Press "Enter" to skip to content

Pilihan Akal Sehat? Tetap Jokowi Amin!

Kampanyenya di Gelora Bung Karno hari Minggu (7/4) lalu, bisa dibilang adalah kampanye terbesar Prabowo Subianto untuk Pilpres 2019 ini. Di sana, Prabowo mengobarkan semangat populisnya, menunjukkan semua ‘kebobrokan’ yang tengah terjadi di Indonesia. Namun, apakah hanya sekedar mengetahui permasalahan yang ada bisa menjadi alasan yang cukup untuk memilihnya sebagai presiden?

Kurang dari 10 hari menuju Pilpres 2019, Jokowi dan Prabowo semakin gencar berkampanye di seluruh penjuru Indonesia. Minggu kemarin, Jokowi mengadakan rapat umum di Ngawi, Jawa Timur dan Sragen, Jawa Tengah.

Dengan gayanya yang bersahaja, Presiden Jokowi menjelaskan tentang pencapaian-pencapaian pemerintahannya―seperti investasi infrastruktur jalan dan kereta api, yang telah menjadi salah satu prioritas utama di periode jabatan pertamanya―dan bagaimana pencapaian-pencapaian itu akan berlanjut jika rakyat Indonesia memilihnya kembali menjadi presiden. Jokowi juga berjanji dia akan mengundang sekelompok petani ke istana untuk membahas tantangan mata pencaharian mereka lebih lanjut setelah pilpres.

Dalam rapat-rapat umumnya, Jokowi tampak yakin akan memenangkan periode kedua, dan keyakinan Jokowi ini beralasan. Di sebagian besar jajak pendapat, ia unggul dengan selisih dua digit dibandingkan dengan perolehan Prabowo, walaupun hasil jajak pendapat semacam ini biasanya tidak dapat diandalkan.

Jokowi juga populer di kalangan pemilih kebanyakan, sedangkan Prabowo dinilai kurang dinamis dibandingkan saat kampanye Pilpres 2014 ketika ia kalah tipis dari Jokowi.

Tetapi jika Pilpres 2019 adalah pengulangan dari Pilpres 2014 dan berarti hasilnya telah bisa diprediksi―dengan kandidat yang sama dan tema kampanye yang sama―sepertinya sekitar 150.000 pendukung Prabowo yang hadir di stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada hari Minggu (7/4) tidak setuju dengan itu.

Walaupun kerumunan di GBK tidak mencapai jutaan―jumlah yang dijanjikan penyelenggara―orang-orang datang dari Jakarta dan sekitarnya tiba dari jam 4 pagi untuk salat Subuh berjamaah dan kemudian mendengarkan Prabowo dan Sandi meminta―dan menuntut―dukungan mereka.

“Kami melihat, kami merasakan, kami bisa menangkap getaran hati rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia sekarang ingin perubahan. Rakyat Indonesia sudah tidak mau dibohongi lagi, rakyat Indonesia sudah muak dengan korupsi,” suaranya menggelegar di GBK.

“Rakyat Indonesia sudah tidak mau terima lagi hak-haknya diinjak-injak. Rakyat Indonesia sudah mengerti, rakyat Indonesia tidak bodoh. Rakyat Indonesia sekarang menuntut pemerintah yang punya akal sehat.”

“Insya Allah, jika kami diberi kesempatan, kami akan membela rakyat, kami akan melawan ketidakadilan, kami akan melawan para pemimpin yang menipu rakyat.”

“Saya berdiri di sini karena saya berpandangan bahwa negara kita sedang sakit, saudara-saudara sekalian. Ibu pertiwi sedang diperkosa! Kekayaan kita terus diambil. Hak-hak rakyat diambil.”

Berkali-kali, Prabowo menekankan tema-tema nativis dan poin-poin debat nasionalis yang menjadi ciri kampanyenya tahun ini dan kampanyenya tahun 2014.

Indonesia, menurutnya, telah kehilangan triliunan pendapatan pajak dan mengalirnya investasi ke luar negeri. Rakyat Indonesia tidak mendapat manfaat dari kekayaan alam yang besar di negara ini, dan korupsi di Indonesia sangat parah, seperti kanker stadium empat, katanya.

“Banyak orang bahkan tidak memiliki akses ke air bersih. Banyak orang kelaparan. Negara macam apa ini, setelah 73 tahun merdeka, negara masih tidak bisa memberi makan orang-orang kelaparan?”

Dia juga mengkritik tingginya biaya beberapa proyek infrastruktur Jokowi.

Di GBK Prabowo juga menonjolkan gaya populisnya, dengan berjanji untuk membuat Indonesia hebat. Dia mengatakan dia bisa membuat Indonesia lebih mandiri dan lebih penting di mata dunia.

Namun, tim Prabowo telah menuduh bahwa ada sekitar 17,5 juta “pemilih hantu” yang berada di daftar pemilih (masalah yang diangkat lagi oleh Prabowo di kampanyenya pada hari Minggu) dan mereka telah memperingatkan bahwa jika mereka kalah dalam pilpres nanti, mereka akan mengajukan banding hasil pilpres ke Mahkamah Konstitusi dan akan mengadakan demonstrasi.

Bagi seorang kandidat dan gerakan yang memproyeksikan kepercayaan diri yang sangat tinggi mengenai solusi yang tepat untuk menyelesaikan berbagai masalah di Indonesia, sayangnya sampai saat ini, masih ada pertanyaan mendasar yang Prabowo dan timnya belum mampu jawab secara komprehensif.
Mengapa rakyat Indonesia harus memilih Prabowo sebagai Presiden?

Diagnosis Prabowo tentang masalah-masalah Indonesia akurat―sampai ke titik tertentu. Tetapi ada ketidaksesuaian dalam bagaimana ia menampilkan dirinya sebagai orang yang memecahkan masalah bangsa.

Dia adalah kandidat ‘orang kuat’ yang akan membuat segalanya lebih baik dengan membantu yang lemah; jutawan yang peduli pada orang-orang kecil; mantan jenderal TNI yang memperjuangkan demokrasi; pemimpin yang akan menyatukan bangsa, tetapi yang mencari dukungan dengan bekerja sama dengan pemilih Muslim konservatif dan kelompok kepentingan lainnya di negara yang sudah lama bangga akan pluralisme dan toleransi agamanya ini.
Pada intinya, tujuan Prabowo adalah untuk memanfaatkan kekecewaan kelompok-kelompok tertentu, baik mengenai reputasi bangsa mereka di dunia atau dalam kehidupan sehari-hari.

Prabowo mungkin akan memenangkan pilpres pada 17 April nanti. Tetapi jika dia tidak menang, itu sebagian karena ketidakmampuannya untuk menjelaskan beberapa kontradiksi yang mencolok ini kepada para pemilih.

Sementara itu, Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief kembali mengungkap ‘dapur’ internal Koalisi Adil Makmur yang mengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

Kali ini, Andi menyebut terdapat faksi-faksi atau pengelompokan di internal koalisi Prabowo-Sandi. Ia menyebut terdapat ‘Faksi Keumatan’ dan ‘Faksi Kerakyatan’ dalam tubuh koalisi tersebut.

Dalam gelaran Pilpres 2019, Prabowo-Sandi didukung lima partai politik yakni Gerindra, PKS, PAN, Demokrat, dan Berkarya. Demokrat, kata Andi, tak mau bergabung di Faksi Keumatan dan lebih memilih untuk membentuk Faksi Kerakyatan.

Pernyataan Andi ini keluar sehari setelah Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menulis surat berisi kritik terhadap kampanyeakbarPrabowoSubianto di Stadion Utama GeloraBungKarno (GBK), kemarin.

Dalam suratnya SBY menyebut kampanye akbar Prabowo tersebut tidak lazim dan tidak mencerminkan kampanye politik nasional yang seharusnya bersifat inklusif.

Andi menegaskan pihaknya tak ingin Faksi Keumatan menjadi pemimpin koalisi Prabowo-Sandiaga. Jika tidak, menurutnya lebih baik Partai Demokrat yang memimpin koalisi ini.

“Partai Demokrat ingin yang memimpin koalisi ini atau komando koalisi ada di tangan Pak Prabowo,” kata Andi, Senin (8/4).
Jika Prabowo terpilih menjadi Presiden, tidak menutup kemungkinan akan terjadi pertarungan Kepentingan antar Partai. Belum lagi pendukung lainnya diluar Partai Pengusung.

Presiden dipilih untuk membawa Bangsa dan Negara ini untuk lebih BAIK dari sebelumnya bukan?…

Dikutip dari
James Massola (The Sydney Morning Herald), CNN Indonesia dan Wahyudi GM

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: