Press "Enter" to skip to content

Tak Cuma Infrastruktur Keras, Presiden Jokowi Juga Bangun Infrastruktur Lunak

JAKARTA – Presiden Joko Widodo telah menyusun strategi kebudayaan. Strategi kebudayaan Presiden Jokowi menekankan perlunya keseimbangan pembangunan antara infrastruktur keras dengan infrastruktur lunak yang berupa kebudayaan.

Penegasan itu disampaikan Deputi IV Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo dalam FGD ‘Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan di Jakarta’, Kamis, 25 Juli 2019.

Presiden Jokowi telah mengeluarkan Peraturan Presiden No 65 Tahun 2018 Tentang Tata Cara Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah dan Strategi Kebudayaan. Beleid ini merupakan turunan dari UU No 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan.

“Presiden Jokowi menginginkan adanya keseimbangan antara infrastruktur keras yang saat ini gencar dibangun dengan infrastruktur lunak berupa jalan kebudayaan,” kata Eko Sulistyo.

Eko menjelaskan prinsip Indonesia Sentris sebetulnya juga bisa dilakukan melalui pembangunan kebudayaan. Indonesia Sentris adalah strategi kebudayaan untuk membangun koneksitas di antara seluruh bangsa Indonesia. Indonesia Sentris adalah membangun kembali ke-Indonesiaan yang selama ini terfragmentasi karena berbagai kendala, baik itu politik, budaya dan ekonomi maupun infrastruktur.

“Jadi Presiden Jokowi berupaya memperkuat sebagai satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air,” kata Eko.

Eko menegaskan Presiden Jokowi memberi perhatian yang besar pada politik identitas yang mengggunakan agama. Perilaku ini sangat berpotensi untuk memecah belah bangsa. Negeri Suriah hancur karena politik identitas yang menyebar via media sosial dan kekerasan militer untuk merebut kekuasaan.es1

“Hasilnya adalah kehancuran peradaban dan kemanusiaan di Suriah,” jelas Eko.

Anggota DPR RI Nico Siahaan, dalam kesempatan yang sama menegaskan Indonesia sebetulnya memiliki ketahanan kebudayaan. Menurutnya, selama ini banyak proxy asing yang mencoba menghancurkan Indonesia secara pemikiran.

“Tapi Indonesia terbukti bisa bertahan berkat kebudayaannya,” kata Nico.

Namun Nico mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai mulai mewabahnya radikalisme di kalangan insititusi pendidikan. Akibatnya banyak anak muda yang tidak lagi meyakini Pancasila sebagai dasar negara yang dibutuhkan.

“Ini yang harus segera diatasi,” tutur Nico.

Adapun puteri Presiden Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri menyoroti lemahnya rasa kebanggaan generasi muda Indonesia terhadap budayanya sendiri. Ia melihat hanya di Bali, anak muda bisa menerima modernisasi tetapi juga bangga memakai pakaian adat Bali.

Sementara di Jawa tidak demikian. Banyak anak muda yang minder mengenakan pakaian adat Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini menjadi catatan bagi kita semua,” kata Sukmawati.

Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan Dasar, Menengah dan Kebudayaan, Hilmar Farid, menegaskan penguatan kebudayaan di Indonesia memang menghadapi masalah yang tidak mudah. Seperti sekolah seni yang jumlahnya sedikit di Indonesia. Jumlah tenaga kerja yang terampil dalam industri perfilman.

“Presiden Jokowi menginginkan sebuah transformasi untuk membangun kebudayaan Indonesia. Caranya bagaimana, seperti menggelar Kongres Kebudayaan,” pungkasnya.

 

Go to Source
Author: editor 3

Gus Fik
Follow me
%d blogger menyukai ini: