Press "Enter" to skip to content

Perjalanan Investree Ekspansi ke Regional Asia Tenggara

Beberapa perusahaan teknologi asal Indonesia sudah melakukan ekspansi di regional Asia Tenggara. Gojek dan Traveloka menjadi startup yang pertama-tama melakukannya. Disusul yang lain seperti startup edutech Ruangguru yang ekspansi perdana ke Vietnam akhir 2019 lalu.

Perusahaan teknologi finansial (fintech) juga banyak yang berambisi memasuki pasar regional. Salah satunya Investree.

Founder & CEO Investree Adrian Gunadi mengatakan kepada Tech in Asia, kalau mereka bahkan telah merencanakan jadi pemain regional sejak dibuat pertama kali 2015 lalu. Yang berarti para pendirinya telah sepakat untuk ekspansi ke banyak negara sejak awal.

“Visi Investree tidak hanya di Indonesia. Kami ingin menjadi regional player. Kami membuat rencana jangka panjang selama tiga tahun untuk mulai mengeksplorasi kemungkinan ekspansi ke luar Indonesia,” kata Adrian.

Indonesia kata dia sengaja didesain untuk menjadi kantor pusat Investree Group di regional Asia Tenggara. Sebelum benar-benar memasuki ceruk pasar luar negeri, ada sejumlah tahapan yang selama tiga tahun terakhir terus dimatangkan pihak Investree.

  • Memastikan teknologi, produk dan Sumber Daya Manusia (SDM) telah siap.
  • Melakukan analisis pasar
  • Memahami regulasi yang berlaku di tiap-tiap negara, hingga
  • Mencari mitra yang tepat.

Alasan Investree ingin jadi pemain regional

Nadiem Makarim ketika masih menjabat CEO Gojek pernah berkata kepada CNN Indonesia, kalau pilihannya ekspansi ke luar Indonesia untuk melihat apakah model jasa mereka dapat direplikasi dalam konteks kebudayaan yang berbeda atau tidak.

Berbeda dengan Gojek, Investree ingin mengambil peran sebagai jembatan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di seluruh kawasan. “Apalagi keterbatasan akses ke perbankan tak hanya terjadi di Indonesia. Hampir semua negara berkembang di Asia Tenggara seperti Filipina, Thailand dan Vietnam juga mengalami hal yang sama,” kata Adrian.

Ketika Investree melakukan kerja sama dengan Midtrans.

Sebagai tahap uji coba, sejak 2018 lalu untuk pertama kalinya Investree menjajal pasar Vietnam. Mereka mengakuisisi 10 persen saham eLoan, startup peer to peer (P2P) lending lokal.

Namun Adrian menyebut operasional mereka di negara tersebut tidak terhitung sebagai ekspansi. Karena kepemilikan saham yang minoritas tidak membuat pendapatannya bisa dikonsolidasikan ke dalam Investree Group. Brand yang digunakan juga tidak memakai nama Investree.

“Regulasi fintech di Vietnam belum siap, jadi kami belum berani alokasi resources yang terlalu besar di sana. Mungkin nanti ketika regulasinya sudah jadi, Vietnam akan masuk target selanjutnya,” tutur Adrian.

Bersiap ekspansi ke Thailand dan Filipina

Akhir 2019 lalu, PT Investree Radhika Jaya yang menaungi Investree mengumumkan langkah joint venture partnership mereka dengan sejumlah pihak. Tujuannya untuk ekspansi ke Filipina dan Thailand. Strategi ini jauh berbeda dengan yang mereka lakukan di Vietnam.

Tahapan ekspansi Investree di Thailand telah memasuki masa mempersiapkan perizinannya di kuartal pertama 2020 ini. Jika semuanya rampung, mereka akan mulai menjalankan bisnisnya dengan brand Investree. Brand yang sama mereka bawa ke Filipina.

Di Thailand, Investree menggandeng perusahaan pembayaran 2C2P dan mendirikan perusahaan patungan di mana mereka menjadi pemegang saham mayoritas. 

Logo Investree | Photo

Sementara di Filipina, Investree bekerja sama dengan konglomerasi Filinvest Development Corp (FDC), yang memiliki ekosistem usaha di bidang perbankan, properti, perkebunan dan infrastruktur pembangkit listrik. Dalam perusahaan patungan itu, Investree dan FDC Group sama-sama kantongi kepemilikan 50 persen saham.

“Kita melihat ini peluang karena mereka [FDC] punya pasar, punya bank, dan juga punya akses ke regulator. Mereka jadi mitra yang pas dengan kebutuhan Investree,” ungkap Adrian.

Dalam menjalin kerja sama dengan satu pihak, Investree memang melakukan serangkaian kajian. Mitra potensial yang akan diajak menjalankan bisnis bersama-sama harus memiliki akses ke regulator, ke pasar dan punya ekosistem usaha yang luas.

Tantangan ekspansi ke luar Indonesia

Indonesia merupakan satu dari sekian negara tujuan ekspansi yang potensial bagi pelaku bisnis luar negeri. Namun ambisi perusahaan dalam negeri untuk ekspansi keluar juga patut diapresiasi. Tantangannya juga berbeda.

Adrian mengatakan, tantangan terbesar dalam upaya ekspansi ke luar negeri terletak pada negosiasi dengan calon mitra. Negosiasi itu biasanya mencakup kepemilikan, dan penentuan dewan direksi perusahaan.

Setelah mencapai kesepakatan dengan mitra pun, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan tim. Untuk mendirikan kantor awal di luar negeri, Adrian menyebut setidaknya diperlukan 12 orang, di mana biasanya 5 orang berasal dari Indonesia dan sisanya dari mitra lokal.

Begitu juga dengan pembagian tanggung jawab. Dalam Investree Group, tanggung jawab mengenai produk, model bisnis, teknologi hingga manajemen risiko disediakan oleh tim Investree asal Indonesia. Sementara hal lain seperti pemasaran, pengembangan bisnis, akses ke regulator membutuhkan pengetahuan dan jaringan diserahan ke mitra lokal.

Adrian mengaku tak khawatir dengan persaingan dengan sesama perusahaan fintech. Menurutnya, ekosistem fintech lending di Indonesia telah lebih maju dibandingkan Thailand dan Filipina, sehingga hal tersebut menjadi kesempatan bagi Investree.

Dia optimis, langkah Investree untuk menjadi pemain regional dapat tercapai dengan Indonesia, Thailand dan Filipina menjadi fokus utama.  Sejauh ini Investree menarget dapat menyalurkan pinjaman di atas US$10 juta (sekitar Rp137 miliar) di tiap-tiap negara.


(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Perjalanan Investree Ekspansi ke Regional Asia Tenggara appeared first on Tech in Asia.

The post Perjalanan Investree Ekspansi ke Regional Asia Tenggara appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: