Press "Enter" to skip to content

Tantangan dan Peluang Strategi IPO Dual Listing Unikorn Indonesia

Tahun lalu, sejumlah perusahaan teknologi seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak dan Traveloka mengumumkan niatnya untuk go public. Mereka kompak menyatakan keinginannya untuk menggunakan strategi dual listing, dengan melakukan penawaran saham di dua bursa efek.

Co-Founder dan CEO Traveloka Ferry Unardi dalam wawancaranya dengan Bloomberg tahun lalu menyatakan, bisnis utama Online Travel Agent (OTA) mereka telah cukup berkelanjutan. Pihaknya pun berharap dapat segera meraih keuntungan dalam waktu dekat.

“Kami sudah bicara beberapa kali dengan IDX. Mereka sangat mendukung perusahaan teknologi, local champion untuk melantai di bursa. Pada saat yang sama kami juga mempertimbangkan dual listing di bursa efek global di mana terdapat banyak perusahaan teknologi yang juga menawarkan sahamnya,” kata Ferry.

dampak tokopedia | william tanuwijaya

William Tanuwijaya, co-founder dan CEO Tokopedia

William Tanuwijaya selaku Founder dan CEO Tokopedia dalam Tech in Asia Conference 2019 lalu juga menyatakan niatnya untuk melakukan Pre-IPO. Dengan Pre-IPO, perusahaan menawarkan sahamnya terlebih dahulu kepada investor potensial sebelum menawarkannya kepada publik melalui IPO.

“Jika semua berjalan sesuai rencana, tahun 2020 EBITDA kami pasti positif. Jadi, kami berencana melakukan pre-IPO dan go public,” ungkapnya.

Tokopedia dikabarkan tengah menggalang pendanaan terakhir sebelum IPO senilai US$1,5 miliar (Rp21,1 triliun) pada kuartal pertama tahun ini. William berharap dapat menarik investor baru dan membawa profil Tokopedia ke kancah internasional, terutama ketika perusahaannya melakukan dual listing.

Selain melantai di Bursa Efek Indonesia (IDX), biasanya bursa efek di Amerika Serikat akan menjadi pilihan kedua. Alasannya sederhana, selain memiliki kapitalisasi yang besar, pasar modal di Amerika seperti Nasdaq juga telah familiar dengan perusahaan teknologi. Antara lain Microsoft, Apple, Amazon, Facebook, Netflix, dan lainnya yang sudah lebih dulu IPO.

Belajar dari kisah sukses Alibaba

Alibaba investasi asia tenggara | Featured Image

Strategi dual listing sebenarnya bukan hal yang baru. Jack Ma telah berhasil membawa Alibaba sebagai contoh sukses IPO dengan dual listing. Alibaba melantai pertama kali di New York Stock Exchange (NYSE) Amerika Serikat terlebih dahulu pada September 2014, kemudian disusul Hong Kong Stock Exchange pada November tahun lalu.

Dari kedua penawaran saham publik itu, Alibaba mampu meraih investasi hingga US$25 miliar (sekitar Rp340 triliun) di NYSE, dan US$11,2 miliar (setara Rp152 triliun) di Hong Kong.

Jumlah tersebut memecahkan berbagai rekor. Mulai dari predikat IPO terbesar di NYSE sepanjang sejarah dan melampaui Google, Facebook hingga Twitter. Serta IPO terbesar di Hong Kong sepanjang 2019 melampaui IPO Uber pada Mei di tahun yang sama. Uber hanya mampu mengumpulkan dana US$8,1 miliar (sekitar Rp110 triliun).

Alibaba tentu sudah memperhitungkan segala manfaat dari strategi tersebut. Dengan melantai di Amerika Serikat, mereka memposisikan dirinya bersaing dengan perusahaan teknologi ternama dunia.

Penawaran saham yang dilakukan di Hong Kong juga memberikan keuntungan. Selain memaksimalkan potensi investasi dari investor Cina dan Asia, keputusan itu juga disebut sebagai upaya antisipasi Alibaba untuk meminimalisir dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina.

Tantangan strategi dual listing

Mengulang kesuksesan Alibaba menerapkan strategi dual listing tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Jumlah perusahaan Indonesia yang pernah menjadi dual listed company belum banyak sejauh ini. Terhitung hanya ada dua yang bertahan:

  • PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Selain di Bursa Efek Indonesia, perusahaan plat merah ini juga melantai di New York Stock Exchange (NYSE) sejak 1995 dan masih bertahan hingga sekarang.
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) juga tercatat di Australia Stock Exchange sejak 1993 dan juga bertahan hingga saat ini.

Beberapa perusahaan nasional lainnya juga pernah mencoba melakukan dual listing. Namun kemudian menghapus pencatatan sahamnya (delisting) sehingga kembali menjadi single listed company. Perusahan-perusahaan itu antara lain:

  • PT Indosat Tbk (ISAT) juga pernah listing di NYSE pada 1994, namun kemudian melakukan delisting pada pertengahan 2013.
  • PT Timah Tbk (TINS) sempat tercatat di London Stock Exchange (LSE), namun melakukan delisting pada Oktober 2006.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan suatu perusahaan melakukan delisting seperti yang dialami oleh PT Indosat Tbk dan PT Timah Tbk, yakni:

  • Saham perusahaan yang diperdagangkan tidak likuid,
  • Manfaat yang diperoleh dari dual listing tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi persyaratan,
  • Standar transparansi dan akutansi yang lebih tinggi,
  • Kinerja keuangan perusahaan yang menurun, hingga
  • Kesulitan berkompetisi dengan perusahaan lain.
SEA IPO Price

Pergerakan harga saham Sea di hari pertama

Peluang besar strategi dual listing

Tech in Asia berbincang dengan Hans Kwee selaku Direktur PT Anugerah Mega Investama dan Alfred Nainggolan selaku Kepala Riset PT Koneksi Kapital sebagai pengamat pasar modal mengenai strategi dual listing yang akan diterapkan unikorn Tanah Air.

Mereka menilai pada dasarnya, ketertarikan unikorn untuk melakukan dual listing terletak pada kelebihan yang ditawarkan, seperti:

  • Peluang mendapatkan pendanaan yang lebih besar,
  • Lebih beragamnya instrumen investasi yang dapat diterbitkan,
  • Kebanggaan menjadi perusahaan yang diperhitungkan investor global, serta
  • Pembelajaran bagi perusahaan dalam menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dengan standar internasional.

Hans menyatakan,
setiap bursa efek di suatu negara memiliki regulasi yang berbeda-beda, mulai
dari standar laporan keuangan, transparansi, hingga biaya pencatatan (listing
fee).
Investor institusi dan ritel juga memiliki karakteristik yang
berbeda.

Investor institusi umumnya lebih mementingkan keberlanjutan dan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan jangka panjang. Sementara investor ritel biasanya mempertimbangkan harga penawaran dan popularitas perusahaan.

Poin pentingnya adalah meyakinkan institusi membeli saham itu. Orang mulai bicara tentang startup itu sebagai bisnis, bukan hanya bakar uang tetapi juga menghasilkan profit.

Hans Kwee,
Direktur PT Anugerah Mega Investama

Untuk mendapatkan pendanan yang optimal kata Hans, perusahaan perlu memastikan bahwa calon investor yang dibidik telah mengenal cukup baik perusahaannya. Karena itu, sebelum go public di luar negeri, unikorn tersebut sebaiknya melakukan serangkaian roadshow untuk meningkatkan awareness mengenai perusahaannya.

“Tokopedia, Traveloka, kalau go public di Indonesia [investor] pasti sudah kenal, tetapi kalau di luar apakah sudah dikenal juga? Orang harus aware kalau ini perusahaan bagus, sehingga mereka mau beli sahamnya ketika go public,” ungkapnya.

Sementara Alfred menilai, pertimbangan startup unikorn untuk melakukan dual listing didasari pada cakupan jangkauan investor yang lebih luas. Dia menyatakan, investor di luar negeri seperti Amerika Serikat telah lebih familiar dengan model bisnis perusahaan yang berangkat dari startup teknologi ketimbang investor di Indonesia.

“Di sana [Amerika Serikat], tingkat literasi keuangan dan kedalaman pasarnya lebih bagus ketimbang di bursa kita. Skema surat berharga yang dapat diterbitkan juga lebih banyak yang belum tersedia di sini. Itu yang harus dimanfaatkan,” ungkapnya.

Jaminan pertumbuhan jangka panjang

Untuk dapat memiliki likuiditas yang baik di pasar modal internasional kata Alfred, syaratnya adalah perusahaan tidak cukup hanya mempublikasikan keuntungan yang telah diraih. Mereka juga harus mampu menawarkan pertumbuhan bisnis yang menarik bagi investor dalam jangka panjang.

“Kita berharap mereka memang dapat memaksimalkan manfaat dari dual listing ini, bukan hanya sekadar mengejar prestise,” ungkapnya.

Dari sisi momentum, baik Hans maupun Alfred sama-sama menilai tahun ini bisa jadi saat yang baik untuk mengeksekusi rencana dual listing. Kondisi pasar modal nasional dinilai sedang kondusif, iklim politik telah stabil setelah selesainya pemilu presiden tahun lalu.  

Bursa Saham IDX M Cash Integrasi

Perusahaan teknologi ini juga dihimbau tetap masuk ke pasar tanpa menunggu berakhirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina. Meski pasar di Amerika diperkirakan akan terpengaruh oleh suhu politik seiring dengan pemilihan umum presiden yang akan digelar pada kuartal keempat 2020 mendatang.

Namun pada akhirnya, keputusan mengenai waktu pelaksanaan dual listing tersebut kembali kepada kesiapan perusahaan masing-masing.

Edward Ismawan Chamdani selaku Managing Partner Ideosource Venture Capital sekaligus Bendahara Asosiasi  Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) mengaku, telah mendengar rencana dual listing dari sejumlah unikorn di bidang e-commerce dan ride-hailing Indonesia.

Edward optimistis rencana tersebut dapat berjalan baik bila:

  • Setiap perusahaan mampu menjual success story dan rencana ekspansi skala global ke depannya.
  • Mereka juga harus memastikan dapat menghasilkan Compund Annual Growth Rate (CAGR) atau tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata yang atraktif bagi investor.

“Kalau private company investor biasanya melihat pertumbuhan yang eksponensial, tetapi untuk perusahaan di pasar modal dan sudah masuk maturity stage biasanya ekspektasi investor CAGR-nya sekitar 20% sampai 30%,” ujarnya.

Lebih lanjut dia menilai, unikorn Indonesia yang berencana melakukan dual listing akan membuat eksposur perusahaan teknologi di Indonesia menjadi semakin besar di kancah global. Hal tersebut diharapkan dapat membawa angin segar bagi iklim investasi startup di Tanah Air.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Tantangan dan Peluang Strategi IPO Dual Listing Unikorn Indonesia appeared first on Tech in Asia.

The post Tantangan dan Peluang Strategi IPO Dual Listing Unikorn Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: