaki peluang ekspor

Ankiti Bose Zilingo | Photo

Co-founder dan CEO Zilingo Ankiti Bose

Bose menyatakan, bisnis Zilingo tumbuh sangat pesat di Indonesia, baik untuk segmen konsumen ataupun perusahaan. Mengingat pemain e-commerce di segmen konsumen cukup banyak, ia menilai pertumbuhan bisnis dengan sektor perusahaan jauh lebih cepat.

“Bisnis B2B kami beroperasi di tiga belas negara, dan Indonesia menjadi pasar terbesar dengan pertumbuhan yang tercepat. Pencapaian Zilingo Indonesia selalu melampaui target,” ujar Bose.

Bose menilai Zilingo tidak berkompetisi dengan pemain e-commerce lainnya. Menurutnya, Zilingo justru berperan sebagai enabler bagi para pemain e-commerce sektor konsumen. Perusahaannya menyediakan solusi lengkap dari hulu ke hilir, dari pemasok rantai baku fesyen, manufaktur, brand, kanal, hingga konsumen.

Zilingo telah memanfaatkan pendanaan Seri D senilai US$226 juta (sekitar Rp3,16 triliun) pada Januari 2019 untuk meningkatkan skala bisnisnya pada tiga area, yaitu teknologi rantai pasok bagi pabrik, layanan pembiayaan, dan mengembangkan data science. Menurutnya, pembiayaan dan bisnis berbasis data science akan menjadi fokus perusahaan hingga tiga tahun mendatang.

Bose juga mengungkapkan niatnya untuk menjajaki peluang bisnis baru. Salah satunya menghubungkan produksi pakaian dari negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, dengan permintaan fesyen global demi membuka kemungkinan ekspor pakaian lintas negara. Saat ini, ia menyebut terdapat 60.000 pedagang, 6.000 pabrik yang terhubung dalam platformnya.

“Saat ini bisnis B2B domestik di Indonesia telah cukup besar, tapi kami mendorong untuk lebih banyak pakaian dari Indonesia yang diekspor ke belahan dunia lainnya. Indonesia punya potensi besar dalam industri fesyen muslim, berpotensi untuk diekspor ke Malaysia dan bahkan Amerika Serikat,” ungkapnya.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Lewat Program SheWorkz, Zilingo Hendak Dirikan Pabrik Mikro bagi Perempuan appeared first on Tech in Asia.

The post Lewat Program SheWorkz, Zilingo Hendak Dirikan Pabrik Mikro bagi Perempuan appeared first on Tech in Asia Indonesia.