Press "Enter" to skip to content

Prediksi kemenangan Jokowi


Prediksi kemenangan Jokowi
( Hasil studi dari The Economist )

Hampir semua CEO perusahaan besar dan pemain pasar uang menjadikan laporan The Economist sebagai referesi membuat keputusan investasi secara global. Mengapa ? Ini menyangkut jangka panjang. Karenanya butuh data dengan reputasi yang tinggi. The economist didirikan tahun 1946 di Inggeris. Namun mereka punya kantor hampir diseluruh dunia, termasuk di China. Economist berfocus kepada Forecasting, economic research and analysis. The economist juga punya Economist Intelligence Unit ( EIU). IEU dibawah business group dari The economist. IEU menyediakan layanan prediksi dan konsultansi melalui penelitian dan analisis setiap negara, seperti laporan bulanan, ramalan ekonomi negara lima tahunan, laporan risiko negara, dan laporan industri.

Karena ekonomi berhubungan era dengan politik, analisa Economist terhadap politik dan ekonomi setiap negara hampir tidak pernah meleset. Lima tahun lalu the economist sudah meramalkan terjadi krisis sistemik di Turki dan kini benar terjadi. Hancurnya ekonomi venezuela sudah diramalkan jauh sebelumnya dan memang terbukti. Menurunnya ekonomi inggeris karena Brexit, ternyata terbukti. IEU dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa Jokowi akan memenangkan pemilu 2019. Dengan kemenangannya, analis The economist memprediksi bahwa Jokowi akan memastikan kelanjutan reformasi iklim usaha pada lima tahun kedua pemerintahannya, meski diperkirakan tidak berubah drastis

“Kami mengantisipasi jika Jokowi menang, maka deregulasi untuk perbaikan iklim bisnis akan terjadi sedikit demi sedikit dan pembukaan untuk investasi asing dilakukan secara gradual. Big Bang reformasi terdengar eklusif,” tulis laporan The Economist Intelligence Unit yang dikutip Ahad, 7 April 2019. Disebutkan EIU bahwa pemerintahan Jokowi saat ini telah memberikan stabilitas makroekonomi dan peningkatan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Ini juga telah membuat kemajuan bertahap dalam pengembangan infrastruktur.

Sementara itu, EIU menyebutkan, jika Prabowo Subianto memenangkan Pilpres 2019 maka pemerintahan akan berwajah nasionalistik dan akan lebih menantang untuk bisnis asing, serta perusahaan Indonesia dengan jangkauan global. “Stabilitas fiskal Indonesia juga dapat terancam oleh rencana pemotongan pajaknya. Kebijakan di Indonesia, tulis EIU, akan berubah menjadi populis. “Resep kebijakan Prabowo” dapat mengancam stabilitas makroekonomi Indonesia, dan pendekatan proteksionisnya akan menghalangi investor asing.

Sumber : Erizeli Jely Bandaro

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: