Press "Enter" to skip to content

Tren dan Hipotesis Pendanaan di Indonesia menurut East Ventures

Sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi pasar tinggi bagi ranah bisnis digital dan perusahaan permodalan yang menaunginya. “Selain lanskap startup di Indonesia terus tumbuh, ranah investasi juga luar biasa aktif di sini,” ujar Melisa Irene, Partner East Ventures.

Menurut Irene, Indonesia sangat menjanjikan karena masih ada banyak masalah yang dapat diselesaikan lewat adopsi teknologi dan aplikasi digital. “Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang menarik di mata investor. Bisa dilihat dari keterlibatan investor internasional di sekeliling kita.”

Penjelasan Irene dilatarbelakangi perkembangan adopsi digital yang terus merangkak naik di Indonesia. Sebagai negara dengan pengguna internet terbesar di Asia Tenggara, sekitar separuh penduduk di Indonesia telah terpapar dengan aneka ragam teknologi digital.

Berdasarkan laporan Google Temasek pada 2018 lalu, tingginya faktor adopsi tersebut membuat Indonesia memiliki ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara. Tingkat pertumbuhan tahunan majemuknyanya (Compound Annual Growth Rate) mencapai 49 persen dalam 3 tahun (2015-2018).

Conversion Rate Commerce | Illustration

Indonesia dan empat fase tren pasar digital

Dengan potensi ekonomi digital yang mencapai angka US$27 miliar (sekitar Rp391 triliun) di tahun 2018, negara kita telah melampaui beragam hipotesis tren investasi digital dalam sembilan tahun terakhir.

“Kita lihat ada pola di sini. Ada beberapa hal yang terjadi karena faktor dan hal lain yang berlangsung lebih dahulu di Indonesia. Ini yang kita lihat sebagai bagian dari tren pendanaan.” kata Irene. “Jika kita amati dengan menarik garis mundur, Indonesia setidaknya telah melalui empat fase tren dan inovasi untuk merangkak naik hingga mencapai perkembangannya yang seperti sekarang.”

Tren pertama adalah kebangkitan e-commerce sebagai langkah untuk menjembatani kepercayaan bertransaksi uang secara digital. Tren ini bisa dilihat dari banyaknya suntikan permodalan kepada sektor e-commerce dan bisnis B2C sekitar sembilan tahun silam.

“Dulu target pasar yang masuk akal adalah perorangan atau individu. Artinya kita lebih mudah meyakinkan orang dengan menawarkan jasa atau produk dengan memprioritaskan kenyamanan. Tinggal kasih saja diskon dan sedikit marketing effort.”

Menurut Irene, situasi pasar saat itu terlalu dini untuk penawaran produk yang advanced semacam solusi enterprise tool dan cloud service. Maka dari itu, hal yang saat itu dibangun oleh investor dan startup adalah perilaku serta kepercayaan masyarakat, terutama untuk kegiatan jual beli di internet.

Tren solusi SaS dan perkembangan ke ranah Korporasi

Seiring dengan berjalannya waktu, tren permintaan digital di Indonesia mulai bergerak ke arah layanan software-as-a-service atau yang disebut East Ventures sebagai SME Tool (solusi kebutuhan UKM). Tren ini tidak lantas bergerak karena adanya dorongan konsumen dari kalangan korporasi, melainkan merangkak dari kalangan UKM lewat jalur B2B.

fase tren tersebut menjadi momen pembuktian bahwa solusi yang dikerjakan oleh startup kecil bisa memberikan dampak besar.

Melisa Irene,
Partner East Ventures

“Tren ini kita lihat dari analisis pertama soal konversi proses decision making dalam lingkup organisasi kecil seperti UKM,” ungkap Irene. Langkah ini kemudian diperkokoh dengan serangkaian investasi di ranah layanan solusi kebutuhan UKM mulai dari point of sales, layanan manajemen SDM, dan lain-lain.

Dalam perkembangannya, kebutuhan akan layanan ini pelan-pelan merangkak naik ke ranah pasar yang lebih potensial, yaitu dari kalangan korporasi dan enterprise dengan jumlah karyawan ribuan orang. Menurut Irene, fase tersebut menjadi momen pembuktian bahwa solusi yang dikerjakan oleh startup bisa memberikan dampak lebih besar lagi.

“Kita melihat ini bukan sebagai tren yang baru muncul, tetapi sebagai bagian dari pasar yang telah matang setelah beradaptasi dengan perkembangan yang ada sebelumnya (seperti tren e-commerce dan SaaS)”

Warung Pintar

Tren B2B2C dan hipotesis baru bernama “New Consumption”

Analisis tren yang berkembang berikutnya adalah layanan B2B2C, yaitu solusi untuk membantu bisnis lainnya dalam meraih lebih banyak pelanggan. “Jika layanan B2B sebelumnya membantu operasional perusahaan, B2B2C lebih kepada layanan untuk memberdayakan pelaku bisnis lainnya agar bisa menghasilkan penjualan lebih besar lagi.”

Tren ini menjadi model bisnis baru yang kemudian mengerucut pada pembentukan proyek internal East Ventures, yakni Warung Pintar. Dalam perkembangannya, startup yang dijalankan oleh Mantan Investment Associate East Ventures ini telah berhasil menemukan produk yang tepat bagi pasar dan berkembang sendiri menjadi startup mandiri.

Pada awal 2019, East Ventures memperkenalkan hipotesis investasi barunya yaitu “New Consumption“. Hipotesis ini merangkai kebutuhan integrasi online-to-offline dan pengadopsian model new retail sebagai jalan untuk meraih pasar wellness ecosystem, di mana gaya hidup sehat menjadi prioritas kebutuhan konsumennya.

Landasan analisis tren ini kemudian menjadi basis dari keterlibatan investasi East Ventures ke dalam Fore Coffee dan startup pengembangan produk gaya hidup sehat, The Fit Company.

Dengan analisis tren serta hipotesis yang mereka miliki, East Ventures optimis melihat perkembangan adaptasi masyarakat digital di Indonesia. Mereka berharap dengan total 24 kesepakatan investasi yang menjadi target di 2019, East Ventures bisa menjadi pihak yang terus diperhitungkan dalam pengembangan ekosistem teknologi di Asia Tenggara.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Tren dan Hipotesis Pendanaan di Indonesia menurut East Ventures appeared first on Tech in Asia.

The post Tren dan Hipotesis Pendanaan di Indonesia menurut East Ventures appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: