Press "Enter" to skip to content

Roots – Cara Investree Membangun Employee Engagement Lewat Aplikasi Internal

Membangun employee engagement di era kerja modern seperti sekarang ini menjadi tuntutan baru bagi perusahaan. Kebutuhan tersebut berkembang menjadi satu di antara sekian strategi perusahaan guna menjaga retensi berkurangnya karyawan mereka, terutama di tengah situasi sulitnya mencari talenta berkualitas.

Berdasar studi yang dilakukan Institute of Employment Inggris, upaya employee engagement saat ini menjadi hal penting yang perlu diperhatikan perusahaan demi mencapai kondisi perusahaan yang “sehat”.

Untuk itu, perusahaan dituntut mengembangkan dan memelihara keterlibatan mereka dalam menjalin hubungan komunikasi dua arah yang positif antara pemberi kerja dan karyawan. Mulai dari sebatas ucapan selamat atau dalam bentuk pemberian atensi lainnya.

Upaya membangun employee engagement juga menjadi perhatian bagi startup dengan growth pertumbuhan karyawan yang signifikan dari tahun ke tahun seperti Investree.

Startup peer-to-peer lending ini telah memiliki 200 karyawan di tahun keempatnya. Mereka bahkan memiliki kiat tersendiri untuk tetap membangun engagement dari waktu ke waktu, lewat sebuah tools yang dikembangkan khusus di kalangan internal mereka.

Talent engagement jadi kunci keberhasilan organisasi startup 

Sumber: LinkedIn Investree

Fundamental terhadap perlunya pengelolaan talent hingga ke tahap engagement rupanya dipahami betul oleh Adrian Gunadi selaku CEO Investree.

Pria yang telah mendalami karier di sektor perbankan dan layanan finansial selama belasan tahun ini beranggapan bahwa selain produk, kunci keberhasilan sebuah startup juga terdapat pada bagaimana startup tersebut berhasil mengelola sumber daya manusia yang mereka punya.

Yang kita amati dari pola pengembangan startup teknologi pada umumnya, (strategi) people atau talent management menjadi sangat penting. Jangan sampai kita terlalu cepat tumbuhnya, kita sampai tidak memperhatikan dan mengukur engagement dari orang-orang yang kita punya.

Strategi pengelolaan people management ini menurut Adrian sangatlah penting karena eksekusi dari rencana bisnis startup selalu dikembalikan lagi kepada sumber daya manusia (people) yang mereka punya.

Hal tersebut juga Adrian temukan dari referensi pengelolaan perusahaan startup raksasa dari Silicon Valley seperti Netflix dan Amazon.

Oleh karena itu kata Adrian, setiap startup yang memasuki tahap scale-up karyawan  sangat perlu memberikan perhatian khusus terhadap strategi sistem manajemen sumber daya manusia mereka. Mulai dari proses perekrutan, training, review performa, bikin talent pool, hingga bagaimana kiat menumbuhkan proses engagement tadi secara kontinu dalam organisasi mereka.

Jangan sampai kita terlalu fokus terhadap scale-up bisnis, tetapi talenta sumber daya manusia dan infrastruktur yang menaunginya kurang kuat menampung jumlah orang yang terus menerus bertambah

Adrian Gunadi,
CEO Investree

Perusahaan umumnya membangun engagement antara karyawan mereka lewat keberadaan tools komunikasi sederhana seperti aplikasi chating yang biasanya digunakan dalam keseharian. Hal tersebut bisa bermacam bentuknya, mulai dari WhatsApp, LINE, dan lain-lain.

Namun dalam implementasinya, proses membangun engagement melalui tools aplikasi chating konvensional semacam ini seringkali terkendala oleh keterbatasan fungsi dan fitur lain-lain yang tidak bisa dikustomisasi.

Selain faktor kustomisasi, menurut Adrian, salah satu alasan lain yang mendasari diperlukannya tools khusus untuk menaungi proses talent engagement di Investree adalah tantangan untuk selalu memperbaharui informasi dalam proses berorganisasi.

“Karena organisasi yang tumbuh cepat sekali, terkadang orang tech tidak tahu apa yang dikerjakan orang bisnis. Begitu juga marketing communication yang seringkali miss terhadap implementasi fitur-fitur terkini,” kenang Adrian.

Berangkat dari beberapa alasan tersebut, tim Investree kemudian mencari  tools lain untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan mereka dalam proses talent engagement.

Dari proses riset tersebut, pihak Investree lalu menggaet startup lokal bernama Happy5 untuk mengembangkan aplikasi khusus yang tidak sekadar berfungsi sebagai pengganti grup WhatsApp kantor saja, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi tools untuk framework karyawan internal perusahaan.

Roots bukan sekadar pengganti grup WhatsApp

Happy5 merupakan startup layanan HRTech yang menyediakan aplikasi employee engagement as service bagi perusahaan lain. Layanan buatan startup asal Jakarta ini sebelumnya dimanfaatkan oleh banyak perusahaan seperti Telkomsel dan ANTV.

Konsep pengembangan aplikasi Roots berangkat dari konsep kebutuhan apa yang ingin didorong pihak Investree, terutama dalam kebutuhan talent dan employee engagement. 

Joko Ismoyo selaku Head of People Strategy di Investree menggambarkan Roots sebagai aplikasi “media sosial” internal milik perusahaan yang memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  • Informasi profil masing-masing karyawan (identification)
  • Kebutuhan berbagi informasi (knowledge sharing)
  • Timeline untuk komunikasi antar karyawan
  • Pengumuman perusahaan (corporate communication)
  • Survei
  • Fitur berekspresi
  • Fitur pemberian penghargaan (recognition)

Sejak mulai diperkenalkan pada 2018 silam, adopsi awal penggunaan tools komunikasi internal semacam ini diakui Adrian bukanlah proses yang mudah. Penerimaan karyawan masih dianggap terlalu rendah karena tidak banyak aktivitas yang dibangun di sekitar aplikasi tersebut selain fungsi untuk saling berkirim ucapan ulang tahun.

Berangkat dari masalah minimnya pengadopsian ini, tim komunikasi dan Human Resource Investree kemudian memulai langkah pengembangan konten internal untuk mendorong pemakaian Roots dalam aktivitas komunikasi internal kantor sehari-hari.

“Kita telah melalui situasi di mana manajemen bahkan memutuskan untuk mematikan grup WhatsApp kantor agar semua karyawan Investree memakai Roots,” kenang Adrian.

Setelah beberapa bulan, adopsi Roots dalam lingkup organisasi Investree kini telah menjadi basis komunikasi yang rutin dipakai oleh karyawan dalam sehari-hari, bahkan hingga ke lingkup operasional tugas pemesanan harian office boy sekalipun.

Keterlibatan Roots bahkan diklaim pihak manajemen Investree telah memberikan dampak signifikan bagi penekanan angka turnover rate karyawan.

Ke depannya, Adrian tidak menutup kemungkinan untuk terus mengembangkan platform Roots agar bisa memenuhi fungsi lain dalam kebutuhan employee engadgement dari perusahaan startup yang ia dirikan.

“Ada peluang bagi kami untuk menjadikan Roots ini sebagai medium  performance management, mulai dari menilai seberapa tinggi engadgement tim dan lain-lain,” ungkap Adrian.

Yang jelas dengan tools yang dimilikinya saat ini, pihak Investree memiliki infrastruktur pendukung kuat untuk mendorong proses scale-up karyawan yang lebih luas lagi, terlebih lagi dengan rencananya untuk berekspansi ke Filipina dan Thailand di masa mendatang.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Roots – Cara Investree Membangun Employee Engagement Lewat Aplikasi Internal appeared first on Tech in Asia Indonesia.