Press "Enter" to skip to content

Umbi Porang,Tanaman yg Bernilai Mahal dan Menjanjikan Petani

Petani sebelumnya banyak yg tidak mengerti tentang tanaman ini,baik manfaat ataupun cara penanaman ,pengolahan sekaligus pemasarannya,Di mulainya dikenalkan tanaman ini dijawa timur tepat dinganjuk dan madiun untuk dibudidayakan tanaman porang ini.

Budidaya porang oleh LMDH Bendo Asri dilakukan di kawasan hutan jati wilayah Perhutani. Lahan itu berada di perbatasan Nganjuk dan Madiun. Saat VIVA ke sana bersama rombongan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Minggu 10 Maret 2019, masuk hutan dari Rejoso, Nganjuk, tapi keluar di Jalan Raya Saradan, Kabupaten Madiun.

Dari jalan raya, perjalanan sampai ke lokasi budidaya porang lebih dari satu jam. Padahal, jarak perjalanan tak lebih dari 10 kilometer (km). Perjalanan memakan waktu banyak karena jalan masuk tergolong sempit dan penuh bebatuan, khas kawasan hutan. Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang hanyalah pohon jati menjulang dan semak-semak yang rimbun.

Informasi diperoleh, porang banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air. Selain itu, juga untuk pembuatan lem dan jelly yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

“Tidak banyak diketahui orang manfaatnya, tetapi sebenarnya merupakan komoditas unggulan Jawa Timur, karena hampir 100 persen diekspor,” kata Khofifah.

 Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau budidaya Porang di Nganjuk

Ketua LMDH Artomoro, Rianto mengatakan, manfaat porang banyak sekali. “Untuk bahan dasar obat-obatan, bahan dasar kosmetik, bahan campuran kertas, dan dia punya zat namanya glukomannan dan mengandung banyak karbohidrat nonkolesterol kalau dikonsumsi,” tuturnya.

Total 500 hektare (ha) lahan di kawasan hutan Desa Bendoasri digunakan untuk budidaya porang. Masa tanam porang lima bulan sekali. Sekali panen, Rianto mengaku, LMDH menghasilkan 15 ton porang. Petani menjual umbi tumbuhan itu Rp10 ribu per kg dalam kondisi basah.

Sementara itu, pemerintah Provinsi Jawa Timur berjanji akan menggandeng ahli dari Universitas Brawijaya untuk mengembangkan budidaya porang. Bantuan alat produksi seperti perajangan juga akan diberikan.

Khofifah berharap dan mewanti-wanti petani agar bibit porang tidak terbawa ke luar negeri. “Karena, malah negara luar nanti yang berhasil mengembangkan,” ucapnya. (asp)SHARE

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: