Press "Enter" to skip to content

Sekolah Ortodoks dan Ancaman Disrupsi Teknologi

Pada tanggal 14 Juli 1853, beberapa kapal besar milik Amerika Serikat merapat di Pelabuhan Uraga, tepatnya di Prefektur Kanagawa, Jepang. Mississippi, Plymouth, Saratoga, dan Susquehanna, adalah nama kapal-kapal tersebut.

Atas pendaratannya yang begitu fenomenal, keempat kapal itu sontak menjadi perbincangan di seantero negeri. Kapal-kapal besar yang disebut sebagai ‘Kapal Hitam’ (Kurofune) oleh masyarakat setempat itu digadang-gadang sebagai penyebab utama terjadinya Restorasi Meiji di negara matahari terbit, Jepang.

‘Kapal hitam’ itu terlihat sangat menakutkan sekaligus mengesankan bagi setiap masyarakat Jepang yang melihat. Kapalnya begitu besar, modern, membawa banyak teknologi canggih dan hal-hal ajaib lainnya dari dunia baru. Kapal yang berlayar di bawah komando Komodor Matthew Perry itu sejatinya tidak hanya membawa misi dagang, tetapi juga (secara kebetulan) membuka mata masyarakat Jepang, terutama Kaisar Meiji yang progresif.

Dengan kedatangan armada super modern dari Amerika Serikat, sang kaisar muda merasa begitu tertinggal dengan bangsa asing. Dengan semangat pembaharuan, Ia mengatakan bahwa Jepang harus berubah dan segera mengakhiri era isolasi dan menuju keterbukaan, demi Jepang baru yang modern dan lebih beradab.

Terpanggil akan visi besar itulah maka sang kaisar mengikrarkan sebuah tekad untuk merevolusi pola pikir bangsanya. Dengan dekrit Restorasi Meiji, Ia berani membuka negara Jepang yang terisolir itu menjadi negara modern baru dengan membangun hubungan dagang dan diplomatik dengan luar negeri, membiarkan budaya barat yang sudah lebih dahulu maju untuk “menganeksasi” budaya samurai yang cenderung ortodoks, serta membuka akses pendidikan dan informasi dari masyarakat dunia untuk masuk ke Jepang.

Beberapa perjalanan diplomatik, seperti Iwakura Mission, yang dilaksanakan pada tahun 1871 dan 1873 ke sejumlah negara di Amerika Serikat dan Eropa, membawa pulang banyak ide perubahan dan akhirnya turut merevolusi sistem pendidikan Jepang yang tradisional menjadi lebih modern.

Sistem pendidikan baru itulah yang akhirnya membawa Jepang di awal abad ke 20 menjadi negara dengan kekuataan militer terbaik dunia. Sistem pendidikan baru itulah yang juga menyelamatkan jutaan masyarakat Jepang dari risiko kehancuran budaya dan peradaban ketika bangsa tersebut kalah perang pada tahun 1945.

User Generated Content (UGC)

Liberalisasi informasi dan pendidikan tidak hanya menjadi semangat Kaisar Meiji berpuluh tahun silam. Kini, semangat untuk menjadikan informasi hadir secara bebas tak terbendung menjadi semangat setiap umat manusia yang hidup di era milenium.

Perbedaaannya adalah dahulu informasi dan peradaban dibawa oleh kapal-kapal Hitam dari Amerika Serikat, kini informasi dan peradaban baru dibawa oleh produk-produk teknologi ciptaan para innovators jenius dari lembah silicon di California. Juga dari Amerika Serikat.

Data menunjukkan bahwa tingkat penetrasi internet di Indonesia sudah mencapai jumlah yang sangat besar. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebanyak 143 juta orang telah terhubung jaringan internet sepanjang 2017. Data ini akan terus membesar dari waktu ke waktu.

Dapat dibayangkan apabila infiltrasi teknologi yang begitu masif ini bergabung dengan permintaan atas teknologi yang sangat besar dan menjamurnya pasokan hardware berharga super kompetitif (baca: murah), tentu hal ini akan sangat memudahkan setiap orang yang berada di usia produktif untuk mendapatkan akses informasi secara cuma-cuma. Akses informasi secara cuma-cuma juga berarti pendidikan gratis untuk seluruh lapisan masyarakat.

Perkembangan infiltrasi internet ini ternyata didukung oleh tumbuhnya berbagai macam platform UGC (User Generated Content) yang memungkinkan setiap penggunanya menjadi content creator dan membagikan jutaan informasi menarik setiap harinya kepada seluruh warganet di seluruh dunia. Hal ini menariknya juga sesuai dengan karakter generasi Y dan Z yang lebih melek teknologi, independent dan haus pencitraan.

Generasi Y dan Z yang lebih narsis ini dengan senang hati dan tanpa beban sedikitpun akan melaporkan apapun yang dilakukannya ke para warganet lain secara gratis. Mereka dengan senang hati melaporkan makanan apa yang mereka makan, lengkap dengan foto yang super artistik.

Mereka juga dengan senang hati dan tanpa paksaan melaporkan sedang berada di mana, lengkap dengan foto dan ulasan budaya, juga sejarahnya yang istimewa. Konten gratis yang diberikan oleh warganet secara cuma-cuma inilah yang diprediksi dapat mengancam eksistensi guru dan tenaga pengajar lainnya yang (merasa) sudah terlalu mapan dengan keberadaannya selama ratusan tahun.

 

Reposisi Guru di Masa Depan

Suka atau tidak suka, peran guru sekarang sudah banyak tergantikan oleh media dan teknologi yang berkembang sangat cepat dan tidak terbendung. Lahirnya banyak produk teknologi dan aplikasi yang memproduksi konten gratis (UGC) seperti YouTube, Wikipedia atau pun Quora membuat jutaan umat manusia dapat mengakses informasi secara lebih cepat dan murah.

Perkembangan konten gratis ini bukan saja dapat membuat masyarakat dunia menjadi lebih berpengetahuan secara lebih cepat, tetapi lebih dari itu!

Perkembangan teknologi, internet, dan peran User Generated Content dari teknologi tersebut mampu memacu setiap content creator dalam platform tersebut memberikan konten mereka secara baik dan paripurna dari hari ke hari. Entah karena iming-iming earning atau pun reputasi yang (ternyata) juga sangat penting dalam dunia digital. Penawaran yang sesuai dengan permintaan inilah yang akhirnya menciptakan lebih banyak orang yang berpengetahuan, yang akhirnya dapat membuat ras menusia menuju fase peradaban baru secara lebih cepat.

Di era globalisasi yang saling berhubungan ini, perkembangan liberalisasi pendidikan ini juga terjadi di tanah air. Di Indonesia, kita mengenal beberapa produk teknologi yang juga memungkinkan masyarakat dapat belajar secara mandiri, dari jarak jauh dan tentu saja dengan biaya yang relatif murah. Sebut saja Ruangguru atau BukaReview dari Bukalapak.

Dengan produk teknologi ini, tidak jarang para orang tua urban di Indonesia yang akhrinya memilih untuk tidak menjadikan sekolah sebagai satu-satunya tumpuan untuk mendapatkan informasi dalam rangka menjadikan anaknya lebih terdidik. Dengan program home schooling yang dibantu oleh informasi gratis dari internet, pendidikan kini dapat hadir di tengah keluarga secara lebih personal dapat disesuaikan dengan minat, bakat serta minat anak. Hadirnya produk teknologi yang mudah diakses dan murah, tentu merupakan perkembangan yang menarik untuk menjadi pilihan baru keluarga modern saat ini dan masa depan.

Seharusnya kita semua belajar dari Nokia dan Kodak yang hancur berkeping-keping akibat tidak sadar (atau mungkin terlalu arogan) akan hadirnya pendatang baru yang lebih diminati dan memiliki kemampuan untuk tumbuh yang lebih cepat. Maka, tidak tertutup kemungkinan fenonema disrupsi lembaga pendidikan dan peran guru ini akan berulang, karena sejatinya tidak ada yang benar-benar baru di bawah langit yang sama.

Dengan adanya perkembangan teknologi pendidikan yang semakin masif tersebut, sepertinya sudah saatnya guru dan lembaga pendidikan konvensional merasa rawan dan merevolusi diri untuk lebih adaptif, agile (tangkas/tahan banting), dan responsif terhadap perkembangan teknologi yang arusnya makin melaju deras.

Dengan adanya perkembangan teknologi pendidikan yang semakin masif tersebut, sepertinya sudah saatnya guru dan lembaga pendidikan konvensional merasa rawan dan merevolusi diri untuk lebih adaptif, agile (tangkas/tahan banting), dan responsif terhadap perkembangan teknologi yang arusnya makin melaju deras.

– –

Bertahan dan Tumbuh

Beberapa contoh yang dapat dijadikan inspirasi untuk tetap bertahan dan berkembang di era teknologi ini adalah menggabungkan metode pendidikan konvensional dengan e-learning. Namun, karena e-learning membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan acapkali masih menggunakan proses produksi yang tergolong tradisional (meski sudah menggunaakan bantuan teknologi), skema ini diprediksi tidak akan mampu bertumbuh cukup pesat untuk mengatasi laju pertumbuhan konten gratis yang diproduksi secara sukarela oleh sistem pendidikan modern UGC yang kini marak.

Cara lainnya adalah melakukan kolaborasi dengan platform UGC yang sudah ada. Pihak kampus atau lembaga pendidikan dapat menggunakan teknologi UGC yang ada untuk dikombinasikan dengan kurikulum pembelajaran yang sudah ada di sekolah. Dengan kolaborasi ini, diharapkan peran guru akan bertransformasi utuh menjadi fasilitator, bukan lagi content creator.

Posisi guru sebagai faslitator inilah yang sebenarnya dirasa paling pas di era teknologi seperti sekarang, bukan lagi sebagai “main course” dalam setiap sajian menu pendidikan konvensional yang ada selama ini. Sesuai dengan semangat pola pendidikan student centered learning yang digaung-gaungkan di era modern sekarang ini.

Perubahan posisi inilah yang akan membuat perkembangan ilmu pengetahuan berjalan lebih cepat dan sesuai dengan gaya anak-anak zaman sekarang dalam mengonsumsi informasi. Reposisi inilah yang seharusnya dibakukan dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Sekarang juga!

Selagi peran dan posisi itu belum terdisrupsi oleh teknologi lain yang lebih canggih, katakanlah Artificial Intelligence, sebuah kumpulan data dan angka yang dapat berpikir sendiri.

Saatnya berbenah! Ma Isa Lombu

Gus Fik
Follow me

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: