Press "Enter" to skip to content

Melihat Pasar Startup Furnitur dan Peralatan Rumah Tangga Indonesia

Ketika sebagian besar populasi Indonesia berada di usia akhir 20-an dan awal 30-an, mereka mulai mencapai tahapan kehidupan yang khas. Membangun karier yang stabil dengan pendapatan yang lebih tinggi, menikah, dan membeli rumah pertamanya.

Ledakan permintaan tidak hanya terjadi pada penjualan perumahan, tetapi juga furnitur. Menurut Statista, ukuran pasar untuk furnitur dan peralatan rumah tangga di Indonesia mencapai US$ 2,5 miliar (sekitar Rp34 triliun) pada 2019 – naik 157 persen dari 2017.

Instalasi di experience center Dekoruma. Kredit foto: Dekoruma

Merek-merek lokal seperti Informa serta perusahaan raksasa furnitur Swedia IKEA – yang memasuki Indonesia pada tahun 2014 – merupakan bagian dari pertumbuhan ini. Ketika Indonesia menjadi semakin digital, startup yang fokus pada peralatan rumah tangga dan furnitur pun mulai bermunculan.

Dua startup yang cukup dikenal saat ini adalah Fabelio dan Dekoruma, yang masing-masing didirikan pada 2014 dan 2015. Fabelio telah mengumpulkan US$9 juta (sekitar Rp123 miliar) dalam tiga putaran pendanaan. Sementara, Dekoruma berhasil mengumpulkan “beberapa juta dolar” dalam putaran pendanaan seri B akhir tahun lalu.

Penjualan melalui platform vs penjualan langsung ke konsumen

Meski kedua startup berada dalam ranah bisnis yang sama, ada satu perbedaan utama di antara mereka yaitu struktur perusahaan.

Pada intinya, Fabelio adalah merek direct-to-consumer (DTC), mirip dengan perusahaan produksi kasur asal Amerika Serikat Casper atau toko furnitur Singapura Castlery. Perusahaan merancang, memproduksi, dan menyimpan inventaris produknya sendiri. Mereka memproduksi keseluruhan produk mulai dari bantal, lampu, hingga kasur dan peralatan dapur, lalu menjualnya secara online.

Di sisi lain, Dekoruma berbentuk marketplace seperti Tokopedia atau Bukalapak yang mengkhususkan diri dalam bisnis vertikal berupa penjualan peralatan dan perabotan rumah tangga. Platform mereka menjual jajaran produk yang mirip dengan Fabelio. Dekoruma juga mendapat pasokan dari sejumlah merek termasuk IKEA, Informa, dan kasur merek premium AS King Koil.

Tentu saja, setiap pendekatan memiliki kelebihannya masing-masing. Model platform Dekoruma memungkinkan mereka menawarkan lebih banyak ragam produk dibandingkan dengan Fabelio. Mereka menawarkan 100.000 unit penyimpanan persediaan (SKU) – 20 kali lebih banyak dari Fabelio dengan 4.500 SKU.

Karena Dekoruma tidak memproduksi dan menyimpan produknya sendiri, ini berarti mereka mempunyai aset yang lebih ringan dibandingkan Fabelio. Model Asset-Light ini mungkin terasa lebih ramah bagi investor. Menurut salah satu founder Fabelio Christian Sutardi, poin khusus ini merupakan rintangan penggalangan dana untuk Fabelio di masa-masa awalnya.

Co-founder Fabelio, Christian Sutardi (kiri). Sumber foto: Fabelio

“Banyak hal yang kami lakukan berbeda dengan apa yang investor inginkan, yaitu ekspansif, repetitif, dan efisiensi modal pada perusahaan,” katanya. “Dalam kasus ini, kami mulai membangun inventaris sejak awal, memikirkan ruang pameran, pergudangan, dan truk, berdasarkan perjalanan pelanggan.”

Kedua perusahaan mengklaim bahwa unit ekonomi mereka “positif,” tetapi keuntungan Fabelio menjadi merek DTC bisa beroperasi dengan margin laba yang lebih besar. Sutardi mengklaim perusahaannya memiliki margin kotor 37 persen di luar operasional dan pemasaran (sebagai perbandingan, margin kotor IKEA adalah 40 persen).

Kami melakukan banyak hal yang tidak disukai para investor, tapi sekarang, di era setelah kasus WeWork mencuat, banyak pihak mulai melirik perolehan margin kotor.

Christian Sutardi,
Founder Fabelio

Dekoruma, yang membebani komisi dari setiap penjualan, menolak untuk mengungkap perolehan nilai keuntungan atau margin perusahaan mereka. Salah satu founder dan CEO Dimas Harry Priawan mengatakan komisi yang mereka dapat “berkisar dari satu hingga dua digit,” tergantung pada apakah Dekoruma memberikan nilai tambah tertentu seperti logistik.

“Margin kami tidak akan sebesar merek DTC
bahkan [meskipun kami] menggeluti bisnis mebel, di mana marginnya lebih tinggi
dibandingkan dengan barang elektronik,” kata Priawan. “Tapi komisi kami
masih dalam kategori
sehat.”

Namun, Sutardi melihat Fabelio bukanlah sebagai merek DTC, tetapi “ritel baru” – istilah yang populer digunakan untuk menggambarkan startup yang menggabungkan pengalaman online dan offline. Fabelio memiliki 23 ruang pamer yang tersebar di Jabodetabek, tempat pelanggan dapat melihat langsung produk dan berkonsultasi dengan tenaga penjualan.

Co-founder dan CEO Dekoruma Dimas Harry Priawan. Sumber foto: Dekoruma

Sutardi menjelaskan bahwa lebih dari 90 persen pengunjung offline Fabelio diperoleh secara online. Hal ini memungkinkan perusahaan membuka banyak ruang pamer di lokasi yang tidak terlalu strategis di sekitar pinggiran Jakarta – yang berarti harga sewa lebih murah – dan fokus pada peningkatan kesadaran melalui saluran online mereka.

“Benar-benar tidak repot mengoperasikan ruang pamer yang sangat efisien secara operasional ini. Tempat ini berfungsi seperti ruang pamer mobil – tidak ada manajemen kas atau penambahan stok,” jelasnya. “Itu sebabnya, bagi kami ruang pamer ini berfungsi sebagai model.”

Dengan menggunakan model platform marketplace, berarti Dekoruma berbagi ruang yang sama dengan raksasa e-commerce Indonesia seperti unikorn Tokopedia dan Bukalapak. Tetapi menurut Priawan, masih ada ruang yang cukup bagi para pemain seperti Dekoruma untuk hidup berdampingan.

Dia menjadikan Cina sebagai contoh, di mana kehadiran Alibaba tidak mencegah kemunculan platform dengan target pasar spesifik seperti Haohaozhu, To8to, dan iKongJian.

“Kami terjun semakin dalam ke industri ini. Misalnya saja, kami membangun perangkat lunak khusus, dan akhirnya [kami dapat memperluas bisnis] ke bidang konstruksi dan arsitektur. Saya pikir ini akan menjadi pembeda utama antara model kami versus marketplace A-ke-Z,” katanya. “Ini merupakan visi produk yang berbeda.”

Bergerak melampaui bisnis furnitur

Meskipun pendekatan keduanya berbeda, namun masih memiliki banyak kesamaan, seperti target demografis. Fabelio dan Dekoruma menarget demografis terutama terdiri dari “milenial dewasa” berusia antara 25 hingga 40 tahun, sebagian besar di antaranya adalah pengantin baru yang membeli rumah pertama mereka.

“Mereka biasanya adalah karyawan kerah putih, berpendidikan baik dengan pendapatan berlebih,” ujar Sutardi.

Demografis ini cenderung tinggal di salah satu dari dua tempat:

  • Perumahan di pinggiran Jakarta, yang berarti perjalanan yang lebih lama tetapi harga lebih terjangkau, atau
  • Di apartemen yang dekat dengan pusat kota.

Priawan mengatakan, pertumbuhan apartemen kota yang terjangkau, khususnya, telah menjadi katalis dalam memperluas pasar furnitur dan rumah tinggal. Untuk waktu yang lama di Indonesia, apartemen adalah perumahan bagi warga berpenghasilan rendah yang disubsidi pemerintah atau kondominium mewah dengan fasilitas lengkap.

Sekitar tahun 2012 hingga 2013, kondisi ini mengalami
perubahan ketika pengembang mulai membangun kompleks apartemen dengan harga yang
lebih murah yang ditujukan untuk kaum muda kelas menengah Jakarta.

“Kamu membuka pasar baru di mana
orang-orang dapat membeli rumah […] dekat dengan pusat kota. Ini sangat memengaruhi
bentuk
industri perumahan,” tambah Priawan.

Pada gilirannya, gaya hidup perkotaan di ruang yang lebih kecil telah memengaruhi pemilihan dan pengembangan produk. “Umpan balik dari pelanggan menunjukkan bahwa dengan rumah yang lebih kecil, mereka menginginkan furnitur multiguna atau multifungsi seperti tempat tidur sofa,” kata Sutardi.

Ruang pamer Fabelio di Alam Sutera, suatu kawasan pinggiran Jakarta. Sumber foto: Fabelio

Selain menyediakan produk-produk furnitur
dan peralatan rumah, baik Fabelio dan Dekoruma juga telah mengembangkan layanan desain
interior.

Layanan Fabelio, dinamakan Project by Fabelio, berurusan dengan proyek berskala besar seperti kafe, coworking space, serta perumahan penduduk. Perusahaan bertindak sebagai satu-satunya penghubung dengan klien: Perusahaan memiliki tim desain interiornya sendiri dan mengelola subkontraktor eksternal untuk pekerjaan seperti pemasangan lantai atau pencahayaan. Semua perabot, tentu saja, adalah produk Fabelio.

“Ini alat akuisisi pelanggan bagi kami,” kata Sutardi tentang layanan ini, di mana nilai pesanan rata-rata 15 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pembelian online biasa.

“Pelanggan kami adalah orang yang baru membeli rumah pertama mereka, jadi mereka harus mengisi furnitur seluruh rumah. Orang-orang cenderung memiliki rencana anggaran untuk membeli furnitur, dan tujuan kami adalah meraih sebanyak mungkin anggaran ini.”

Layanan desain interior Dekoruma berbeda karena mengikuti model platform utamanya. Mereka bekerja sama dengan “mitra” desain interior – para profesional yang tidak dipekerjakan oleh perusahaan – namun bekerja berdasarkan proyek.

Model platform mereka juga memungkinkan
Dekoruma merambah ke bagian lain dari rumah dan bangunan tempat tinggal vertikal.
Perusahaan telah menambah informasi daftar penjualan rumah
melalui fitur
Dekohouse, sebuah situs di mana pengguna dapat menelusuri opsi perumahan di
wilayah Jabodetabek, serta dapat berkonsultasi tentang hipotek dan layanan
hukum dari mitra Dekoruma.

“Kami adalah bisnis praktis di bidang perumahaan dan tempat tinggal, jadi kami selalu melihat diri kami berkembang di luar bisnis furnitur,” kata Priawan. “Visi kami tetap sama. Selalu ingin menciptakan pengalaman yang lebih baik bagi pengguna dalam memiliki rumah impian mereka.”

Kami harap kamu menikmati konten premium ini. Jika kamu ingin lebih banyak orang membaca artikel ini dengan membuka kunci akses artikel kepada non-pelanggan, hubungi kami di subscription@techinasia.com.


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Melihat Pasar Startup Furnitur dan Peralatan Rumah Tangga Indonesia appeared first on Tech in Asia.

The post Melihat Pasar Startup Furnitur dan Peralatan Rumah Tangga Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: