Press "Enter" to skip to content

Mengapa Perusahaan Teknologi Menerbitkan Kartu Debit/Kredit

Bila kamu bekerja atau tinggal di Singapura, kemungkinan besar kamu telah menyadari ada banyak kartu kredit atau debit yang diterbitkan sederet perusahaan teknologi dalam setahun terakhir. Respons terhadap permintaan konsumen yang tinggi? Masih ada alasan lain di balik fenomena ini.

Belakangan ini memang banyak startup fintech yang meluncurkan beragam layanan menarik dengan basis kartu kredit atau debit. Tapi, tidak banyak yang mengetahui bahwa sebagian inisiatif tersebut sebenarnya didorong oleh layanan pembayaran raksasa, seperti Visa dan Mastercard.

Menurut orang-orang yang jadi narasumber kami, para pemain besar dalam industri transaksi keuangan menawarkan dukungan yang cukup signifikan ke industri fintech, serta mendorong para startup untuk merilis produk lewat skema kerja sama.

tren-kartu-debit-kredit-singapura-dompet

Pendapatan Visa dan Mastercard berasal dari biaya transaksi, jadi mereka punya model bisnis yang sangat tergantung pada volume transaksi. Dengan model seperti itu, mereka sulit mengabaikan startup fintech besar, seperti TransferWise di Inggris yang melayani volume transaksi senilai US$60 miliar (sekitar Rp821 triliun) per tahun.

“Untuk menjadi penerbit kartu, perusahaan harus punya kapabilitas backend yang mumpuni—misalnya dengan memiliki server yang aman. [Jaringan pembayaran seperti Visa dan Mastercard] saat ini mulai bersedia membantu biaya di sektor tesrebut,” kata CEO penerbit kartu digital Matchmove, Shailesh Naik, ke Tech in Asia. Hasilnya, kartu kredit dan debit jadi makin sering ditemui.

Penyederhanaan transaksi lintas negara

Salah satu tren di Singapura adalah kemunculan kartu khusus keperluan berwisata. Kartu jenis ini ingin membantu para penggunanya menghindari biaya transaksi lintas negara dan biaya penukaran mata uang di luar negeri. Keduanya sering kali memakan biaya besar jika dilakukan memakai kartu kredit atau debit dari bank.

Perusahaan pertama yang meluncurkan produk ini di Singapura adalah YouTrip dengan dompet multikursnya pada Agustus 2018. Menurut studi dari Capital Economics, nilai transaksi para penduduk Singapura di luar negeri, baik dengan kartu ataupun tunai, mencapai US$27,3 miliar (sekitar Rp373 triliun) per tahun.

Perusahaan lain juga melihat potensi yang sama. Satu tahun setelah YouTrip muncul, pasar dompet elektronik untuk kebutuhan perjalanan jadi sangat ramai. TransferWise dan Revolut misalnya, masing-masing merilis kartu debit di negara itu.

tren-kartu-debit-kredit-singapura-youtrip
Kartu pengguna YouTrip / Sumber: @valerietthy

Penyedia super app dan bahkan platform -ecommerce juga tidak mau ketinggalan. Grab mulai menguji coba GrabPay Mastercard di dua negara, yaitu Singapura dan Filipina. Citibank juga punya dua kartu kredit baru hasil kerja sama dengan pihak lain, satu dengan Grab yang dirilis di Thailand dan Filipina, dan satunya lagi dengan Lazada yang memberi penggunanya diskon khusus pada situs e-commerce tersebut.

Ditambah dengan diskon dan cashback yang ditawarkan, keberadaan kartu-kartu ini tentu bisa membantu meningkatkan kesetiaan pengguna masing-masing platform. Tidak cuma itu, kartu-kartu ini juga bisa membantu masyarakat Asia Tenggara yang belum terjangkau layanan perbankan, seiring kebutuhan masing-masing untuk membeli barang dan layanan secara online.

Apa yang jadi pemicu?

Perusahaan yang ingin merilis kartu kredit/debit kini bisa menemukan bantuan dari banyak pihak. Visa dan Mastercard misalnya, punya makin banyak cara untuk menjalin hubungan dengan startup, mulai menjalankan program akselerasi, menawarkan konsultasi strategis, hingga kerja sama komersial yang fleksibel.

tren-kartu-debit-kredit-singapura-1
Sumber: 123rf

Sebagai contoh, pada Oktober 2019 lalu Mastercard membuat program bernama Fintech Express. Menurut VP for Digital and Emerging Partnership Mastercard Asia Pacific, Rama Sridhar, program ini melahirkan tim multifungsi yang bisa menangani produk, kerja sama, lisensi, legal/hukum, dan masih banyak lagi. Tujuannya adalah membantu perusahaan fintech meluncurkan produknya dengan sangat cepat.

Ia menambahkan bahwa program ini juga punya syarat yang cukup fleksibel, serta mampu mengurangi biaya secara signifikan bagi perusahaan yang ingin merilis kartu. Program ini juga memangkas waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan lisensi kartu debit atau kredit, dari beberapa bulan menjadi hanya dua minggu.

Kami menghubungi Visa untuk melengkapi tulisan ini dengan bentuk dukungan mereka terhadap industri fintech, namun kami belum mendapat respons hingga tulisan ini terbit.

Tapi bagaimana jika perusahaan tidak mau mengeluarkan modal awal dalam usaha membuat kartu debit atau kredit sendiri?

Alternatif lain adalah co-branding, di mana perusahaan menarik lembaga keuangan penerbit kartu (biasanya bank) dan jaringan pembayaran untuk bekerja sama merilis kartu. Contohnya adalah kartu kredit Citi Visa milik Lazada. Proses ini lebih simpel dan murah, kedua perusahaan pun tetap mendapatkan pembagian keuntungan.

Peningkatan dukungan dari Mastercard dan Visa ini jelas dirasakan oleh satu perusahaan fintech yaitu TransferWise. Saat ditemui di Singapura, Chairman TransferWise Taavet Hirinkus mengatakan bahwa Mastercard dan Visa mulai sadar bahwa “di luar sana ada banyak perusahaan menyediakan layanan finansial yang menarik.”

tren-kartu-debit-kredit-singapura-trasnferwise
Sumber: TransferWise

Dua nama besar tersebut juga sadar bahwa mereka perlu bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan baru ini. Siapa pun yang bisa menjalin kerja sama dengan lebih baik akan “unggul dalam bersaing,” tambahnya. Bukti dari pernyataan ini adalah TransferWise yang memegang lisensi Mastercard.

YouTrip dan sejumlah perusahaan transfer uang, seperti Revolut dan Nium (dulu bernama InstaRem), juga diuntungkan dari kerja sama dengan jaringan pembayaran besar.

YouTrip belum lama ini mendapatkan lisensi dari Mastercard. Karena akhirnya bisa mengendalikan rantai penciptaan nilai perusahaan, CEO YouTrip Caecilia Chu menjelaskan kini timnya bisa mulai mengembangkan berbagai produk anyar dan berekspansi ke jenis bisnis baru. Sayangnya ia tidak bisa mengungkapkan apa YouTrip mendapatkan subsidi dari Mastercard.

Perusahaan fintech sekarang bisa dengan mudah bekerja sama dengan penyedia layanan pembayaran seperti MatchMove yang memiliki lisensi untuk merilis kartu debit atau kredit di Singapura.

Dalam model bisnis ini, perusahaan seperti MatchMove bisa menggantikan peran bank. Produknya yang bernama Lightspeed misalnya, membuat perusahaan bisa merilis platform pembayaran sendiri, termasuk kartu virtual, hanya dalam beberapa menit. Jika pengguna menginginkan, mereka bahkan bisa merilis kartu fisik hanya dalam waktu tiga hari.

Super app juga menerbitkan kartu

GrabPay Mastercard pada dasarnya adalah perpanjangan dari layanan finansial Grab. Menurut perwakilan Grab, produk tersebut akan mengincar pasar Asia Tenggara yang angka penetrasi banknya masih minim.

tren-kartu-debit-kredit-singapura-grab-mastercard
Sumber: Grab

Sementara produk mereka yang lain, kartu kredit Citi Grab, fokus ke masyarakat yang sudah menggunakan bank dan punya daya beli tinggi. Daya tariknya juga beda, yaitu memberikan bonus dan diskon tiap kali melakukan transaksi via platform Grab.

Menurut juru bicara Grab, tujuan akhir dari produk mereka adalah mendorong inklusi keuangan melalui dompet elektronik, pinjaman, dan asuransi mikro. Ini menambah jajaran produk/layanan Grab yang saat ini sudah terdiri dari transportasi, pesan-antar makanan, pinjaman uang, serta layanan gaya hidup.

Produk baru Grab ini juga diprediksi akan membantu membangun loyalitas pengguna. Sebagai perbandingan, Uber dari Amerika Serikat juga punya pemikiran sama dengan peluncuran kartu kredit mereka belum lama ini. Melalui kartu kredit tersebut, pengemudi Uber bisa langsung menerima penghasilan saat itu juga tanpa harus menunggu satu minggu.

Ketika merilis Apple Card, banyak yang kaget dan tidak paham bagaimana produk tersebut bisa berperan ke layanan software dan hardware Apple.

Tapi menurut seorang analis, dengan 900 juta unit iPhone yang saat ini aktif, dengan 750 juta pengguna aktif yang terus meningkat lima persen tiap tahunnya, menerbitkan Apple Card adalah keputusan yang masuk akal untuk memperluas ekosistem Apple.

Apple Card “lebih cocok disebut sebagai penghubung yang membuat dompet digital milikmu kompatibel dengan sistem point-of-sale yang sudah kuno,” ujar Managing Partner Loup Ventures Gene Munster setelah pelunjuran Apple Card.

tren-kartu-debit-kredit-singapura-apple-card
Sumber: Unsplash

Tapi peran produk ini tidak berhenti di situ saja. “Dompet adalah benda yang penting untuk semua orang dan digunakan berkali-kali tiap hari, mulai dari belanja di toko, transaksi dengan orang lain, membeli sesuatu di internet, dan sekarang kredit. Semua fungsi itu dengan cepat terintegrasi dalam smartphone.

“Layaknya bagaimana Apple harus punya kamera yang oke untuk menjual iPhone, di masa depan Apple juga perlu dompet yang terintegrasi dengan baik untuk menjual smartphone dan layanan lain,” ujar Munster ke Tech in Asia melalui email. Mantan analis Wall Street tersebut juga yakin bahwa cepat atau lambat Apple akan masuk ke bidang pembiayaan kepemilikan perangkat.

Ia juga memprediksi pendapatan dari Apple Card ini akan mencapai angka US$1,4 miliar (sekitar Rp19 triliun) di 2023. Angka tersebut meningkatkan pendapatan Apple di sektor pembayaran (digabung dengan Apple Pay) 35 persen menjadi US$5,4 miliar (Rp73 triliun).

Kartu jadi makin mirip

Sekilas, tiap perusahaan berusaha memberi keunikan pada kartu masing-masing, dari segi desain atau bahkan bahan. Ada yang membuat kartu dengan warna ungu berbahan matte, ada juga yang membuat kartu dari bahan titanium. Tapi di luar desain, kartu-kartu ini punya fungsi mirip.

Dompet elektronik Grab saat ini memang memang tidak didesain untuk dipakai bertransaksi di luar negeri. Tapi seiring waktu, fitur tersebut bisa saja hadir.

Dengan begitu, layaknya kartu dari YouTrip, TransferWise, dan Revolut, GrabPay Mastercard bakal mengizinkanmu menyimpan mata uang yang berbeda, serta membuat pengguna terhindar dari biaya transaksi luar negeri yang mahal.

Menanggapi persaingan kini dan yang akan datang, Caecilia Chu dari YouTrip tidak terlalu khawatir. “Kami saat ini ada di posisi yang solid untuk bersaing,” ujarnya. YouTrip sendiri memanfaatkan “start awal” mereka untuk mendapatkan pengguna dan membangun produk mereka di pasar Singapura.

tren-kartu-debit-kredit-singapura-caecilia-chu
Caecilia Chu / Sumber: YouTrip

Ia juga menekanan YouTrip yang hanya menyediakan satu jenis layanan punya keunggulan sendiri. “Pengalaman pengguna jauh lebih sederhana dan rapi. Mereka tidak perlu melalui banyak layar atau melakukan banyak klik di produk kami untuk mengakses sebuah fitur.”

Caecilia Chu juga menambahkan bahwa YouTrip akan menambahkan lebih banyak mata uang serta fitur manajemen keuangan dan pembuatan bujet personal. Kedua fitur tersebut bisa melengkapi layanan utama yang dimiliki YouTrip saat ini. Perusahaan ini juga baru saja menerima lisensi pengiriman uang dari Monetary Authority of Singapore, memungkinkan mereka membuat produk baru di masa depan.

Tapi fitur dan rencana tersebut juga tidaklah baru. Pembuatan bujet adalah salah satu fitur utama milik Revolut dan sejauh ini tidak dimiliki oleh perusahaan lain.

Revolut yang masuk ke Singapura Oktober 2019 lalu juga punya fitur untuk membantu penggunanya mengelompokkan pengeluaran bulanan ke beberapa kategori. Dengan begitu, pengguna bisa mempelajari perilaku belanjanya sendiri sehingga bisa membuat rencana untuk berhemat.

Dompet elektronik dari Uber juga mengizinkan penjual dan pembeli mencatat pendapatan dan pengeluaran, serta mengelola dan memindahkan uang di dalam aplikasi. Jadi tidak akan mengejutkan jika Grab juga membuat fitur sama nantinya.

Kartu masa depan

Kartu baru dari Nium bernama Amaze akan berfungsi sebagai agregator. Menurut kepala produk Nium Gitesh Athavela, pengguna bisa menggunakan kartu ini untuk terhubung dengan maksimal lima kartu debit atau kredit yang dikeluarkan di Singapura. Kartu ini juga bisa memfasilitasi pembayaran Apple Pay dan Google Pay.

tren-kartu-debit-kredit-singapura-amaze
Kartu Amaze dari Nium / Sumber: Nium

Karena mengincar “masyarakat global”, kartu Amaze ingin membuat pengguna terhindar biaya penukaran mata uang atau transaksi internasional yang biasanya mahal, tanpa harus repot mengatur rekening, mengisi saldo, serta mengelola banyak dompet sekaligus. Nium sebenarnya sudah punya fitur transaksi luar negeri dan tukar mata uang melalui layanan kirim uangnya.

Seperti YouTrip, Nium juga menerbitkan kartu saat melakukan pivot ke platform “open money dan menawarkan layanan yang lebih dari sekadar pengiriman uang.

Dengan tren yang ada saat ini, menurut kamu seperti apa masa depan layanan kartu debit dan kredit ini? Apa akan condong ke kartu fisik atau virtual? Menurut Caecilia Chu, YouTrip lebih memilih kartu fisik karena toko di Eropa memerlukan kartu fisik untuk keperluan identifikasi.

“Kami cukup terbuka untuk urusan pembayaran. Seiring waktu, kami jelas akan membuka lebih banyak layanan pembayaran baru di industri ini,” tambahnya. “Jika suatu hari orang-orang melakukan transaksi melalui perangkat wearable (seperti smartwatch), kami tentu akan masuk ke situ.”

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Yasser Paragian sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Mengapa Perusahaan Teknologi Menerbitkan Kartu Debit/Kredit appeared first on Tech in Asia.

The post Mengapa Perusahaan Teknologi Menerbitkan Kartu Debit/Kredit appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: