Press "Enter" to skip to content

Perilaku Konsumen Smartphone di Indonesia Jelang Ramadan

Laporan bertajuk Indonesia Smartphone Market Report Q4 2018 yang disusun oleh firma riset Canalys menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar smartphone paling potensial di Asia Tenggara. Angka pertumbuhannya selama 2018 meningkat tujuh belas persen dibanding tahun sebelumnya.

Angka tersebut diprediksi masih terus naik dari tahun ke tahun seiring dengan kondisi ekonomi yang membaik, penetrasi internet yang semakin meluas, serta kebutuhan digital yang terus meningkat. Itu sebabnya, kini berbagai produsen terus merilis berbagai smartphone baru untuk segmen pasar yang beragam.

Apalagi masih banyak penduduk Indonesia yang belum menggunakan ke smartphone. Menurut Pew Research Center, hanya 4 dari 10 orang Indonesia yang telah menggunakan smartphone. Ini berarti masih banyak celah pasar yang bisa dikejar.

Kini, tantangan berada di tangan produsen. Ketika smartphone semakin mewabah dan beragam pilihan telah tersedia, tentu perilaku penggunanya turut berubah. Produsen harus jeli memahami karakter konsumen di Indonesia. Mulai dari bagaimana cara mereka berbelanja, fitur apa saja yang mereka inginkan, hingga apa saja pertimbangan mereka sebelum membeli.

Belanja online meningkat, toko ritel fisik masih tetap primadona

Meski belanja online sudah semakin digemari oleh konsumen Indonesia, rupanya hasil riset internal Android Path-to-Purchase 2018 yang dilakukan Google menunjukkan 69 persen konsumen masih mempercayai toko fisik dalam membeli smartphone baru.

Konsumen memang memang memulai pencarian secara online. Mereka biasanya menggunakan search engine untuk mengetahui spesifikasi smartphone, membaca ulasan, serta membandingkan harga. Namun ketika pilihan mulai mengerucut, mereka akan berkunjung ke toko fisik untuk mencari kesimpulan akhir.

Smartphone Indonesia | picture 2

“Biasanya orang butuh dapat feel-nya. Mereka harus coba pegang sendiri, coba genggam, atau coba masukin di kantong,” jelas Yudhistira. Ia adalah seorang Senior Analyst Tech and Telco di Google.

Djatmiko Wardoyo, Marketing & Communications Director Erajaya Group, bahkan merasa angka tersebut terlalu kecil. Ia meyakini bahwa persentase konsumen membeli di toko ritel fisik masih berada di atas sembilan puluh persen.

Itulah alasan kenapa Erajaya Group pada 2019 ini berencana membuka 330 cabang baru di seluruh Indonesia. Investasi itu menunjukkan kepercayaan Erajaya pada toko ritel. Namun di saat yang sama, Djatmiko juga menekankan perusahaannya tidak mengabaikan potensi belanja online di masa depan.

Era belanja online nantinya tidak serta-merta membuat toko fisik harus ditutup semua.

Online ini basisnya lima tahun lalu kecil sekali, jadi ketika sekarang ada angka yang keliatan, (rasanya seperti) gede banget. Tapi compared to overall market in Indonesia, actually its relatively small. Tapi growing memang,” ucap Djatmiko.

Djatmiko meyakini, kehadiran era belanja online nantinya tidak serta-merta membuat toko fisik harus ditutup semua. Erajaya telah menyiapkan rencana omni-channel marketing dengan skema online-to-offline (O2O). Dengan skema tersebut, Djatmiko percaya ia bisa menggabungkan kemudahan yang dihadirkan teknologi dengan proses cepat dan langsung yang ditawarkan belanja offline.

“Konsumen nanti bisa belinya online, ambilnya offline. Lead time jadi lebih cepat. Itulah yang disebut dengan seamless experience, O2O”.

Kecepatan dan daya tahan baterai jadi pertimbangan utama

Riset Google juga menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan selera dan kebutuhan pada konsumen smartphone Indonesia. Sebelumnya, konsumen kerap mengutamakan kualitas kamera dan desain eksterior sebagai pertimbangan utama.

Kamera justru berada di posisi kedua belas dengan angka 71 persen, dan desain eksterior berada di urutan 25. Posisi pertama kini ditempati oleh kecepatan, dengan angka 87 persen. Setelahnya ada daya tahan baterai (83 persen) dan juga kapasitas penyimpanan (81 persen).

“Bukan berarti kualitas kamera jadi enggak penting. Angkanya masih 71 persen, artinya masih tinggi. Tapi sekarang, konsumen menuntut lebih,” jelas Yudhistira.

Sementara itu, Elvira Jakub selaku Corporate Marketing Director Samsung Indonesia mengucapkan kamera sebenarnya masih menjadi kebutuhan krusial bagi pengguna smartphone. Itu sebabnya, handphone flagship dari Samsung pun masih mengusung kualitas kamera sebagai salah satu fitur andalan.

Namun memang, kini semakin banyak hal yang dipertimbangkan oleh konsumen. Elvira menilai, kehadiran reviewer gadget, baik dalam bentuk blog maupun vlog, turut memengaruhi perubahan perilaku tersebut.

Kini konsumen menjadi lebih teredukasi mengenai spesifikasi dan performa smartphone yang mereka cari. Alhasil, mereka jadi semakin selektif dalam memilih.

Menyikapi hasil survei ini, Romi Hidayat selaku reviewer gadget dan co-founder DroidLime memprediksi di tahun-tahun mendatang justru tampilan dan desain eksterior akan semakin memengaruhi keputusan konsumen. Hal itu disebabkan karena semakin hari performa smartphone semakin mumpuni, sehingga konsumen akan semakin jarang ambil pusing perkara itu.

“Mau yang harga Rp2-3 juta pun sudah bisa untuk bermain game PUBG mobile dengan nyaman. Multitasking atau media sosial juga cukup nyaman. Jadi tahun ini atau tahun depan untuk hardware (konsumen akan merasa) oke saja, karena memang sudah sangat mencukupi,” jelasnya.

Terbuka untuk mencoba merek baru

Smartphone indonesia | picture 3

Loyalty (konsumen smartphone sekarang) agak kurang,” ucap Yudhistira. Ucapan itu mengacu pada hasil riset Google yang menyatakan bahwa 1 dari 2 konsumen smartphone memilih untuk berganti merek. Sementara 2 dari 5 akan berganti pilihan provider saat mereka membeli smartphone baru.

Yudhistira menilai, pergantian merek dan provider ini dipicu oleh ketidakpuasan pengguna pada smartphone atau provider mereka saat ini. Dari situ, Yudhistira pun menekankan pentingnya kolaborasi antara brand penyedia smartphone dengan provider di Indonesia. Hal itu demi menjawab ekspektasi pasar Indonesia yang kini semakin tinggi.

Bukan hanya handphone mereka saja yang sudah 4G enabled, tapi jaringan 4G dari provider pun juga (harus) sudah kencang.

Yudhistira Nugroho,
Senior Analyst Tech and Telco Google Indonesia

Romi Hidayat menilai bahwa hal tersebut sangat bergantung dengan segmentasi smartphone itu sendiri, apakah berada di entry level, mid-end, atau flagship. Setiap segmen tersebut ia yakini memiliki karakteristik dan brand loyalty yang berbeda.

“Katakanlah mereka menggunakan Samsung Galaxy S series atau Note series, yang memang sudah sangat mencukupi, jadi mereka enggak tertarik dengan yang lain. Kecuali yang mid-range, mungkin dia bisa berganti brand karena racun untuk berganti memang sangat banyak,” jelas Romi.

Dorongan impulsif yang besar

Salah satu perilaku konsumen smartphone Indonesia yang mencolok adalah adanya keinginan impulsif yang besar saat memutuskan untuk membeli smartphone baru. Terutama untuk segmen pasar pengguna smartphone flagship atau high-end.

Setiap kita rilis produk baru, terutama flagship, jam 00.00 itu sudah ada saja yang order.

Elvira Jakub,
Corporate Marketing Director Samsung Indonesia

Hal tersebut juga diamini oleh Yudhistira. Ia menilai, tendensi masyarakat Indonesia untuk menghabiskan uang untuk kebutuhan tersier cukup tinggi. Salah satu indikasinya adalah search query mengenai smartphone flagship yang melonjak tinggi menjelang pembagian THR setiap tahunnya.

Perilaku tersebut mungkin dipicu oleh berbagai gimik yang kini tersedia. Mulai dari promo bundling dari provider, program trade-in, hingga cicilan nol persen. Kemudahan tersebut membuat konsumen semakin mudah untuk berganti handphone secara impulsif.

Pertumbuhan pasar smartphone Indonesia ini tentu merupakan kabar baik bagi para produsen. Apalagi pasar smartphone di beberapa negara justru menurun. Di Thailand misalnya, terjadi penurunan sebesar tiga belas persen dibanding tahun lalu.

Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia akan menjadi destinasi favorit para produsen, dan Indonesia akan terus dibanjiri produk smartphone dari berbagai kelas hingga beberapa tahun ke depan.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Perilaku Konsumen Smartphone di Indonesia Jelang Ramadan appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: