Press "Enter" to skip to content

Strategi Experian Perkuat Bisnis Fintech di Indonesia

Riset e-Conomy SEA 2019 yang dirilis oleh Google, Temasek, serta Bain & Company memprediksi nilai ekonomi internet Indonesia mencapai US$40 miliar (sekitar Rp565 triliun) di 2019. Nilainya diprediksi menembus US$130 miliar (sekitar Rp1,8 kuadriliun) pada 2025 nanti.

Melihat potensi tersebut, perusahaan layanan informasi bisnis global Experian, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan bisnis mereka.

Managing Director Southeast Asia & Emerging Markets Experian Dev Dhiman berkata, Indonesia telah membantu mereka memperkuat layanan solusi digital yang bermanfaat bagi banyak bisnis dan konsumen. Utamanya meningkatkan aksesibilitas dan keterjangkauan ke layanan keuangan.

“Potensi ekonomi digital Indonesia sangat kuat,” kata Dev saat peresmian kantor baru Experian di Jakarta, Kamis 28 November 2019.

Meski enggan menyebut nilai pasar Indonesia dalam bisnis Experian, Dev mengatakan, perkembangan ekonomi digital di tanah air yang cepat dan dinamis adalah potensi besar. Bukan hanya pada sektor perbankan, asuransi dan telekomunikasi.

Experian di Indonesia akan pula menyasar e-commerce, manajemen kredit hingga keuangan mikro yang banyak digarap startup fintech.

Dev Dhiman,
Managing Director Southeast Asia & Emerging Markets Experian

Sejak 2014, Experian menempatkan Indonesia sebagai salah satu kunci pertumbuhan bisnis konsultasi mereka di Asia Pasifik. Tidak sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar, pada Agustus 2018 Experian juga menjadi investor utama dalam pendanaan seri C untuk C88, induk usaha startup pasar keuangan cekaja.com.

Kolaborasi ini merupakan yang pertama dari beberapa kemitraan
bisnis Experian dengan pasar keuangan online di Asia Tenggara. Kedepan, pihaknya akan terus mencari potensi kerja sama dengan fintech di Indonesia dan Asia Tenggara.

Di kawasan ini, selain terlibat dalam pengembangan layanan pembayaran digital dari Grab, Experian juga terlibat dalam kemitraan dengan beberapa startup sektor fintech seperti Ecomparemo dari Filipina, Moneyguru dari Thailand, Singsaver dari Singapura dan Ringggitplus dari Malaysia.

Investasi sosial untuk inklusi keuangan

Ben Elliott dan Dev Dhiman of Experian

Dev Dhiman dan CEO Experian Asia Pacific Ben Elliott (Kanan)

CEO Experian Asia Pacific Ben Elliott menyatakan, Asia Pasifik adalah kawasan pertumbuhan bagi bisnis Experian.

Perusahaan yang sudah beroperasi 125 tahun ini menyasar pertumbuhan ekonomi digital yang sangat cepat, tidak saja untuk pengembangan bisnis layanan informasi perusahaan. Mereka juga fokus membantu peningkatan inklusi keuangan masyarakat akar rumput di wilayah ini.

“Produk inovasi sosial kami dirancang untuk menjangkau wilayah domisili komunitas yang terpinggirkan.”

Hal itu juga didukung dengan investasi untuk pengembangan komunitas yang mereka lakukan melalui kemitraan strategis. Mulai dari lembaga nirlaba hingga startup fintech.

Tahun ini kami sudah mengucurkan dana US$590 ribu (sekitar Rp8,3 miliar) di program investasi komunitas. Ini untuk berbagi pengetahuan soal manajemen dan akses terhadap lembaga keuangan masyarakat berpenghasilan rendah,” papar Ben.

Ia pun meyakini peran fintech, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara akan semakin meningkat seiring pertumbuhan penetrasi internet serta perubahan orientasi layanan dari perbankan dan lembaga keuangan.

Pengembangan sektor keuangan mikro kata Ben harus diiringi dengan strategi kolaborasi antara kekuatan modal dan jaringan lembaga keuangan konvensional, dengan layanan berbasis teknologi yang banyak diusung oleh fintech.

“Tentu dengan pemahaman kepada nasabah/konsumen sekaligus perlindungan terhadap data diri dan transaksi mereka,” tutup Ben.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Strategi Experian Perkuat Bisnis Fintech di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: