Press "Enter" to skip to content

Peluang Paylater di Tengah Rendahnya Penetrasi Kartu Kredit di Indonesia

Kartu kredit masih merupakan sebuah kemewahan bagi sebagian besar orang Indonesia. Dari 265 juta penduduk, hanya sebagian kecil yang jadi pemegang kartu kredit. Mereka meliputi masyarakat kelas menengah dan kalangan profesional saja.

JP Morgan dalam laporannya Global Payments Trends Report tahun 2019 menyebut, terjadi kesenjangan kepemilikan kartu kredit di negeri ini. Pertumbuhan penetrasi kartu kredit hanya 0.07 persen per kapita, dengan selisih jauh lebih rendah dengan kartu debit yang mencapai 0.59 persen per kapita.

Tahun 2017 lalu, Indonesia juga dilaporkan tertinggal dari Malaysia dalam urutan peringkat negara dengan jumlah masyarakat pemegang kartu kredit versi The World Bank. Situasi ini memperlihatkan kalau penyaluran kredit konsumtif skala mikro masih menjadi tugas yang berat untuk penerbit kartu kredit di Indonesia.

Kesenjangan inilah yang membuat fintech berinovasi dalam banyak cara. Mereka menyasar masyarakat unbanked termasuk yang tidak punya akses ke layanan kartu kredit dengan melahirkan fitur Paylater (bayar kemudian). Fungsi dan tujuannya sama dengan kartu kredit tapi dengan pendekatan berbeda.

Pertanyaan selanjutnya, apakah tren tersebut bisa mengisi peluang akan kebutuhan kredit konsumtif di Indonesia atau malah menjadi disrupsi industri kartu kredit?

Paylater dalam ekosistem Gojek dan Traveloka

Fitur Paylater awalnya mulai menarik perhatian konsumen layanan digital ketika diuji coba Gojek untuk kebutuhan transaksi pembelian makanan Gofood di tahun 2018 silam.

Meskipun mulanya diterapkan secara terbatas, namun layanan yang dikembangkan Gojek lewat Findaya ini berangsur-angsur mendapat porsi yang semakin besar di ekosistem mereka. Hampir sebagian besar transaksi di layanan Gojek sudah bisa dibayar menggunakan fitur “berhutang” tersebut.

Gojek tidak berjalan sendiri. Pada pertengahan tahun 2018, Traveloka ikut pula meluncurkan layanan serupa kepada konsumen mereka. Tujuannya untuk keperluan membeli tiket transportasi pesawat dan kereta di platform mereka.

Sama halnya seperti Gojek, Traveloka juga tidak sendirian dalam mengerjakan layanan Paylater. Perusahaan OTA tersebut menggandeng Danamas, perusahaan lending bawahan grup SinarMas yang telah mengantongi perizinan dari OJK.

Seiring berjalannya waktu, Paylater Traveloka juga mulai digunakan untuk membeli tiket wahana wisata di Traveloka Xperience, layanan marketplace Rekreasi dan Gaya Hidup yang mereka resmikan Juni 2019 kemarin.

Di awal-awal masa peluncurannya, Alvin Kumarga selaku Senior Vice President Financial Products dari Traveloka sempat mengatakan kepada Tech in Asia bahwa, pengguna layanan Paylater di Traveloka mengalami lonjakan angka yang signifikan.

Meski tidak menyebut data secara rinci, namun Alvin mengatakan kalau layanan tersebut tumbuh begitu cepat, hingga menyentuh angka sekitar puluhan persen setiap bulan pada awal kemunculannya di tahun 2018 silam.

Disebut telah menyalip jumlah pengguna kartu kredit

Tak hanya Gojek dan Traveloka, fitur Paylater juga telah dikembangkan pihak OVO. Albert Lucius, Chief of Product Officer OVO dalam wawancaranya pada akhir 2018 silam menyebut, layanan Paylater mereka dikembangkan bersama perusahaan P2P lending Taralite (yang telah diakuisisi OVO). Saat ini mereka sedang menunggu izin dari Bank Indonesia untuk peluncuran resmi di tahun 2020.

“Sejak diperkenalkan, kami menyadari tingginya antusiasme dari masyarakat terhadap layanan OVO Paylater”

Meski belum secara resmi diluncurkan ke khalayak luas, pihak OVO telah mengklaim bahwa, jumlah pengguna layanan Paylater aktif mereka saat ini lebih besar dibandingkan angka perusahaan kartu kredit di Indonesia. Tingginya angka tersebut tak lepas dari kerja sama OVO dengan sejumlah startup seperti Tokopedia, Grab, dan lain-lain.

Presiden Direktur OVO, Karaniya Dharmasaputra dalam sebuah kesempatan sempat mengatakan, meskipun saat ini layanan Paylater OVO masih dalam tahap uji coba, namun pihaknya sudah melihat angka peminat yang cukup tinggi. Ia sangat optimis terhadap perkembangan layanan ini ke depannya.

Pemain layanan dompet elektronik tanah air lainnya, LinkAja juga tengah bersiap meluncurkan fitur serupa dalam waktu dekat. Fasilitas Paylater ini nantinya akan dipakai untuk bertransaksi dalam ekosistem layanan LinkAja dan fungsi pembayaran lewat kode QR.

Guna meluncurkan layanan tersebut, perusahaan pelat merah ini menggaet Kredivo sebagai mitra kredit mereka.

Ketika ditanya perihal potensi produk Paylater di LinkAja, Edward Killian Suwignyo selaku Chief Marketing Officer LinkAja mengatakan, peluang layanan tersebut akan jauh lebih besar dibandingkan layanan sejenis lainnya.

Edward melihatnya berdasar demografis target pasar LinkAja yang menyasar mass midle market, tidak beririsan secara langsung dengan ranah dompet pembayaran lainnya. Hal ini membuat ekosistem transaksi yang dicakup LinkAja akan jauh lebih besar.

“Secara produk, Paylater kami mungkin akan mirip dengan yang lain. Namun yang membedakan adalah use case pemakaiannya yang memungkinkan pemanfaatan fungsi Paylater lebih luas lagi,” kata Edward.

Tidak sulit untuk memikirkan potensi fitur Paylater LinkAja berdasarkan use case penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kamu bisa membayangkan kemudahan berhutang untuk membeli bensin di saat darurat, membayar kekurangan belanjaan di pasar, dan transaksi kebutuhan fundamental lainnya di kawasan kota-kota tier dua dan tiga Indonesia.

Dengan potensi yang ada, tidak heran jika perusahaan pelat merah tersebut kemudian menjalin kemitraan bersama Ditjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri untuk meningkatkan proses verifikasi dan validasi identitas pengguna uang elektronik mereka. Hal ini demi menghadikan layanan transfer dana yang lebih baik lagi.

Potensi Paylater di ceruk konsumen unbanked

Berdasarkan laporan Google, Temasek dan Bain & Company pada 2019 lalu, terdapat lebih dari 92 juta jiwa masyarakat Indonesia yang sama sekali belum tersentuh layanan finansial dan perbankan (unbanked).

Di luar irisan tersebut, terdapat 47 juta jiwa masyarakat masuk dalam golongan underbank yang artinya, mereka sudah memiliki rekening Bank, namun belum mengakses layanan finansial lain seperti kredit, investasi, dan asuransi.

Jika kedua statistik tadi dijumlahkan, maka kita akan menemukan 134 juta jiwa penduduk Indonesia yang berpotensi untuk dibidik sebagai pasar layanan perbankan, baik oleh pelaku digital maupun konvensional (seperti kartu kredit).

Jumlah tersebut lebih dari separuh total penduduk dewasa yang mencapai 182 juta jiwa. Di mana sisanya masuk ke dalam kategori melek layanan keuangan dan perbankan.

Dengan lebih dari separuh total populasinya yang masih belum terjamah oleh akses layanan keuangan dari pihak perbankan, saat ini Indonesia menyisakan potensi yang begitu besar terutama dari segi layanan bisnis penyaluran kredit (baik mikro maupun makro).

Pasar inilah yang dibidik para pemain fintech untuk meluncurkan fitur Paylater. Targetnya mengakomodasi transaksi dalam lingkup ekosistem layanan yang mereka punya.

Meskipun menyasar ceruk yang sama, namun keberadaan layanan Paylater dianggap tidak akan menggeser peran dan kebutuhan kartu kredit sebagai produk finansial di tengah masyarakat.

,

Hal ini karena segmen konsumtif yang berbeda dan batasan nominal kredit yang diberikan. Apalagi kartu kredit hingga sekarang masih menjadi alat pembayaran yang sifatnya universal (tidak terpatok pada ekosistem digital saja, tetapi juga konvensional).

Masyarakat yang sudah mengenal layanan perbankan kemungkinan besar juga masih akan tetap memakai kartu kredit. Karena erat kaitannya dengan kebutuhan rekreasi mereka, terutama untuk yang sering bepergian ke luar negeri.

Yang terjadi sekarang, penyedia kartu kredit dan Paylater fintech mengupayakan kolaborasi potensial. Harapannya untuk meningkatkan penetrasi pasar satu sama lain agar lebih besar dan luas.

Visa contohnya, perusahaan payment layanan kredit multinasional (yang juga merupakan investor Gojek) ini tengah mengupayakan layanan pembayaran cicilan konsumtif untuk menjangkau lebih banyak pelanggan di luar sektor penerbitan kartu kredit.

Traveloka juga telah bekerja sama dengan salah satu Bank penerbit kartu kredit lokal untuk meluncurkan Kartu PayLater. Kartu ini dapat digunakan di Indonesia dan seluruh dunia untuk keperluan transaksi online dan offline lewat jaringan payment milik Visa.

Langkah kolaboratif semacam ini membuat peran Paylater ke depannya tidak sebatas hanya layanan pembayaran di ekosistem digital mereka saja. Tetapi juga mendorong penggunaan kartu kredit yang lebih luas, sehingga tidak lagi eksklusif bagi kalangan menengah ke atas.

Jika peran kedua layanan berbeda ini kemudian menyatu di masa mendatang, bukan tidak mungkin Indonesia akan semakin baik dalam urusan penyaluran kredit konsumtif kepada masyarakat.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Peluang Paylater di Tengah Rendahnya Penetrasi Kartu Kredit di Indonesia appeared first on Tech in Asia.

The post Peluang Paylater di Tengah Rendahnya Penetrasi Kartu Kredit di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: