Press "Enter" to skip to content

Upaya Kata.ai Menuju Generasi Artificial General Intelligence di Indonesia

Kata.ai selama ini dikenal sebagai pengembang teknologi natural language processing (NLP) dan penyedia layanan chatbot di Indonesia. Namun baru-baru ini Irzan Raditya selaku CEO Kata.ai menyatakan, pihaknya ingin memberi dampak yang lebih bagi industri kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.

“Kita ingin jadi enabler. Kita sediakan ekosistem untuk developer lokal bisa berkreasi di bidang conversational AI,” jelas Irzan.

Chatbot memang kian marak digunakan di Indonesia. Tergambar dari perkembangan Kata.ai yang kini sudah digunakan lebih dari 120 perusahaan dari 16 industri berbeda. Pada tahun 2019, annual recurring revenue (ARR) mereka meningkat lebih dari 500 persen dibandingkan tahun 2018.

Irzan mengatakan, saat ini posisi Kata.ai masih berada di tahap artificial narrow intelligence (ANI), yaitu mampu memberikan satu solusi teknologi yang hanya bisa menjawab satu masalah yang spesifik.

Kita ingin menuju ke artificial general intelligence (AGI), sistem yang lebih cerdas dan bisa menyelesaikan beragam masalah.

Irzan Raditya,
CEO Kata.ai

Irzan memproyeksikan AGI baru bisa diimplementasikan pada dunia industri di Indonesia 30 tahun mendatang. Namun ia meyakini, inisiatif menuju kesana harus dimulai sejak sekarang. Itu sebabnya ia bersama Kata.ai ingin berkontribusi dalam pengembangan teknologi AI, khususnya di bidang conversational AI.

Hadirkan platform untuk para developer NLP

Salah satu cara Kata.ai membantu ekosistem pengembangan AI di Indonesia adalah dengan meluncurkan Kata Platform, sebuah tool yang bisa digunakan oleh developer untuk mengembangkan chatbot dengan teknologi yang disediakan oleh Kata.ai. 

“Jadi nanti para developer tidak harus melatih chatbot dari awal kata per kata. Mereka bisa gunakan supermodel milik kami yang sudah bisa menelaah komponen suatu kalimat. Jadi developer bisa fokus untuk berinovasi lebih jauh lagi,” lanjut Irzan.

Tak hanya bermanfaat untuk melahirkan inovasi-inovasi baru saja, Kata Plafrom juga bisa digunakan para developer untuk berbagai kebutuhan lain, mulai dari memasarkan karya mereka hingga mencari insight tentang tren percakapan pengguna.

Adapun sepuluh produk yang tersedia di Kata Platform antara lain:

  • Kata Flow: platform pengembangan chatbot untuk asisten virtual dengan kualitas enterprise-grade
  • Kata NL: untuk mengembangkan model Natural Language dan mengolah insight dari data percakapan
  • Kata CMS: untuk mengembangkan dashboard di mana pengguna bisa mengelola dan mengorganisasi konten dalam chatbot
  • Kata Generator: untuk membuat, memberi label, dan melakukan training untuk dataset Natural Language dengan cepat
  • Kata Boost: untuk mengelola kampanye pemasaran dalam chatbot
  • Kata Voice: untuk mengembangkan asisten virtual interaktif berbasis suara
  • Kata Omnichat: dashboard yang menggabungkan pengelolaan proses customer service (LINE, WhatsApp, Facebook Messenger) oleh agen manusia dan chatbot dalam satu workflow
  • Kata Assist: fitur untuk membantu agen customer service melayani pelanggan secara lebih cepat dengan adanya AI yang memberi rekomendasi jawaban atas pertanyaan dari pelanggan
  • Kata Whatsapp Dashboard: untuk mengelola dan mengotomatisasi percakapan di dalam saluran WhatsApp dengan skala masif
  • Katalog: fitur untuk mencari dan memanfaatkan solusi  yang sudah dikembangkan oleh developer dalam Kata Platform.

Dua produk dalam Kata Platform sudah dirilis pertengahan tahun ini dalam bentuk prototipe. Baru belakangan keduanya diberi nama Kata Flow dan Kata NL, bersamaan dengan pengenalan delapan produk lainnya. 

kata.ai | kata platform

Pria Purnama, VP of Product & Engineering Kata.ai, bersama tim Product & Engineering.

Gelar Pradipta Utama selaku Head of Product Kata.ai menyatakan merilis delapan produk baru dalam waktu yang bersamaan merupakan tantangan. Sosok yang akrab dipanggil Gege ini memberikan apresiasi ke seluruh tim product dan engineering yang telah berhasil mengembangkan Kata Platform.

Ia menilai, terobosan-terobosan yang berani semacam ini perlu ada agar iklim teknologi di Indonesia tetap bergairah.

“(Kata Platform) masih di tahap awal. Akan terus kita kembangkan dan dengar feedback dari developer. Kita ingin platform kita jadi one-stop-solution untuk pengembangan conversational AI,” jelas Gege. 

Kata.ai akan merilis secara bertahap delapan produk baru tersebut. Targetnya seluruh produk sudah rilis pada Q1 2020. Nantinya, Kata Platform akan dijual dalam bentuk langganan (subscription), dan developer bisa memilih produk mana saja yang mereka butuhkan.

Menggelar KataHack untuk dorong inovasi baru

Dalam upaya mendorong pertumbuhan AI di Indonesia Kata.ai tidak hanya dengan merilis Kata Platform, mereka juga menyelenggarakan KataHack.

KataHack merupakan kompetisi bagi para developer Indonesia untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitas mereka. Utamanya dalam membuat solusi atas berbagai permasalahan dalam dunia bisnis dan teknologi dengan menggunakan platform AI yang disediakan oleh Kata.ai.

Berlangsung sejak 14 Oktober lalu, KataHack diikuti oleh lebih dari 200 developer dalam 84 tim dari seluruh Indonesia. Lima tim terbaik kemudian dipilih menjadi finalis yang menawarkan solusi yang beragam, antara lain:

  • Patricia. Chatbot yang bisa membantu banyak orang dalam mengatur urusan finansial sampai jadwal bayar tagihan dalam chat apps.
  • Snowball (KRAVE). Chatbot yang bisa membantu kamu merencanakan liburan yang sesuai dengan bujet secara lebih praktis.
  • EasyFishy. Papan iklan interaktif dengan menggunakan metode text-to-speech.
  • Elea. Chatbot yang bisa menjadi pertolongan berbasis teknologi untuk membantu orang yang menghadapi keluhan kesehatan mental.
  • A4 Oti Parenting Bot. Chatbot yang bisa membantu para orang tua dalam mengontrol percakapan bermuatan konten negatif menggunakan otomatisasi chatbot di grup chat.
kata.ai | katahack

Kelima finalis KataHack 2019

Pria Purnama, VP Product and Engineering Kata.ai berharap, apa yang mereka lakukan ini mampu mendorong lebih banyak generasi muda memahami dan mendalami pengaplikasian AI sebagai potensi solusi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.

Edukasi publik masih jadi pekerjaan berat

Tak hanya dari sisi developer saja, Kata.ai menyadari bahwa dibutuhkan respon positif dari pasar agar teknologi AI, bisa semakin berkembang di Indonesia. Irzan pun mengakui, selain pengembangan teknologi, edukasi masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang paling berat.

“Sudah lebih dari 120 startup dan korporasi yang menggunakan layanan kami. Mulai dari sektor perbankan, telekomunikasi, sampai retail,” jelas Irzan. “Ini artinya teknologi AI sudah diterima semakin luas, jauh berbeda dibanding dua atau tiga tahun lalu.”

Irzan Aditya | Katahack

Irzan Aditya, co-founder dan CEO Kata.ai

Meski sudah mulai diterima oleh pasar dibanding tiga tahun lalu, Irzan melihat masih ada beberapa sektor yang ragu-ragu dalam mengadopsi chatbot maupun teknologi AI. Seperti pada sektor kesehatan dan pendidikan.

Padahal Irzan melihat urgensinya sudah ada, apalagi mengingat kualitas kesehatan dan pendidikan di Indonesia masih tergolong buruk.

Itu pula sebabnya Irzan tidak merasa risih dengan semakin banyaknya kompetitor yang muncul. Ia melihat pasar Indonesia masih sangat hijau dan luas. Ia justru mengapresiasi peran kompetitor, karena dalam industri ini Irzan merasa perlu bantuan banyak pihak untuk mengedukasi pasar Indonesia yang luar biasa besar.

Beberapa startup AI yang ada di Indonesia seperti Nodeflux, yang sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah DKI Jakarta untuk membantu realisasi smart city. Adapula Bahasa.ia, Prosa.ai dan BJtech yang telah membantu membuat asisten virtual Cinta milik BNI.

Kata Irzan, kehadiran AI di ranah medis bukan untuk menggantikan posisi dokter, namun sebagai pemberi assessment awal. “Jadi ketika dokter menemui pasien, ia sudah punya data awal mengenai kondisi pasien,” katanya.  

Sementara di sektor pendidikan, Irzan melihat AI bisa digunakan untuk memetakan kemampuan dan minat belajar. Dengan begitu setiap anak bisa mendapat cara belajar dengan pendekatan yang lebih terpersonalisasi. 

Meskipun potensial, Irzan menekankan pentingnya memiliki tujuan bisnis yang jelas dalam mengadopsi AI agar perusahaan bisa merasakan imbas positif. Idealnya perusahaan fokus ke salah satu hal ini: 

  • Meningkatkan kualitas customer experience.
  • Mengurangi biaya operasional, atau 
  • Membangun sumber pendapatan baru.

Upaya mencapai ketiga hal tersebut sekaligus berpotensi membuat perusahaan kebingungan saat harus memprioritaskan fitur teknologi mana yang harus dikembangkan. “Ini bisa membuat proyek tersebut menghabiskan investasi besar dalam waktu yang panjang namun tidak berdampak banyak untuk bisnis,” tutup Irzan.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya)

This post Upaya Kata.ai Menuju Generasi Artificial General Intelligence di Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

%d blogger menyukai ini: