Press "Enter" to skip to content

Rapat Terbatas mengenai Kebijakan Pengembangan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), 27 Januari 2020, di PT PAL Indonesia, Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menko, para Menteri, seluruh Direktur Utama BUMN industri strategis, baik PAL, Pindad, PT DI, LEN, INTI, dan yang lain-lainnya yang tidak bisa saya sebut satu per satu, Panglima TNI beserta seluruh Kepala Staf, Kapolri,

Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati.
Rapat Terbatas di siang hari ini kita akan membahas mengenai strategi besar ke depan terhadap industri strategis pertahanan kita yang terutama berkaitan dengan kebijakan pengembangan pengadaan alat utama sistem senjata. Dan saya ingin memastikan bahwa program pengembangan alutsista itu betul-betul dapat memperkuat industri pertahanan di negara kita.

Setelah tadi kita melihat bersama-sama kondisi lapangan, saya ingin mempertegas lagi, mengingatkan lagi bahwa yang pertama, kita harus fokus terhadap pembenahan ekosistem industri pertahanan, baik yang berkaitan dengan fasilitas pembiayaan bagi BUMN klaster industri pertahanan, kemudian juga ketersambungan dengan industri komponen baik itu komponen pendukung maupun bahan baku. Kemudian, termasuk di dalamnya adalah reformasi supply chain dan pengembangan industri lokal untuk mengurangi ketergantungan kita kepada barang-barang impor.

Juga yang berkaitan dengan peningkatan efisiensi, pembenahan manajemen tata kelola, semuanya. Saya ingat saya masuk di PT PAL ini di 2015, mohon maaf saya harus ngomong apa adanya, saya masuk gitu aja, saya melihat bahwa kelihatan tidak ada manajemennya, manajemen di pabrik ini, di workshop ini. Mesin-mesin berceceran dan saat itu juga langsung saya perintah kepada Menteri untuk dibenahi. Kemudian seingat saya dikucurkan juga setelah itu PMN (Penyertaan Modal Negara) sebesar Rp1,5 triliun. Dan saya sangat senang, saya masuk ke sini lagi, berarti 4 tahun setelah itu, kelihatan sekali ada sebuah perubahan manajemen. Saya ini orang pabrik, jadi lihat/masuk ke sebuah ruangan itu kelihatan ada manajemennya atau tidak, tata kelolanya benar atau tidak, kelihatan sekali.

Dan juga, perubahan dari product driven kepada market driven. Ini penting sehingga kita bisa memproduksi bukan hanya untuk kepentingan militer tetapi juga alat-alat pertahanan, tetapi juga menghasilkan produk untuk kepentingan non-militer. Sampai kepada bagaimana mendorong agar lebih banyak pesanan/order dari dalam negeri.

Dan terutama ini saya juga perlu menyampaikan mengenai belanja pertahanan dalam APBN kita sebesar Rp127 triliun itu agar diarahkan ke industri pertahanan kita. Minimal paling tidak, seperti yang saya lihat di negara lain, paling tidak 15 tahun itu industri-industri strategis pertahanan kita harus memiliki order atau pesananannya. Sehingga arahnya, tata kelolanya bisa direncanakan, bisa dibangun sebuah rencana panjang yang baik dan investasinya menjadi lebih terarah.

Tidak kalah pentingnya adalah perluasan pasar ekspor produk-produk BUMN klaster industri pertahanan. Yang ini juga saya lihat beberapa sudah dilakukan, baik oleh PT PAL, oleh PT Pindad, maupun PT DI. Ini juga sebuah lompatan yang kita memerlukan pasar yang lebih besar lagi.

Yang kedua, yang berkaitan dengan transfer teknologi. Kerja sama produksi dengan BUMN, peningkatan kandungan dalam negeri (TKDN), kemudian pengembangan rantai produksi antar BUMN dengan UKM-UKM dengan perusahaan-perusahaan swasta saya kira sangat diperlukan.

Kemudian yang terakhir, saya minta agar pengembangan alutsista kita mampu menyerap dan mengadopsi pengembangan teknologi militer terkini yang serba digital. Ini memerlukan lompatan tetapi saya yakin dengan BUMN kita berpartner dengan perusahaan-perusahaan luar yang sudah memiliki reputasi saya kira ini akan lebih cepat kita mengadopsi perkembangan teknologi militer terkini. Dan kita betul-betul harus mampu mengatasi lompatan teknologi militer dalam jangka waktu 20, 30, 50 tahun ke depan dan mampu memahami/menguasai teknologi otomatisasi, teknologi sensor yang mengarah kepada penginderaan jarak jauh serta teknologi IT seperti 5G, komputasi kuantum yang mengarah kepada pengembangan sistem senjata yang otonom serta pertahanan siber.

Saya rasa itu sebagai pengantar yang saya bisa sampaikan. Dan waktu saya berikan Pak Menko, Pak Menhan untuk menyampaikan BUMN kita ini mau…, dan mungkin Menteri BUMN juga, BUMN klaster industri pertahanan ini mau dibawa ke mana. Saya silakan.

%d blogger menyukai ini: