Press "Enter" to skip to content

Peluang dan Hambatan Munculnya Pemain Baru Startup Kesehatan di Indonesia

Industri kesehatan merupakan salah satu sektor yang banyak dibidik pelaku startup beberapa tahun terakhir. Berawal dari model bisnis media penyedia konten informasi kesehatan berbentuk website, kini :

  • Startup kesehatan merambah ke layanan konsultasi dokter on-demand,
  • Standarisasi sistem operasional klinik kesehatan, hingga
  • Pemanfaatan bot artificial intelligence (AI) untuk asistensi pelayanan yang lebih personal.

Tahun 2019, beberapa startup baru muncul dengan menawarkan layanan yang diklaim belum dibidik pemain lain di sektor ini. Prixa contohnya. Mereka menawarkan fungsi self-diagnostic berbasis chatbot. Model bisnis Prixa beririsan dengan model big data insurtech yang mengelola fitur sistem pengelolaan klaim asuransi personal dan manajemen risiko untuk kesehatan.

James Roring selaku CEO Prixa menyebut, layanan kesehatan di Indonesia sangat beragam dan masih memungkinkan hadirnya berbagai inovasi baru untuk diperkenalkan ke pasar.

Kesempatan sektor kesehatan masih terbuka lebar, terlebih untuk kebutuhan pengolahan teknologi big data.

James Roring,
CEO Prixa

Dalam bidang farmasi, pengembangan model bisnis startup healthcare juga tumbuh. GoApotik salah satunya. Startup e-commerce farmasi yang didirikan empat tahun silam tersebut, menjajaki potensi pasar yang luas berkat kemitraan strategisnya bersama Tokopedia.

Konsumen bisa menebus obat secara online dengan mengunggah resep melalui fitur Chat bersama apoteker usai melakukan pembayaran. Resep ini nantinya akan diperiksa keasliannya oleh apotek mitra GoApotik untuk kemudian obatnya diantarkan oleh rekanan logistik Tokopedia.

Beragam inovasi tadi memperlihatkan iklim yang positif bagi perkembangan healthcare di tahun 2019. Lantas bagaimana dengan kesempatan startup sektor ini di tahun 2020? Apakah masih ada ruang bagi kehadiran pemain baru yang lain?

Model bisnis yang sesuai situasi lapangan

Dr. Eko S.Nugroho, CMO dari Medigo menganggap startup healthcare sejauh ini belum melayani perilaku kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Ia bahkan menyebut, persaingan startup di sektor kesehatan juga masih kecil.

Padahal kata dia, peluang yang tersedia untuk dieksplorasi sangat beragam. Salah satunya yang bisa dijadikan contoh adalah kebutuhan akan solusi di tengah situasi penerapan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh Pemerintah.

Eko menjelaskan bahwa saat ini industri kesehatan berada dalam era transformasi menuju model Universal Health Coverage (UHC), dari yang awalnya layanan berbasis volume menjadi layanan berbasis value.

“Jika dulu untuk mendapatkan layanan kesehatan pasien diminta bayar setiap tindakan dan obat yang diberikan, sekarang pembiayaan diberikan melalui bundled payment atau pembiayaan kesehatan secara paket,” ujar Eko.

Di Indonesia model semacam ini sudah diupayakan sejak 2014 melalui program JKN. Pembiayaannya dilakukan dengan paket Indonesian Case Base Groups (INA-CBG’s). Memasuki tahun ke-tujuh, anggaran JKN 2020 telah naik hampir dua kali lipat menjadi Rp48,8 triliun dari tahun sebelumnya hanya Rp26,7 triliun.

Kendalanya kata Eko, masih banyak instansi layanan kesehatan seperti Rumah Sakit dan Klinik yang mengalami permasalahan adopsi teknologi dan standarisasi operasional baru. Peluang inilah yang dibidik Medigo, melalui penerapan Klinik Pintar yang bertujuan mendayagunakan klinik kecil agar siap menghadapi dinamika di sekitar sektor kesehatan.

Dengan penawaran kemitraan strategis yang Medigo berikan, klinik tersebut akan mendapatkan bantuan digitalisasi proses bisnis dan pelayanan lewat bundling produk, meliputi software pengelolaan administrasi klinik, integrasi aplikasi mobile pasien, dan lain-lain.

Ruang bagi pendanaan sektor healthcare

Pengadopsian teknologi baru dalam operasional kesehatan, dan efisiensi pengelolaan data pasien merupakan beberapa di antara sekian cara yang jamak dipilih oleh startup healthcare dalam pengembangan model bisnis mereka.

Di luar itu, model bisnis lain seperti layanan konsultasi dokter dan pembelian obat (seperti Alodokter dan Halodoc), juga masih bertahan dengan memosisikan fungsinya sebagai platform untuk memenuhi beragam kebutuhan konsumen.

Peluang bisnis dalam pengelolaan manajemen sistem rumah sakit maupun fasilitas kesehatan juga dibidik oleh startup Periksa.id dan Medico. Mereka mengembangkan produk software as a service (SaaS) bagi instansi rumah sakit dan klinik, baik milik pemerintah maupun swasta.

Munculnya model bisnis healthcare yang memecahkan masalah semacam ini dianggap punya potensi di mata para investor. Apalagi masalah inefisiensi telah menjadi ganjalan terhadap kemajuan industri kesehatan di era modern.

Hal tersebut tidak lepas dari berbagai permasalahan utama yang seringkali ditemukan pada sektor kesehatan, antara lain:

  • Komunikasi dan rekam jejak data pasien masih berbasis catatan kertas.
  • Antar institusi kesehatan masih tertutup satu dengan lainnya.
  • Kualitas tenaga profesional dan sumber daya yang beragam dan terbatas, hingga
  • Mayoritas standarisasi pelayanan yang tergolong lamban.

Kartini Andri Wardhani selaku Associates Venturra Discovery dalam pemaparannya di Market Outlook Startup bersama CoHive 2020 mengungkapkan, potensi sektor healthcare terdapat pada produk yang tidak sekadar membantu mengatasi inefisiensi saja, tetapi juga bisa mengambil porsi pasar yang lebih besar. Apalagi margin bisnis industri kesehatan begitu tinggi.

Tingginya margin bisnis industri kesehatan tidak lepas dari keterlibatan sejumlah korporasi yang turut berkecimpung sektor healthcare secara umum, mulai dari asuransi, farmasi, hingga manufaktur peralatan kesehatan. Sayangnya, belum ada startup kesehatan dengan model bisnis yang mampu menjembatani ketiganya. Padahal peluang pendanaannya sangat besar.

Hipotesa tersebut searah dengan potensi ekonomi Internet Asia Tenggara yang terus tumbuh. Laporan e-Conomy SEA 2019, sektor edtech dan healthace mendapat banyak perhatian dan peluang ekonominya menggiurkan hingga tahun 2025 mendatang.

Menanti regulasi untuk kepentingan bersama

Meski belum semaju seperti di Amerika Serikat, namun perkembangan layanan healthtech di kawasan Asia Pasifik diperkirakan bakal terus berkembang menjadi lebih baik. Berdasar data Asosiasi Healthtech Indonesia, terdapat enam kategori healthtech yang menarik perhatian industri di antaranya:

  • Diagnosis kesehatan,
  • Artificial Intelligence of Things (AIoT),
  • Online Marketplace,
  • Layanan penelitian kesehatan,
  • Genomics, dan
  • Data analisis medis.

Meskipun kategorinya cukup banyak, namun baru sebagian kecil yang model bisnisnya mulai diadopsi startup kesehatan di Indonesia. Salah satu alasannya karena terganjal regulasi terkait keamanan data dan standarisasi pelayanan kesehatan berbasis online.

Para pelaku startup kesehatan sebenarnya sudah mulai meminta pemerintah untuk memberikan kepastian soal regulasi dan legalitas startup kesehatan lewat payung hukum tetap demi keselamatan pasien.

Bappenas bersama Asosiasi Healthtech Indonesia dan BCG (Boston Consultant Group) pada Agustus 2019 lalu telah melakukan diskusi untuk mempersatukan pendapat mengenai ekosistem layanan kesehatan berbasis aplikasi online di Indonesia.

Mereka meminta kepastian mengenai regulasi dan legalitas startup kesehatan di bawah payung hukum yang sah. Mereka juga meminta adanya implementasi nyata dalam memperkuat sistem kesehatan nasional, seperti:

  • Pedoman dan Susunan standarisasi e-kesehatan
  • Perlindungan data pribadi
  • Konektivitas jaringan dan teknologi

Di sebuah kesempatan wawancara bersama media Bisnis.com, Gregorius Bimantoro (Bimo) selaku Chairman Asosiasi Healthech Indonesia menyayangkan kurang sigapnya respons para pemangku kepentingan sektor kesehatan di Indonesia.

Menurut Bimo, regulasi saat ini masih dilihat dari sudut pandang yang konservatif, dan belum mendukung perkembangan dari pelaku bisnis healthcare digital.

“Contoh saja telekonsultansi dan rekam medis elektronik, sudah ada di luar [negeri] berapa tahun? [Di Indonesia sendiri] peraturannya belum selesai padahal sudah banyak pelakunya.”

Kebutuhan terhadap payung regulasi semacam ini dipandang sebagai langkah memastikan inovasi para pemain healthcare. Agar dianggap sungguh-sungguh dalam memajukan industri kesehatan secara keseluruhan di Indonesia.

Kepada Tech in Asia Bimo mengatakan, payung regulasi healtech saat ini tengah digodok antara pihak Kemenkes, Kominfo, BPJS kesehatan dan juga DPR. Pihak asosiasi hanya mengawal progres diskusi yang ada agar aturan tersebut bisa terwujud di tahun 2020 ini.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Peluang dan Hambatan Munculnya Pemain Baru Startup Kesehatan di Indonesia appeared first on Tech in Asia.

The post Peluang dan Hambatan Munculnya Pemain Baru Startup Kesehatan di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: