Press "Enter" to skip to content

Strategi Ekspansi CoHive Setelah Terima Pendanaan Seri B

Pada Juni 2019 lalu, startup pengelola jaringan ruang komunal (coworking space) CoHive mengumumkan telah mendapat pendanaan senilai US$13,5 juta (sekitar Rp192 miliar) dari penutupan pertama Seri B. Beberapa bulan ke depan, mereka punya target merampungkan perolehan pendanaan dengan total keseluruhan US$20 juta (Rp282 miliar).

Pada acara peresmian gedung CoHive 101, Jason Lee selaku co-founder dan CEO CoHive memaparkan, pendanaan yang baru mereka terima ini akan digunakan untuk memperluas cakupan jaringan sekaligus diversifikasi produk ke berbagai sektor.

Pergerakan bisnis CoHive memang cukup agresif. Hingga September 2019, mereka memiliki 33 ruang komunal dengan luas total 66.000 meter persegi yang tersebar di kawasan Jakarta, Tangerang, Yogyakarta, Medan, dan Bali.

Terlihat peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan akhir tahun 2018 lalu, di mana mereka baru memiliki 17 ruang komunal dengan total luas 30.300 meter persegi.

Suntikan dana yang baru mereka terima ini akan membantu agar semakin agresif dalam berkembang. Mereka menargetkan bisa menyentuh angka 40 ruang komunal di akhir tahun 2019 serta siap hadir di kota besar lain seperti Surabaya, Bandung, dan Makassar.

Terus melakukan diversifikasi produk 

CoHive pertama kali berdiri tahun 2015. Awalnya diperkenalkan dengan nama EV Hive, mereka pun sempat berganti nama menjadi Cocowork sebelum akhirnya resmi menjadi CoHive pada tahun 2018 lalu.

Intan Cinditiara selaku Head of Communications and Community Engagement CoHive menjelaskan, pergantian nama ini dilakukan seiring dengan transformasi layanan yang mereka sediakan.

“Dulu fokus kami memang hanya coworking space dan private office. Sekarang kita coba untuk diversifikasi produk ke beberapa hal lain,” terangnya.

CoHive memang tidak lagi fokus pada penyediaan ruang komunal saja, mereka juga berusaha menghadirkan layanan baru yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Bersamaan dengan pengumuman pendanaan yang mereka dapat pada Juni 2019 lalu, CoHive memperkenalkan tiga layanan baru mereka.

  • Pertama adalah CoLiving. Layanan ini memperkenalkan konsep hunian modern, di mana para penghuninya diminta untuk saling berbagi ruang komunal dan fasilitas umum, sehingga mendorong adanya kolaborasi maupun tukar inspirasi. 
cohive | coliving

Ruang kamar CoLiving dari CoHive

Dalam proyek perdana CoLiving ini, CoHive bekerja sama dengan Keppel Land Indonesia menghadirkan 64 ruang kamar dengan luas total 2.800 meter persegi. Harapannya, konsep ini bisa menjadi solusi bagi milenial yang menginginkan hunian terjangkau dengan fasilitas lengkap.

  • Kedua ada CoRetail. Yaitu jaringan ruang ritel yang bisa digunakan oleh UMKM maupun startup untuk memasarkan produk mereka secara offline. Saat peluncurannya, Jason menjelaskan bahwa CoRetail menawarkan fleksibilitas, suatu hal yang kerap menjadi masalah bagi para pelaku usaha dalam membuka sebuah toko ritel.

“CoRetail membantu pebisnis untuk memasarkan produk tanpa harus memusingkan biaya sewa yang menyusahkan ataupun komitmen pembayaran di muka. Ini yang terjadi saat ingin membuka gerai di shopping mall, mereka harus komitmen sewa antara 3-5 tahun dan bayar di muka sampai 12 bulan,” jelas Jason.

  • Ketiga CoHive Event Space. Ini merupakan penyewaan ruang acara. Dengan fasilitas ini CoHive berharap bisa mendorong terwujudnya berbagai sharing session ataupun workshop, sehingga proses pertukaran wawasan antar sesama pelaku bisnis bisa semakin mudah terjadi.

Strategi diversifikasi produk ini menunjukan komitmen dan optimisme CoHive terhadap permintaan pasar akan ekosistem kerja yang terintegrasi. Ketiga bisnis itu akan melengkapi bisnis ruang komunal mereka, dan diharapkan bisa menjadi strategi bisnis jangka panjang.

Sementara itu Fortune Sohn, Direktur Stonebridge Ventures mengatakan, diversifikasi produk yang dilakukan CoHive akan memperkuat posisi CoHive di pasar Indonesia untuk tetap berada di peringkat teratas.

Bukan hanya sebagai penyedia ruang komunal saja, melainkan juga sebagai pembentuk ekosistem startup. Stonebridge Ventures sendiri merupakan investor yang memimpin pendanaan Seri B untuk CoHive baru-baru ini.

Aktif bantu ekosistem startup agar semakin matang

cohive | jason lee

Jason Lee, CEO dari CoHive

Untuk membantu perkembangan ekosistem startup tanah air tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas yang lengkap dan mewah. Itu sebabnya, CoHive pun meramu strategi khusus untuk mendorong terciptanya iklim kolaboratif di ekosistem startup di Indonesia.

Salah satu cara yang ditempuh CoHive adalah menggagas tiga flagship program:

  • CoLearn. Di mana member CoHive dapat saling berbagi keahlian dan pengalaman dengan member lain.
  • CoTalks. Sesi talkshow yang menginspirasi publik untuk menjadi pebisnis.
  • Connect. Mencakup banyak kegiatan menyenangkan bersama member CoHive agar bisa saling mengenal dan tercipta ekosistem yang erat.

Di luar tiga program tersebut, Intan memaparkan bahwa CoHive juga rajin berkolaborasi dengan berbagai pihak (seperti pemerintah dan venture capital) guna menghadirkan berbagai kegiatan yang bisa memberi dampak positif bagi startup.

Intan juga menekankan peran penting Community Manager di berbagai lokasi CoHive. Mereka ditugaskan untuk secara aktif membina relasi dan memahami kebutuhan para member. Sehingga mereka bisa menawarkan ragam solusi untuk member mereka, sekaligus memupuk iklim kolaborasi di berbagai ruang komunal CoHive. Intan meyakini, strategi ini merupakan salah satu kunci dalam membangun komunitas yang kuat. 

Hingga September 2019, CoHive memiliki sekitar 9.000 member individu dari sekitar 900 perusahaan yang menggunakan layanan mereka di seluruh lokasi.

Siap kembangkan pasar di luar Jakarta

28 dari 31 ruang komunal yang dikelola oleh CoHive saat ini berlokasi di Jakarta. Angka itu menimbulkan indikasi bahwa bisnis ruang komunal di Indonesia masih sangat Jakarta sentris. Sebagai salah satu pemimpin di sektor ini, CoHive juga menyadari hal tersebut.

cohive | coworking space

Coworking space di CoHive 101

Ekosistem startup di Jakarta memang lebih matang dibanding daerah-daerah lain. Selain itu, angka freelancer maupun remote worker juga cenderung lebih tinggi dibanding daerah di luar Jakarta.

Itu sebabnya, kesiapan pasar sekaligus kebutuhan akan ruang komunal di Jakarta memang relatif lebih tinggi. Namun Intan melihat, tren tersebut mulai menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia. 

“Potensi pasar coworking space di Indonesia cukup tinggi. Pasalnya, begitu banyak startup dan komunitas digital nomad, terutama di wilayah urban,” jelas Intan. “Misalnya saja di Yogyakarta, para lulusan muda universitas sudah membutuhkan coworking space.

Tantangan utama segmen coworking space tetaplah soal mengedukasi publik, bahwa ruang komunal maupun private office seperti yang mereka tawarkan bisa menjadi solusi bagi yang sedang merintis usaha.

Sayangnya, dalam melakukan edukasi di masing-masing kota memiliki tantangan dan pola pendekatan yang berbeda. Oleh karena itu kata Intan, mereka tidak melihat pemain lain sebagai kompetitor.

Sebaliknya, kami melihat bahwa pemain lain sebagai partner untuk mengedukasi pasar.

Intan Cinditiara,
Head of Communications and Community Engagement CoHive

Jason Lee juga menegaskan bahwa CoHive tidak berencana menguasai pasar Indonesia seorang diri. Ia meyakini potensi Indonesia sangat besar sehingga memungkinkan untuk dikelola oleh lebih dari satu pemain.

Konsultan properti ternama, Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia dalam laporannya menyatakan bahwa industri penyewaan ruang komunal dan kantor bersama di 2019 ini tumbuh 34 persen.  

Pertumbuhan bisnis ini dipimpin oleh CoHive yang mengalami peningkatan hingga 26 persen. Kemudian ada WeWork dengan 14 persen, dan GoWork 10 persen. Selain itu ada beberapa nama lain yang juga tumbuh secara positif seperti Regus, Kolega, dan juga Marquee.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Strategi Ekspansi CoHive Setelah Terima Pendanaan Seri B appeared first on Tech in Asia.

The post Strategi Ekspansi CoHive Setelah Terima Pendanaan Seri B appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: