Press "Enter" to skip to content

Seberapa Perlu Jam Kerja Fleksibel dalam Budaya Kerja Saat Ini?

Perusahaan startup biasanya menawarkan pengalaman kerja yang berbeda dengan perusahaan konvensional. Benefit yang ditawarkan bisa beragam bentuknya, mulai dari lingkungan bekerja yang sangat fleksibel hingga tunjangan jalan-jalan.

Namun dari sekian banyak jenis benefit yang ada, jam kerja yang fleksibel menjadi salah satu fasilitas yang paling mudah dijumpai. Hal ini dikarenakan kebutuhannya dianggap jauh lebih universal bagi berbagai kalangan.

Lantas seberapa perlu penerapan jam kerja fleksibel ini dan bagaimana kiat untuk mendorong serta menerapkannya di tempat kerja?

Perks yang populer dan tidak memakan biaya

Sumber: Finn’s Recreation Club.

Perusahaan konsultan rekruitmen dan head hunting, Robert Walters dalam survei terbarunya melaporkan bahwa, jam kerja fleksibel merupakan salah satu benefit yang paling populer di antara sekian banyak pilihan perks dan fasilitas kerja lainnya.

Popularitas opsi ini mengungguli benefit lain yang juga diharapkan ada dalam sebuah perusahaan seperti asuransi, subsidi untuk pengembangan diri, kerja remote, dan lain-lain.

Ada beragam alasan yang umumnya mendasari mengapa jam kerja fleksibel sangat diminati banyak karyawan belakangan ini, antara lain:

  • Kebutuhan parenting terhadap anak terutama yang berusia balita
  • Kebutuhan kondisi medis
  • Pola keseimbangan kerja (work-life balance)

Yang menarik, laporan Robert Walters juga menemukan bahwa rata-rata karyawan sebetulnya hanya menggunakan sebagian kecil dari daftar tunjangan atau benefit yang ditawarkan oleh perusahaan.

Temuan ini menggambarkan bahwa penyajian benefit yang beragam jenisnya tidak hanya menjadi masalah efisiensi biaya, tetapi juga tidak efektif untuk upaya retain talenta perusahaan itu sendiri.

Apalagi benefit seperti asuransi kesehatan, asuransi jiwa, program kebugaran, dan model “tunjangan” lain biasanya memakan biaya pengelolaan yang tidak sedikit. Dan akan terus bertambah mahal seiring banyaknya jumlah karyawan yang di-retain oleh perusahaan.

Untuk itu, laporan Robert Walters menyarankan pendekatan yang lebih kreatif dalam penyaluran benefit perusahaan, daripada harus menggunakan pendekatan one-size-fits-all yang beresiko.

,

Jam kerja fleksibel sebagai strategi perekrutan perusahaan

Antonio Mazza dalam acara Voice of Startups yang diselenggarakan oleh KVB

Antonio Mazza selaku Manajer Robert Walters Indonesia mengatakan, kebutuhan terhadap fleksibilitas di tempat kerja sejalan dengan tren kondisi bekerja yang sedang berkembang di tengah masyarakat modern

Hal tersebut muncul seiring dengan tersebarnya koneksi internet berkecepatan tinggi di rumah maupun kantor, dan ragam sarana pendukung fleksibilitas di tempat kerja yang juga menjadi semakin bertambah.

Kerja fleksibel tidak hanya bermanfaat bagi kesejahteraan, komitmen, dan efisiensi tempat kerja saja, tetapi juga memberikan keunggulan kompetitif bagi strategi perekrutan perusahaan yang kamu punya.

Situasi ini menurut Mazza bisa menjadi pendekatan bagi perusahaan, terutama dalam hal penerapan strategi perekrutan karyawan mereka. Alih-alih menawarkan keleluasaan, perusahaan di satu sisi juga didorong untuk bertransformasi agar penerapan fleksibilitas di tempat kerja berjalan selaras dengan hasil performa yang diinginkan dari kinerja karyawan.

Untuk itu agar penerapan benefit ini bisa berjalan dengan baik, Robert Walters menyarankan kiat-kiat berikut ini kepada perusahaan untuk menghindari risiko penyalahgunaan benefit fleksibilitas jam kerja.

     1. Ciptakan kultur kerja yang terbuka

Agar benefit ini bisa terakomodasi dengan baik, perusahaan juga harus menciptakan budaya atau kultur kerja di mana karyawan lain tidak merasa akan dirugikan dengan memanfaatkan pengaturan kerja yang fleksibel.

Untuk itu, perusahaan perlu memastikan bahwa pengaturan kerja yang fleksibel telah terlihat dan tertanam dalam pengoperasian sehari-hari dan sebelumnya juga telah dibahas secara terbuka, baik dari seluruh organisasi maupun di tingkat tim.

Dalam hal ini leader atau manajer tim harus didorong untuk membahas pengaturan kerja yang fleksibel dengan semua anggota mereka untuk memastikan bahwa setiap orang diperlakukan setara dan adil.

  1. Sepakati langkah-langkah kerja untuk memantau hasil karyawan

Untuk mengatasi ketakutan akan penyalahgunaan kebijakan kerja fleksibel dan kesulitan pengawasan, baik manajer maupun karyawan sedari awal harus menyepakati ukuran keberhasilan yang diharapkakan dari karyawan.

Pada akhirnya, kesepakatan tersebut harus dirancang untuk memungkinkan karyawan bertanggung jawab atas hasil kerja mereka sendiri, sehingga termotivasi untuk meraih hasil kerja yang berkualitas.

Sebagai kesimpulan, di era kerja modern seperti sekarang ini, pengaturan benefit kerja yang fleksibel memang diperlukan untuk mengakomodasi beragam perubahan norma sosial dan dinamika keluarga yang ada di masyarakat.

Meskipun dibutuhkan, namun penerapannya tetap merujuk ke sejumlah pengaturan yang berbeda-beda.

Bagi entitas perusahaan yang berniat memberlakukan benefit ini, biasanya pengaturan jam fleksibel didasarkan pada kebutuhan perusahaan dan nature dari profesi pekerjaan itu masing-masing. Apakah keharusan beban kerja penuh waktu tersebut membutuhkan pengawasan yang lebih personal atau tidak?

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Seberapa Perlu Jam Kerja Fleksibel dalam Budaya Kerja Saat Ini? appeared first on Tech in Asia.

The post Seberapa Perlu Jam Kerja Fleksibel dalam Budaya Kerja Saat Ini? appeared first on Tech in Asia Indonesia.