Press "Enter" to skip to content

Melihat Perkembangan Kudo Setelah Dua Tahun Diakuisisi Grab

Kios Untuk Dagang Online (Kudo) adalah startup yang fokus dalam pemberdayaan warung tradisional dan bisnis kecil lewat teknologi. 

CEO dan co-founder Kudo Agung Nugroho mengatakan, warung tradisional merupakan bagian dari pilar besar bagi masyarakat Indonesia. Itulah mengapa mereka memilih bisnis pemberdayaan warung sebagai fokus utamanya. 

“Karena masih banyak warung tradisional yang menjalankan bisnisnya tapi kurang produktif,” kata Nugroho. 

Berdiri sejak tahun 2014, Kudo membantu warung-warung tradisional untuk memiliki pelayanan yang lengkap. Seperti menyediakan fasilitas pengisian pulsa, pembayaran tagihan dan tiket perjalanan, hingga kirim dan setor uang.

Warung yang menjadi agen Kudo juga bisa melakukan stok barang grosir lewat aplikasi. Hingga jadi tempat untuk mendaftar jadi mitra pengemudi Grab. 

Tak cukup itu, Kudo juga menjadi sarana online-to-offline (O2O) bagi beberapa e-commerce, seperti Lazada, Elevenia, Berrybenka, dan Sociolla. E-commerce tersebut bisa menggabungkan pengalaman berbelanja online dan offline penggunanya. 

Tumbuh lebih cepat setelah diakuisisi Grab

Agung Nugroho, co-founder dan CEO Kudo

April 2017 Grab resmi mengakuisisi Kudo. Bergabung dengan salah satu raksasa teknologi di Asia Tenggara tentu memberi dampak positif. Contohnya, berkat terintegrasi dengan aplikasi Grab, produk digital Kudo kini tersedia di berbagai wilayah Asia Tenggara di mana Grab beroperasi. 

“Kudo dan Grab bekerja sama dalam semua lini, baik secara bisnis, produk, dan teknologi guna memberikan layanan yang terbaik bagi jutaan pengusaha kecil,” kata Nugroho. 

Dampak positif dari akuisisi Grab juga dirasakan para agen. Mereka bisa mendapat penghasilan tambahan lewat program pendaftaran mitra pengemudi Grab. Hingga September 2019, Nugroho menyatakan sudah lebih dari 800.000 mitra pengemudi Grab yang terdaftar lewat agen Kudo.

Sementara pertumbuhan bisnis, Nugroho memaparkan agen aktif bulanan Kudo tumbuh 3,6 kali lipat semenjak bergabung bersama Grab. Sedangkan angka Gross Merchandise Value (GMV) dan jumlah transaksi bulanan Kudo masing-masing tumbuh 10 kali lipat.

Hanya saja Nugroho enggan memaparkan angka pasti GMV sehingga Tech in Asia sulit melakukan analisis lebih jauh.

Kolaborasi keduanya kata Nugroho juga memudahkan Kudo membangun tim internal yang solid. “Kami bisa membangun talenta yang semakin berkualitas karena mendapatkan manfaat dari world class knowledge transfer dari Grab di Asia Tenggara.”

Tetap fokus meski ditinggal salah satu co-founder

Setelah diakuisisi oleh Grab, Kudo malah kehilangan salah satu co-founder mereka, Albert Lucius. Ia memutuskan meninggalkan Kudo untuk bergabung dengan OVO pada akhir 2018 lalu.

Nugroho mengaku merasa sedikit kehilangan. Namun ia meyakini bahwa kepindahan Albert ke platform pembayaran digital tersebut masih seiring dengan visi awal yang mendasari mereka mendirikan Kudo. 

“Sedari awal visi saya dan Albert sama, meningkatkan taraf hidup masyarakat kelas menengah dengan usaha kecil yang mereka miliki.”

Nugroho meyakini Albert bersama OVO akan tetap mewujudkan visi tersebut, meskipun dengan tantangan dan peran yang berbeda. Bahkan, Nugroho percaya kepindahan Albert justru bisa memuluskan kolaborasi antara Kudo dan OVO, yang sama-sama tergabung dalam ekosistem Grab.

Ia menilai, kolaborasi sinergis ketiga entitas ini sangat dibutuhkan jutaan pengusaha mikro di Indonesia agar bisa tumbuh dan terus bersaing.

Kolaborasi sebelumnya antara saya dan Albert di Kudo semoga bisa berlanjut menghadirkan kolaborasi yang lebih baik, antara Kudo dan OVO.

Agung Nugroho,
CEO dan co-founder Kudo

Kudo memang telah menjalin kerjasama dengan OVO. Kini, agen mereka bisa melayani transaksi digital menggunakan OVO. Hal ini tentu tidak hanya berdampak pada angka penjualan para agen saja, namun juga membantu mempersiapkan mereka terhadap pola transaksi masa depan.

Sementara secara internal, Nugroho menegaskan kepergian Albert tidak menurunkan agresivitas bisnis Kudo.

Hingga September 2019 lebih dari 2,4 juta warung tradisional di 500 kota dan kabupaten Indonesia sudah bergabung menjadi agen Kudo. Nugroho menyatakan pihaknya akan terus mengakuisisi lebih banyak agen dan memperluas jangkauan mereka hingga menyentuh 4,5 juta warung.

Kudo BNI

Selain akuisisi agen, Kudo juga gencar menjalin kolaborasi dan mengembangkan produk.

Salah satu yang pernah dilakukan pada Mei 2019 lalu, mereka menjalin kerjasama strategis dengan Bank Negara Indonesia (BNI) menyediakan fitur kirim uang melalui agen Kudo. Utamanya bagi masyarakat yang tidak mendapatkan akses keuangan dan perbankan di daerah terpencil.

Selain itu, mereka juga sedang mempersiapkan program pinjaman modal kerja. Program ini diharapkan bisa dimanfaatkan agen mereka dalam mendorong pertumbuhan usahanya secara signifikan.

Edukasi pemilik warung masih jadi tantangan

Startup yang fokus memberdayakan UMKM maupun warung tradisional di Indonesia bukan hanya Kudo. Mereka terus bermunculan. Sebut saja Warung Pintar dan juga Wahyoo. Namun Nugroho menyikapi hadirnya kompetitor sebagai hal yang positif. 

“Persaingan tentu menjadi hal yang wajar dalam industri, tetapi saya percaya bahwa Kudo dan pemain lain dengan bisnis serupa memiliki tujuan yang sama, untuk menciptakan ekosistem yang ideal bagi bisnis kecil dan warung tradisional,” jelas Nugroho.

Ia malah melihat maraknya minimarket modern menjadi ancaman bagi bisnis kecil dan warung. Dengan sistem yang lebih rapi dan persebaran lokasi yang luas, minimarket modern ditakutkan Nugroho akan semakin menggerus minat masyarakat berbelanja di warung tradisional.

Warung kudo | 3

Warung yang telah bergabung menjadi agen Kudo

Untuk itulah ia fokus menghadirkan berbagai inovasi, baik dalam hal teknologi, bisnis, maupun operasional agar terus membantu warung tradisional yang telah menjadi agen mereka. Memperkaya ragam produk digital dipercaya Kudo bisa melayani kebutuhan masyarakat lebih baik. 

“Mengajak pemilik warung tradisional untuk mau melek teknologi dan  mengadopsi teknologi agar lebih maju dan dapat berkompetisi juga suatu tantangan. Untuk itu, diperlukan cukup waktu dan strategi yang fokus.”

Nugroho juga menyatakan bahwa menjadi bagian dari ekosistem Grab merupakan salah satu diferensiasi mereka yang signifikan. Baginya, dukungan teknologi dan fasilitas dari Grab merupakan salah satu keuntungan yang tidak dimiliki perusahaan lain.

Namun ia juga tidak ingin gegabah meskipun memiliki akses dan fasilitas yang memadai dari Grab.

Contohnya, Nugroho enggan buru-buru menyasar pasar Asia Tenggara. Ia merasa pasar Indonesia saja masih sangat luas, khususnya di bidang O2O. Itu sebabnya saat ini Kudo akan tetap fokus di dalam negeri dulu. Namun juga tidak menutup kemungkinan menjamah pasar Asia Tenggara, mengingat akses ke sana telah mereka miliki.

Nugroho sendiri melihat adanya potensi untuk masuk ke negara seperti Vietnam dan Kamboja, yang ia rasa memiliki masalah dan tantangan yang mirip dengan Indonesia.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Melihat Perkembangan Kudo Setelah Dua Tahun Diakuisisi Grab appeared first on Tech in Asia.

The post Melihat Perkembangan Kudo Setelah Dua Tahun Diakuisisi Grab appeared first on Tech in Asia Indonesia.