Press "Enter" to skip to content

Strategi Teknologi Bukalapak dalam Menggapai Target 2020

Keandalan platform dan inovasi teknologi yang dimiliki suatu perusahaan sangat berperan dalam perkembangan bisnis suatu perusahaan, khususnya bagi mereka yang di bidang e-commerce. Sebagai salah satu pemimpin pasar di Indonesia, Bukalapak juga sependapat dengan hal tersebut.

Kepada Tech in Asia, Mohammed Alabsi selaku VP of Engineering Bukalapak membeberkan perspektif dan strategi yang ia siapkan dari sudut pandang teknis untuk mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan di 2020. Mulai dari isu keamanan data konsumen, penggunaan server berbasis komputasi awan (cloud), hingga pengembangan teknologi untuk UMKM.

Keamanan data pelanggan jadi prioritas

Mohammed Alabsi, VP of Engineering Bukalapak.

Mohammed Alabsi, VP of Engineering Bukalapak.

Pada Maret 2019, Bukalapak diterpa isu pencurian data. Peretas yang menamai dirinya Gnosticaplayers mengklaim berhasil mencuri 13 juta data konsumen. Bukalapak sendiri mengakui telah terjadi usaha pembobolan di pusat data mereka, namun menyatakan tidak ada informasi penting milik konsumen yang terekspos.

Isu keamanan data konsumen makin disorot. Sebagai pihak yang pernah tersandung kasus, Bukalapak mengaku telah meningkatkan sistem keamanannya. Alabsi membeberkan, ada tiga langkah utama yang telah pihaknya ambil:

  • Memperketat akses terhadap data (access control). Demi menghindari adanya kebocoran dan pencurian data, Bukalapak akan memberikan pengawasan yang ketat bagi mereka yang mengakses data. Alabsi menyatakan, karyawan internal yang ingin mengakses data milik perusahaan harus memiliki agenda jelas, dan tidak diizinkan melihat data lain yang di luar otoritas atau kebutuhannya.

    Tak hanya itu, Alabsi juga menyatakan pengawasan juga dilakukan di dunia nyata untuk mengamankan aset fisik dari data center Bukalapak. Ini demi menghindari pembobolan data dalam bentuk digital maupun fisik.
  • Menerapkan berbagai enkripsi perlindungan data. “Enkripsi tidak hanya membuat data semakin sulit diretas, namun juga sulit untuk dibuka dan dibaca. Sehingga apabila tercuri sekalipun, peretas tidak akan bisa memanfaatkan data itu,” Alabsi menjelaskan. Setidaknya ada dua jenis enkripsi yang digunakan oleh Bukalapak:

    • Encryption-at-rest. Yaitu melindungi data yang sedang dalam keadaan diam (steady state) di dalam server, tidak diakses oleh aplikasi ataupun pihak ketiga lain. Keberadaan enkripsi ini akan melindungi data apabila ada peretas yang masuk, ataupun bila server fisik tercuri.
    • Encryption-in-transit. Enkripsi ini akan melindungi data yang sedang ditransmisikan. Enkripsi ini cukup efektif untuk menghindarkan adanya gangguan dari peretas, seperti eavesdropping atau man-in-the-middle.
  • Melakukan edukasi pelanggan. Alabsi menyatakan, perihal keamanan data tidak akan bisa sepenuhnya dipenuhi oleh pihak perusahaan saja. Harus ada partisipasi aktif dari para pengguna untuk menyadari pentingnya melindungi data pribadi.

    Bukalapak sendiri sudah menghadirkan beberapa fitur keamanan, seperti two factor authentication. Namun Alabsi menyatakan, berbagai upaya tersebut tidak akan efektif juga pengguna masih lalai ataupun ceroboh.

    “Sayangnya di Indonesia, masih banyak yang membagikan informasi penting maupun data pribadi secara kurang hati-hati. Inilah yang akan terus kita edukasi,” jelas Alabsi.

Migrasi ke server cloud dan hadirkan teknologi untuk UMKM

Memasuki 2020, Alabsi bersama tim engineering sudah menyiapkan beberapa agenda. Salah satu yang menarik adalah migrasi penyimpanan dan pengolahan data dari server fisik ke yang berbasis cloud.

Alabsi menyatakan, melakukan migrasi ke cloud penting agar pengolahan data bisa lebih efektif dan mendukung pengembangan kecerdasan buatan (AI) yang bisa diimplementasikan di marketplace Bukalapak. Selain itu, Alabsi juga meyakini penggunaan cloud akan meningkatkan keamanan data.

“Inisiatif migrasi ke cloud ini sebenarnya sudah kami mulai di 2019. Harapannya nanti, data kita semua bisa seratus persen di cloud sehingga kapasitas data center kita bisa dikurangi.”

Sementara untuk AI, Alabsi menekankan akan terus berusaha mematangkan teknologi ini sehingga bisa memudahkan semua pemangku kepentingan. Beberapa contoh implementasinya adalah:

  • Recommendation system untuk para pembeli,
  • Pricing recommendation untuk merchant, dan
  • Fraud detection untuk membantu tim internal mengetahui transaksi mencurigakan.

Selain itu, Alabsi juga menyatakan pentingnya pengembangan teknologi yang berdampak langsung pada pelaku bisnis UMKM yang tergabung dalam Mitra Bukalapak. Hal ini demi membantu visi perusahaan yang ingin melakukan modernisasi serta meningkatkan potensi warung tradisional lewat teknologi.

‘Mitra Bukalapak bisa mengelola stock keeping unit (SKU) mereka, dan bisa melakukan restock barang hanya lewat aplikasi. Nantinya barang yang mereka butuhkan akan diantar langsung ke warung.”

Bukalapak juga akan terus memperluas dan mengedukasi penggunaan QR Code Indonesian Standard (QRIS) demi kemudahan serta mendorong terwujudnya inklusi keuangan di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal di Indonesia.

Mitra Bukalapak

Tak hanya itu, Alabsi juga menyatakan di tahun 2020 pihaknya akan terus mendorong warung-warung yang menjadi Mitra Bukalapak untuk menjadi sarana online-to-offline (O2O). Ia menilai strategi ini bisa membawa bisnis Bukalapak tumbuh lebih jauh dan menyentuh berbagai pelosok negeri. Ia bersama tim engineer akan memastikan platform yang dikembangkan Bukalapak mampu memfasilitasi kegiatan ini secara seamless.

“Demografi Mitra Bukalapak berbeda dengan pengguna seperti seller dan buyer yang lebih tech savvy. Jadi akan kami kenalkan dan kembangkan secara bertahap.”

Perspektif tentang sektor e-commerce Indonesia

Sebelum bergabung dengan Bukalapak, Alabsi sebelumnya bekerja untuk Amazon di Amerika Serikat. Merasa butuh tantangan baru, ia pun akhirnya mencoba berkarier di negara lain, meskipun tetap fokus di sektor e-commerce.

“Pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia, sangat menarik dan potensial di mata saya. Baik dari segi pangsa pasar maupun perkembangannya yang cepat.”

Ia pun mengakui bahwa iklim inovasi teknologi di Indonesia saat ini sangat kondusif. Salah satu tolok ukurnya adalah munculnya begitu banyak perusahaan teknologi lahir dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Ia juga melihat jumlah unikorn yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu validasi yang penting.

Memang, Alabsi menilai sektor e-commerce di Amerika Serikat lebih matang baik dari segi bisnis maupun teknologi. Namun ia tidak melihat hal tersebut sebagai sebuah kendala. Justru perusahaan e-commerce di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, bisa belajar dari kasus yang ada di Amerika Serikat.

“Secara karakteristik, konsumen Indonesia lebih menyukai diskon dan promosi. Sementara konsumen di Amerika Serikat sangat terpengaruh dengan pengalaman berbelanja.”

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Strategi Teknologi Bukalapak dalam Menggapai Target 2020 appeared first on Tech in Asia.

The post Strategi Teknologi Bukalapak dalam Menggapai Target 2020 appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: